Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bertutur tentang Guru Bangsa, Mengintervensi Ruang Publik: Hidupkan Gagasan Syafii Maarif lewat Naratif Musikal

Ganda Cipta • Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:30 WIB
Penampilan grup Talago Buni dengan narator Andria C Tamsin dalam Bertutur tentang Guru Bangsa Kaba Kebangsaan dari Minangkabau di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padangpanjang, Minggu (31/5) malam lalu. (DOK NONI UNTUK PADEK)
Penampilan grup Talago Buni dengan narator Andria C Tamsin dalam Bertutur tentang Guru Bangsa Kaba Kebangsaan dari Minangkabau di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padangpanjang, Minggu (31/5) malam lalu. (DOK NONI UNTUK PADEK)

Saat politik kekuasaan menjadi liar karena sepinya visi masa depan, maka seni harus tampil ke depan untuk menjinakkan. Politik itu liar saudara-saudara, kalau tidak punya visi moral. Tidak punya kepekaan terhadap sesuatu yang indah. Ada sesuatu the power of beauty, keperkasaan keindahan.

Laporan : Ganda Cipta

Pada 16 Maret 2015, pernyataan tersebut disampaikan Ahmad Syafii Maarif ketika memberi kuliah umum di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Ketua Program Studi Teater ISI Padangpanjang Dede Pramayoza membacakan kembali sebagian narasi kuliah umum itu dengan dramatis di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padangpanjang, Minggu (31/5) malam lalu.

Pembacaan itu mengawali “Bertutur tentang Guru Bangsa Kaba Kebangsaan dari Minangkabau” yang diinisiasi Maarif Institute, ISI Padangpanjang, dan Talago Buni. Sebuah pagelaran budaya untuk memperingati bulan lahir dan wafatnya Ahmad Syafii Maarif, sekaligus mengenang pemikiran dari sosok Guru Bangsa yang lahir 31 Mei 1935 dan wafat 27 Mei 2022 ini.

Sekelumit perjalanan hidup Buya Syafii –begitu dia akrab disapa— dari kampung halamannya di Sumpurkudus, Kabupaten Sijunjung, hingga menjelajahi perantauan serta fragmen-fragmen pemikirannya semasa hidup disajikan lewat pendekatan seni pertunjukan yang diperkaya dengan multimedia dalam bentuk video art sebagai visual background.

Salah satunya cuplikan tulisan Buya, Nagari Rancak di Labuah yang terbit di Kompas pada 10 November 2022. Sebagai narator, Andria C Tamsin membawakannya dengan puitis dan bertenaga.

Begini isinya. Republik kita dapat diibaratkan seperti sebuah restoran, bersih, mentereng, dan gagah di bagian depan, tetapi jorok dan berantakan di bagian dapur. Dalam bahasa Minang kondisi ini dapat diungkapkan seperti ’rancak di labuah” (tampak elok di jalan, tetapi di rumah sebenarnya manusia papa). Atau, mentereng di luar, remuk di dalam.

Tentu perbandingan ini tidak selalu tepat, karena ada bagian-bagian yang cukup bagus di dapur republik ini, sekalipun mungkin baru berupa riak-riak kecil. Namun gelombang besarnya adalah seperti gambaran restoran itu, yang hanya terlihat rancak di labuah saja. Reformasi sudah berjalan selama 23 tahun, yang semula mengusung slogan anti-KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), namun KKN tetap menjadi penyakit sosial, bahkan semakin kambuh dari waktu ke waktu.
Panorama rancak di labuah atau “mentereng di luar, remuk di dalam” adalah penyakit sosial kronis yang menipu kita selama ini.

Pernyataan yang tajam dan menohok seperti itu pernah juga disampaikan Syafii pada Peringatan Hari Jadi ke-76 Sumbar tahun 2021. Ia mengatakan, kelemahan kita sebagai bangsa karena defisitnya jumlah negarawan di semua tingkat. Pepatah-petitih, adat basandi syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai, masih menggantung di awan tinggi.

Pendapatan Asli Daerah Sumatera Barat yang sangat terbatas, tekannya, harus pandai-pandai memainkan kartu diplomasinya terhadap Pemerintah Pusat sebagai distributor pembangunan. Kekakuan dalam bersikap hanya punya satu risiko, daerah akan terlantar dalam proses pembangunan, yang sangat diperlukan rakyat kecil, yang nafasnya masih terengah-engah. Ungkapan adat basandi syarak basandi kitabullah, barulah punya makna apabila kantong-kantong kemiskinan bisa dibenahi secara sungguh-sungguh, dan korban narkoba semakin berkurang.

