Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dunia Penerbitan dan Ketersediaan Bahan Bacaan di Sumatera Barat

Adriyanto Syafril • Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:45 WIB
Sudarmoko.
Sudarmoko.

Penulis : Sudarmoko - Dosen pada Departemen Sastra dan Budaya Unand

Sejumlah kritikus sastra telah menunjukkan posisi dan kontribusi para penulis dalam ranah kesusasteraan Indonesia. Para kritikus seperti Alberta Joy Freidus, Teeuw, Nigel Phillips, Faruk, Suryadi, Sastri Sunarti, telah mengkaji karya-karya dan penulis dari Sumatera Barat dan juga dunia penerbitan yang pernah berdiri.

Kelahiran para penulis tidak dapat dipisahkan dari dunia penerbitan yang berkembang. Selain menulis karya, ketersediaan bahan bacaan merupakan sebuah kebutuhan yang saling mengisi.  

Dalam bidang kebudayaan, Sumatera Barat sangat didukung oleh kekayaan sastranya, baik sastra lisan maupun sastra tulis. Kedua jenis sastra ini memiliki ruang penyampaian yang berbeda, namun memiliki sejumlah irisan di beberapa bagiannya. Sastra lisan atau seni tutur sebagian besar disampaikan melalui pertunjukan atau prosesi dan upacara. Sastra lisan ini dikenal luas oleh masyarakat, bahkan menjadi salah satu keterampilan yang harus dikuasai. Misalnya saja pasambahan yang menjadi bagian penting dalam upacara adat. Demikian juga dengan penonton yang sudah akrab dengan berbagai cerita, kaba, tambo, dan lainnya, karena sering menyaksikan pertunjukan.

Sastra modern atau sastra tulis juga tidak bisa dilepaskan dari sastra lisan. Pada awal-awal cerita tulis berkembang, cerita-cerita yang berangkat dari sastra lisan, baik itu berupa saduran, alih wahana, alih aksara, terjemahan, atau pengembangan cerita, terus dikembangkan oleh para penulis. Media cetak menjadi salah satu irisan dari kedua jenis sastra ini. Kita masih dapat membaca cerita-cerita klasik atau cerita rakyat Minangkabau yang dicetak ulang, hingga bentuk lain pengembangannya. Kristal Multimedia merupakan salah satu penerbit yang masih setia menerbitkan kaba-kaba klasik Minangkabau, dan menjadi bahan bagi para pembaca, khususnya generasi muda di sekolah-sekolah untuk mengenal cerita-cerita tersebut.

Penerbit dan Peran Pentingnya

Penerbit lokal di Sumatera Barat memiliki peran penting dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai adat dan budaya. Beberapa penerbit yang kita kenal misalnya Penjiaran Ilmoe, NV Kedjora, NV Nusantara, Limbago, Pustaka Sja’adijah, Pusaka Indonesia, Sri Dharma, hingga Citra Budaya Indonesia, telah memberikan bahan bacaan bagi masyarakat luas. Mulai dari buku-buku teks pelajaran sekolah, kitab-kitab untuk Pendidikan pesantren, karya sastra, hingga bacaan umum. Para penerbit inilah yang mengatasi masalah distribusi buku yang terbatas masuk ke Sumatera Barat sehingga kita tetap dapat membaca dan mengisi kebutuhan pengetahuan.

Peran penting yang diemban oleh para penerbit di atas memang bukan hanya melulu urusan bisnis. Mereka juga memiliki visi dan misi untuk menyediakan bahan bacaan yang berguna untuk membangun intelektualitas dan pengetahuan masyarakat. Para pendiri penerbit itu sebagian besar adalah para tokoh terkemuka yang mempunyai pandangan akan pentingnya dunia literasi dan ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh seperti Anwar Sutan Saidi, Rustam Anwar, amar Djaja, Aziz Thaib, Soewardi Idris, atau juga Azhar Muhammad, sebagian dari mereka yang aktif dalam dunia perbukuan dan penerbitan, mendedikasikan perhatian mereka pada ketersediaan bahan-bahan bacaan ini.

Pengaruh gelombang perpidahan tokoh-tokoh penting setelah kemerdekaan Indonesia memang, sedikit banyak, memengaruhi dunia penerbitan di Sumatera Barat. Alat-alat produksi, toko buku, daya beli pasar, penulis, dan faktor lainnya mengubah lanskap dunia penerbitan. NV Nusantara yang pada awalnya menjadi penerbit yang diincar oleh para penulis terkenal di Indonesia, sebagai contoh, kemudian meredup reputasinya. Keberadaan HB Jassin, Navis, Soewardi Idris, dan juga Rustam Anwar yang menjadi redaksi mungkin mengalami kekhawatiran terkait dengan distribusi dan pasar yang ada. Meskipun menjadi penerbit bereputasi, namun pasar adalah persoalan lain yang dihadapi oleh para penerbit.

Pembaca dan Sirkulasi Bacaan

Jika ditimbang dengan logika sederhana, jumlah buku yang diterbitkan atau beredar sangat jauh dari jumlah penduduk yang ada. Kita tidak tahu pasti apa penyebab serapan buku tidak begitu massif di tengah-tengah masyarakat. Kehadiran toko buku di Sumatera Barat, yang dapat dijadikan ukuran untuk melihat fenomena ini, semakin lama semakin menyusut. Meskipun platform online pasar buku menjadi variabel tersendiri, namun peredaran buku ini masih sangat minim. 

 

Pengalaman saya dalam membaca buku-buku klasik dan penting di Sumatera Barat menunjukkan bahwa konten-konten lokal sebenarnya sangat mendesak untuk diterbitkan ulang atau ditulis dalam bentuk baru. Pasar buku lokal, misalnya di Sumatera Barat, dapat diisi dengan keberadaan penerbit yang ada di provinsi ini, dengan mengajak para penulis atau peneliti untuk menyediakan naskah-naskah yang bermutu dan menarik minat masyarakat. Hal ini dapat dijadikan sebagai respons atas dominasi dan juga hegemoni penerbit-penerbit dan para penulis dari berbagai daerah di luar Sumatera Barat yang menghasilkan bahan-bahan bacaan yang dikonsumsi oleh penduduk di Sumatera Barat.

Taman-taman bacaan masyarakat yang kini bergerak aktif juga dapat dibaca sebagai respons atas kondisi pembaca. Membaca sebagai sebuah aktivitas intelektual, rekreatif dan kreatif perlu dipromosikan. Zaman yang menuntut ketergesa-gesaan perlu diimbangi dengan aktivitas yang memerlukan pendalaman. Membaca dapat membantu kita untuk berimajinasi, mengapresiasi, dan membentuk kesadaran baru atas berbagai persoalan. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Nan Padek