Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Saat Padel Mulai Bikin ”Demam” Penggemar Olahraga, Ngopi dan Bincang Bisnis setelah Bakar Kalori

Irfan R Rusli • Sabtu, 25 April 2026 | 10:15 WIB
Salah seorang warga Kota Padang menjaga kebugaran fisiknya dengan bermain padel di Lapangan Muaro Padel, Kamis (23/4). (IRFAN RUSLI/PADEK)
Salah seorang warga Kota Padang menjaga kebugaran fisiknya dengan bermain padel di Lapangan Muaro Padel, Kamis (23/4). (IRFAN RUSLI/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM - Sore mulai turun di kawasan Batang Arau, namun aktivitas di Muaro Padel justru semakin ramai. Suara bola yang dipukul bergantian memantul ke dinding kaca, berpadu dengan tawa para pemain yang tampak menikmati permainan. Di luar lapangan, suasana tak kalah hidup.

DERETAN kursi yang mengelilingi arena terisi oleh pengunjung ada yang menunggu giliran bermain, ada pula yang datang bersama pasangan, keluarga, bahkan anak-anak.

Keberadaan area khusus anak membuat tempat ini terasa ramah keluarga. Sementara itu, di sisi lain, beberapa pengunjung tampak santai duduk sambil menyeruput kopi dan minuman dingin dari kafe yang tersedia di dalam kompleks. Kursi-kursi yang ada tak sekadar menjadi tempat menunggu, tetapi juga menjelma ruang interaksi tempat orang berbincang, membangun relasi, hingga sekadar melepas penat.

Ditambah lagi dengan fasilitas penyewaan raket serta outlet perlengkapan padel, kawasan ini menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar olahraga. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana padel mulai mengambil tempat di Kota Padang.

Namun di balik popularitasnya, muncul pertanyaan. Apakah padel benar-benar olahraga baru yang inklusif, atau justru berkembang menjadi simbol gaya hidup elit?

Bagi Alan, 33, seorang wiraswasta asal Padang, padel menawarkan lebih dari sekadar aktivitas fisik. Sebelum mengenal olahraga ini, ia rutin menjalani latihan di gym hingga empat kali dalam seminggu. Namun sejak pertengahan 2025, ia mulai beralih ke padel dan kini bermain sekitar dua kali dalam seminggu.

“Dulu saya lebih sering gym, tapi padel ini beda. Selain sehat, kita bisa ketemu banyak orang baru,” ujarnya kepada Padang Ekspres, Kamis, (23/4).

Alasan utamanya bermain padel adalah peluang untuk memperluas jaringan. Sebagai pelaku usaha, relasi menjadi hal penting yang terus ia kejar. “Di sini kita bisa ketemu rekan bisnis yang tidak disangka-sangka. Jadi bukan cuma olahraga, tapi juga membuka peluang,” katanya.

Ia menilai padel merupakan perpaduan antara kebutuhan kesehatan dan gaya hidup sosial. Dalam suasana yang santai dan terbuka, interaksi menjadi lebih mudah terbangun.

“Culture space-nya mendukung. Kita main, ngobrol, dan dari situ bisa berkembang jadi relasi,” tambahnya.

 

Soal biaya, Alan menganggapnya relatif. Sewa lapangan Rp 250 ribu per jam. Tapi kalau dibagi empat orang, masih terjangkau. Apalagi yang dicari bukan cuma olahraga. Rasanya lebih worth it.

Pandangan serupa datang dari Kiki Irene, 24, mahasiswa di Padang. Awalnya hanya ikut-ikutan, namun lama-kelamaan menjadi rutinitas yang menyenangkan. “Ternyata seru. Tidak terlalu berat, tapi tetap bikin aktif,” ujarnya.

Bagi Kiki, daya tarik padel terletak pada suasana yang lebih santai dibandingkan olahraga lain. “Di sini itu vibes-nya beda. Kita bisa main, tapi juga bisa ngobrol lama. Habis main biasanya lanjut nongkrong,” katanya.

Sebagai mahasiswa, ia tidak menampik bahwa biaya bermain perlu diperhitungkan. Namun dengan sistem patungan, menurutnya masih bisa dijangkau.

Wadah Kolaborasi

Politikus pun ikut bermain padel. Salah seorangnya Rachmad Wijaya, anggota DPRD Kota Padang. Menurutnya, padel memiliki karakter unik dibanding olahraga lain. Gerakannya mirip tenis, namun menggunakan lapangan lebih kecil serta dilengkapi dinding kaca yang membuat bola tetap bisa dimainkan.