 

“Akhirnya, kepada para politisi di Sumatera Barat, yang begitu mahir merangkai kata dan kiasan, saya mohon agar kemahiran itu digunakan untuk tujuan-tujuan yang besar bagi kepentingan rakyat secara keseluruhan,” ucapnya saat itu.

Sebagai Guru Bangsa, pemikiran-pemikiran Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1988-2025 ini, diakui berbagai kalangan. Bahkan tidak hanya di tanah air.

Dalam cuplikan video Takziah Virtual yang ditampilkan pada bagian belakang panggung, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan, “Saya, Buya Syafii dan WS Rendra bertemu dalam sebuah acara tempatan di Batu Malang, dan mendengar sendiri kupasan Buya Syafii tentang Islam. Tentang tantangan zaman. Beliau sedang merumuskan pandangan tentang politik dan pendekatan Islam yang sederhana dengan menempatkan budaya dan masyarakat yang bukan hanya mewakili Indonesia, tetapi dunia alam melayu keseluruhan. Islam yang universal dan rahmatan lil alamin. Islam yang bertapak kepada tuntutan zaman dan budaya tempatan. Jadi kupasan beliau sangat kaya dengan ilmu dan pengetahuan tentang masyarakat Indonesia dan Islam.”

Juga dalam Takziah Virtual, cendekiawan muslim Indonesia Azyumardi Azra menyebut, Buya Syafii memberikan perhatian pada praktek-praktek yang mengatasnamakan agama Islam, tapi tidak sesuai dengan Islam. Beliau tidak sungkan-sungkan menggunakan diksi-diksi yang tidak semua orang berani menggunakannya, seperti “Preman Berjubah”. Diksi yang kencang banget, tapi Buya tenang-tenang saja. Mungkin karena sikap kritis terhadap umat itulah maka oleh sebagian dari mereka mencerca dan mencacinya. 

Fragmen-fragmen hidup dan pemikiran-pemikiran Buya Syafii yang disampaikan lewat narator dan video art tersebut dibalut kuat dengan sejumlah komposisi world music dari Talagoni Buni. Edy Utama sebagai artistic director-nya.

Didendangkan dalam bentuk bakaba dengan instrumen musik bernuansa Minangkabau. Ada bermacam alat tiup seperti saluang, sarunai, dan pupuik. Ada juga perkusi logam dan kulit semisal talempong dan gandang tambua. Serta, irama dendang yang diangkat dari repertoar lagu saluang dendang Minangkabau.
Kenapa konsep pertunjukan semacam ini jadi pilihan? Ia menjelaskan, dari kompleksitas dan kekayaan pikiran Syafii Maarif, tidak mungkin ditransformasikan dalam bunyi saja. Bunyi tidak cukup untuk menjelaskannya.

“Pemikiran-pemikiran Buya itu perlu disampaikan secara lebih jelas. Pada akhirnya kita memilih naratif itu yang kemudian diperkuat dengan suasana musikal,” tuturnya.

Kalau kita hanya memainkan musik, sebut dia, tidak mungkin juga untuk menjelaskan berbagai gagasan-gagasan Buya Syafii lebih detail dan belum tentu pula bisa dipahami. Karena bunyi atau musik itu bersifat universal. Setiap orang bebas menafsirkannya.

“Sementara kita ingin mengintervensi ruang publik dengan berbagai gagasan-gagasan Buya. Itu yang kita anggap penting dalam kehidupan kita sekarang. Minimal dalam membangun harapan baru untuk bangkit,” tuturnya. 

 

Buya Syafii, sambung Edy, sebetulnya juga seorang “provokator” dari pikiran-pikirannya untuk mendorong orang agar jangan bersikap diam. Tetapi juga harus melakukan perlawanan terhadap hal-hal yang bentuknya kezaliman.

“Provokasi pikiran Buya itu saya kira positif. Sangat konstruktif. Karena dia menawarkan juga berbagai solusi untuk bisa dijalankan. Baik soal Pancasila, demokrasi, juga kemanusian,” katanya.

Ketua Maarif Institute Andar Nubowo yang hadir pada kesempatan tersebut mengungkapkan, acara ini sangat relevan dalam konteks sekarang. Ketika narasi-narasi politik agama disampaikan dengan pendekatan biasa saja, sehingga jadi kurang efektif.

“Maka saya kira perlu dicari cara baru untuk menyampaikan pesan-pesan Buya Syafii melalui kesenian,” ucapnya.

Dia pun menilai, pertunjukan ini terasa hidup. “Saya seperti merasakan Buya itu hadir di depan kita menyampaikan pesan-pesannya secara genuine,” tukasnya. (***)

Editor : Adriyanto Syafril
#Nan Padek