PADEK.JAWAPOS.COM - Jika daerah yang terdampak bencana irigasi banyak yang mati, Padangpariaman berbeda. Irigasi Anai II yang bertahun-tahun kekeringan. Justru dialiri air pascadaerah itu dilanda banjir dan longsor di akhir 2025. Namun, petani tetap ragu mengambil keputusan bersawah lagi.
Beberapa tahun ke belakang, sebelum air kembali mengalir, kekeringan menjadi cerita yang berulang. Parit-parit mengering. Petani yang sebelumnya menggantungkan hidup pada padi, perlahan meninggalkan tradisi itu. Sawah dianggap tak lagi menjanjikan. Inilah yang dirasakan petani di wilayah yang dialiri Irigasi Anai II. Salah satunya di Kecamatan Sintuak Toboh Gadang.
Kembalinya aliran air pascabencana akhir 2025 memang disambut lega oleh masyarakat. Irigasi Anai II yang selama bertahun-tahun kering, akhirnya kembali hidup. Meskipun, belum sepenuhnya pulih. Namun bagi petani, air yang datang setengah hati justru melahirkan dilema baru. Antara harapan untuk kembali bersawah, atau bertahan dengan pilihan yang sudah teruji selama masa sulit.
Yulizar, 52, salah satunya. Ia sudah tiga tahun mengalihkan sawahnya untuk bertanam jagung. Keputusan itu harus diambilnya, untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada. “Kami tidak butuh air banyak, yang penting pasti,” katanya. “Kalau hari ini ada, besok juga harus ada,” tambah Yulizar.
Bagi sebagian orang, kembalinya air di Irigasi Anai II mungkin terlihat sebagai akhir dari masalah. Namun bagi Yulizar itu justru awal dari pertanyaan baru, apakah air ini akan bertahan? Mengingat, debit air irigasi itu masih sangat kecil.
Baca Juga: Transisi Energi Kian Mendesak, Masyarakat di Tiga Daerah Terdampak Dorong Keadilan dan Transparansi
“Irigasi ini keringnya sudah sangat lama. Mungkin sekitar 5 tahun lebih. Tapi, beberapa bulan lalu justru dialiri air. Entah ini efek bencana hujan berkepanjangan saja di akhir tahun kemarin, kita tidak tahu,” sambungnya.
Jagung masih menjadi pilihan rasional. Tanaman ini lebih tahan terhadap keterbatasan air, masa tanamnya lebih singkat, dan biaya perawatannya relatif lebih rendah. Di tengah ketidakpastian, jagung memberi kepastian yang cukup untuk bertahan.
“Waktu irigasi kering, tidak ada pilihan lain. Jagung alternatif terbaik. Kalau tetap tanam padi, sudah pasti gagal,” kata Reniati, 45, salah seorang petani di Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang itu.
Kini, ketika air mulai kembali, Reni justru tidak serta-merta kembali ke sawah padi. Ia berdiri di antara dua dunia. Pasalnya, lahan jagung menjadi sandaran utama sekarang. “Tapi bertanam padi saya masih ragu,” ungkapnya.
Keraguan itu bukan tanpa alasan. Ia masih mengingat betul masa ketika ia mencoba mempertahankan padi di tengah krisis air. Tanaman menguning sebelum waktunya, bulir tidak terisi sempurna, dan panen berakhir dengan kerugian.
“Modal sudah keluar, tenaga sudah habis, tapi hasil tidak ada. Itu yang membuat kami takut mengulang bersawah lagi,” sambung Reni.
Masih di nagari yang sama, Arman Irwansah, 38, seorang petani yang tampak menata karung-karung pupuk di gubuk kecil miliknya. Ia termasuk generasi petani yang lebih muda, yang mencoba membaca perubahan dengan cara berbeda.
Baginya, keputusan bertahan di jagung bukan sekadar soal kebiasaan, tetapi juga strategi. “Kami harus hitung risiko. Padi memang lebih bernilai, tapi kalau gagal, kerugiannya juga besar,” hematnya. (apg)
Editor : Adriyanto Syafril