Ia menilai olahraga ini tidak memerlukan teknik yang terlalu rumit seperti tenis, tetapi tetap memberikan tantangan fisik. “Nggak perlu teknik sesulit tenis, tapi tetap bikin keringetan. Seru buat yang baru mulai, tapi juga menantang buat yang udah jago,” katanya yang kerap bermain di Glasshaus.

Rachmad mengungkapkan, dirinya mulai rutin bermain padel sejak sekitar delapan bulan lalu. Kini, ia bermain dua hingga tiga kali dalam sepekan

“Biasanya malam sepulang kerja atau weekend pagi. Kalau lagi ada turnamen komunitas, bisa sampai empat kali seminggu,” jelasnya.

Sebelum mengenal padel, ia aktif di sejumlah olahraga seperti futsal, sepak bola, mini soccer, golf hingga boxing. Namun saat ini, aktivitas tersebut mulai berkurang karena padel dinilai lebih menarik. “Sekali main bisa 1,5 sampai 2 jam, nggak terasa. Memang nagih,” ungkapnya.

Ia menilai padel tidak hanya sekadar olahraga, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Aktivitas ini mampu menggabungkan kebutuhan olahraga dan interaksi sosial dalam satu waktu.

“Di lapangan kita bakar kalori, adu strategi, refleks diasah. Tapi habis main, kita duduk bareng, ngopi, cerita kerjaan,” katanya.

Ia mengaku mendapatkan manfaat secara langsung dari sisi sosial dan profesional. “Saya sendiri sudah beberapa kali dapat klien bisnis justru dari ngobrol di pinggir lapangan,” ujarnya.

Selain itu, komunitas padel juga kerap menggelar kegiatan positif seperti turnamen yang disertai penggalangan donasi. Ia berharap padel dapat menjadi wadah kolaborasi bagi generasi muda di Kota Padang

Dari Lingkaran Pertemanan

Mulai ramainya peminat padel tak hanya berhenti di Padang. Payakumbuh juga. Jika di kota pesisir ini padel berkembang sebagai bagian dari gaya hidup urban dan ruang relasi, di Payakumbuh olahraga ini tumbuh dengan pendekatan yang lebih komunitas.

Berdasarkan pantauan Padang Ekspres Rabu malam (11/3), suasana di Break House Arena Padang Tongah, Koto Nan Ompek Payakumbuh tampak tak kalah hidup. Lapangan padel yang berada dalam satu kawasan dengan mini soccer itu diterangi lampu sorot, menciptakan atmosfer bermain yang hangat di tengah malam. Di sekelilingnya, tersedia area duduk sederhana, sementara di bagian lain terdapat coffee shop yang menjadi tempat berkumpul para pengunjung.

Kompleks ini dirancang multifungsi menggabungkan olahraga dan ruang santai. Kehadiran lapangan mini soccer, kafe, serta fasilitas pendukung lainnya membuat tempat ini menjadi pusat aktivitas baru bagi anak muda hingga komunitas olahraga di Payakumbuh.

Meski kota ini tidak sebesar Padang, antusiasme terhadap padel terlihat cukup tinggi. Bahkan pada malam hari, lapangan tetap dipadati pemain yang datang bersama teman atau komunitas kecil mereka.

 

Padel sendiri merupakan olahraga raket yang menggabungkan unsur tenis dan squash. Permainannya dilakukan di lapangan berdinding kaca dan cenderung lebih mudah dipelajari, sehingga cepat diminati berbagai kalangan.

“Biasanya saya main dua kali seminggu di sini. Menurut saya padel bukan sekadar tren yang viral sebentar lalu hilang. Justru makin lama makin banyak yang tertarik mencoba,” ujar Dina, 26, salah seorang pemain yang rutin datang ke Break House Arena.

Menurutnya, kemudahan permainan menjadi salah satu faktor utama. “Kalau tenis butuh waktu belajar lebih lama. Tapi padel, baru beberapa kali main saja sudah bisa menikmati. Itu yang bikin orang betah,” katanya.

Hal serupa disampaikan Sadik, 26, yang mulai mengenal padel dari lingkaran pertemanannya. Ia mengaku kini cukup sering bermain, terlebih karena fasilitas di Payakumbuh masih terbatas

“Sejak kenal padel, saya sering main di sini. Soalnya memang satu-satunya tempat ya di sini,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat Break House Arena menjadi titik berkumpulnya para penggemar padel di Payakumbuh. Tidak hanya pemain berpengalaman, tetapi juga pemula yang tertarik mencoba olahraga ini. (cr7/yud)

Editor : Adriyanto Syafril
#olahraga #Padel