Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Korbankan Kepentingan Pribadi demi Kebaikan Bersama

Adriyanto Syafril • Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:10 WIB
Guru Besar Pendidikan Agama Islam UNP, Alfurqan.
Guru Besar Pendidikan Agama Islam UNP, Alfurqan.

Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada 27 Mei 2026, Guru Besar Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Padang (UNP) Alfurqan mengingatkan, masyarakat agar tidak memaknai ibadah kurban sebatas penyembelihan hewan semata, melainkan sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial dan melepaskan “kemelekatan” terhadap hal-hal duniawi.

Menurutnya, tantangan masyarakat saat ini bukan lagi memahami sejarah kurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, tetapi bagaimana mengambil nilai dan hikmah kurban dalam kehidupan modern.

“Persoalan kita hari ini adalah kemelekatan. Ketika harta, jabatan, atau kekuasaan sudah terlalu melekat dalam diri seseorang, maka rasa peduli kepada orang lain menjadi sulit tumbuh,” ujarnya, sebagaimana dikutip dalam laman resmi UNP.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan “Kata Pakar” yang digagas Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis UNP di Gedung Pusat Informasi dan Perpustakaan UNP, Kamis (21/5). Selain itu, ia juga mengkritisi fenomena masyarakat yang sering terjebak pada memuat fiqih tanpa memahami substansi ajaran kurban itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa dalam persoalan fiqih terdapat banyak penafsiran dan perbedaan pendapat yang seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.

“Kita sering merasa pendapat kelompok kita yang paling benar. Padahal para ulama besar mazhab saja tidak pernah saling menyalahkan. Yang penting adalah memahami dasar dan substansinya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, hakikat kurban sesungguhnya terletak pada kepuasan kepada Tuhan dan kesediaan berbagi kepada sesama. Dalam konteks kekinian, nilai pengorbanan itu dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial, membantu masyarakat yang membutuhkan, hingga keberanian mengorbankan kepentingan pribadi demi kebaikan bersama.

“Kurban hewan adalah bentuk ibadah khusus, sedangkan pengorbanan adalah nilai besar yang harus hidup sebelum, saat, dan sesudah penyembelihan itu dilakukan. Maka orang yang berkurban seharusnya tidak hanya membagi daging, tetapi juga belajar membagi hati, rezeki, kuasa, kenyamanan, dan kepentingan dirinya untuk kemaslahatan yang lebih luas,” katanya.

Dalam diskusi bersama wartawan tersebut, Alfurqan juga menyinggung pentingnya memandang kurban sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial. Ia menilai pendistribusian daging kurban sebaiknya lebih memperhatikan wilayah yang benar-benar membutuhkan, termasuk daerah terdampak bencana maupun kawasan dengan keterbatasan pangan.

Menurutnya, tidak ada larangan dalam ajaran Islam untuk mendistribusikan daging kurban ke daerah lain selama tujuan utamanya memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. “Esensi kurban itu bagaimana manfaatnya bisa dirasakan orang lain, terutama yang membutuhkan. Jadi dalam konteks kebencanaan atau daerah dengan distribusi makanan terbatas, itu justru sangat relevan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Alfurqan juga menyoroti perubahan sosial masyarakat modern yang menurutnya semakin individualistis. Ia menilai semangat mengorbankan dan kontrol sosial di lingkungan masyarakat mulai melemah karena orang lebih sibuk dengan kepentingannya masing-masing.

 

“Sekarang orang cenderung sibuk dengan dirinya sendiri. Padahal pengorbanan itu juga bisa berupa waktu, tenaga, pikiran, bahkan keberanian untuk peduli terhadap lingkungan sekitar,” katanya.

Ia menambahkan, nilai pengorbanan sejatinya tidak hanya hadir saat Idul Adha melalui penyembelihan sapi atau kambing, tetapi juga dalam tindakan membantu sesama, berbagi rezeki, memberi nasehat, hingga berkontribusi bagi masyarakat.

“Pengorbanan itu maknanya luas.Membantu orang dengan tenaga, pemikiran, nasihat, atau kepedulian sosial juga bagian dari pengorbanan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama Alfurqan juga mendorong adanya digitalisasi dalam pengelolaan dan pendistribusian kurban agar lebih tertata, transparan, dan tepat sasaran. “Ke depan, pendistribusian kurban bisa memanfaatkan teknologi digital, misalnya penerima data dibuat lebih jelas, menggunakan barcode atau sistem by name by address sehingga pembagian lebih tertib dan tepat sasaran,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi juga dapat mendukung konsep distribusi yang lebih ramah lingkungan dan efisien, mengingat plastik pembungkus daging kurban sering kali menjadi beban lingkungan. Oleh karena itu, pengurus masjid maupun panitia kurban perlu memikirkan alternatif terkait pengurangan sampah plastik dalam mendukung program ekologi hijau, seperti mendorong masyarakat menggunakan wadah sendiri. Selain lebih ramah lingkungan, skema ini juga dinilai mampu mengurangi antrean panjang di masjid atau mushala saat proses pembagian daging kurban. (rel)

Editor : Adriyanto Syafril
#hari raya idul adha #Nan Padek