Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Upertis Sosialisasikan Komunikasi Lintas Budaya dalam Konsep Multikulturalisme

Hendra Efison • Selasa, 24 Januari 2023 | 10:34 WIB
Photo
Photo
Komunikasi lintas budaya cenderung diwarnai adanya masalah konflik antaretnis. Hal ini disebabkan kurangnya sikap terbuka menerima perbedaan dan sikap etnosentrisme yang berlebihan oleh masing-masing etnis. Untuk menciptakan hubungan interaksi sosial dan komunikasi yang harmonis antaretnis, diperlukan keterlibatan berbagai pihak dalam mensosialisasikan bagaimana berkomunikasi yang efektif, sehingga menghasilkan corak komunikasi lintas budaya yang terhindar dari masalah konflik antaretnis, baik konflik skala kecil ataupun besar.

Komunikasi lintas budaya memiliki kaitan yang erat dengan kalangan remaja karena kepada merekalah harapan dan cita-cita negara disandarkan. Untuk menghasilkan generasi yang siap menghadapi tantangan era sekarang ini maka kalangan remaja terutama mahasiswa perlu diberikan edukasi atau sosialisasi terkait pentingnya pemahaman komunikasi lintas budaya.

“Untuk itu, kami dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ekonomi Bisnis dan Ilmu Sosial, Universitas Perintis Indonesia (UPERTIS), Indonesia melakukan kerja sama dengan Fakultas Sains Pentadbiran dan Pengajian Polisi, Universiti Teknologi Mara (UTM) Malaysia, dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan 5 Januari 2023 lalu. Media bahasa dalam kegiatan ini menggunakan bahasa Inggris, bahasa Melayu dan bahasa Indonesia,” ungkap Ketua Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) Delpa SS MSc PhD, Selasa (24/1/2023).

Pengabmas dengan anggota Putri Dian Afrinda MPd dan Dr Iswadi Bahardur MPd memberikan judul kegiatannya Sosialisasi Komunikasi Lintas Budaya Menggunakan Pendekatan Multikulturalisme Terhadap Mahasiswa Universiti Teknologi Mara, Malaysia. Kegiatan ini melibatkan peserta dari mahasiswa kedua perguruan tinggi mencapai 200 orang yang dilaksanakan via virtual microsoft team.

Dalam kegiatan itu, pemateri mendorong agar setiap indivitu atau kelompok sosial terutama kalangan mahasiswa perlu membangun komunikasi yang berbasiskan multikuturalisme dengan memberikan ruang dan peluang kepada orang lain untuk mengekspresikan budaya dan identitinya (culture identity) tanpa diwarnai sikap persepsi negatif (stereotaip) dan sikap primordial kedaerahan yang berlebihan.

Artinya, setiap etnis perlu menyesuaikan diri (adaptation act) dalam berkomunikasi sehingga tidak memicu munculnya sikap etnosentrisme yang mengagung-agungkan budaya sendiri. Senada dengan pepatah Minang Di mano Bumi Dipijak, Di sinan Langik Dijunjuang (Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung).

Pepatah ini menjelaskan agar setiap individu atau kelompok masyarakat perlu memiliki wawasan luas dan terbuka menerima perbedaan dalam menyesuaikan diri dalam berinteraksi dan berkomunikasi dalam masyarakat yang berbagai budaya (multikulturalisme).

Delpa menjelaskan bahwa masyarakat Malaysia terdiri dari tiga etnis mayoritas, yakni Melayu, India, dan Cina. Tiga etnis ini di Malaysia dapat hidup rukun dan harmonis meskipun mereka memiliki corak budaya dan latar belakang agama yang berbeda.

Masyarakat Melayu yang mayoritas menganut agama Islam dalam berkomunikasi lintas budaya dengan kaum Cina yang mayoritas Budha dan India kebanyakannya menganut agama Hindu. Kerukunan dan keharmonisan ini dapat dicapai karena adanya saling menghargai dan menghormati perbedaan yang wujud pada masing-masing etnis tersebut.

Bersamaan dengan itu, masyarakat Indonesia juga memiliki latar belakang etnis dan budaya yang berbeda yang menyebar di seluruh Nusantara. Koentjaraningrat (1987) dalam bukunya menjelaskan masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai etnis seperti etnis Jawa, Batak, Minang, dan berbagai lagi etnis yang hidup saling berdampingan hidup rukun. Keharmonisan ini disebabkan karena adanya semangat kekitaan dalam menjalin komunikasi lintas budaya yang efektif.

Salah satu uraian yang cukup menarik disampaikan pemateri yakni berkaitan dengan masalah yang sering muncul dari masyarakat multikulturalisme, yakni persaingan, jarak sosial, dan konflik. Persaingan antaretnis dapat mengancam komunikas lintas budaya yang harmonis karena masing-masing etnis berusaha untuk menjadi pemenang dan tidak jarang pula perihal ini dalam menyebabkan terjadinya perpecahan. Menurut Agus Salim (1998). Salah satu faktor penyebab terjadinya konflik antaretnis di Indonesia adalah persaingan ekonomi dan politik sehingga dampak yang ditimbulkan dapat melahirkan jurang pemisah antaretnis.

Kegiatan Pengabmas disambut hangat oleh mahasiswa UPERTIS dan UTM. Salah seorang peserta UTM Amirul Hakimi bin MD Jamil menanyakan tentang bagaimana strategi dalam menghadapi individu yang memiliki sikap etnosentrisme yang berlebihan. Sedangkan dosen UTM, Dr Nur Zafifa binti Kamarunzaman juga mengajukan pertanyaan tentang kenapa konsep multikulturalisme dijadikan sebagai pendekatan dalam berkomunikasi lintas budaya.

Kedua model pertanyaan ini secara tidak langsung dapat memperdalam pemahaman peserta terkait materi yang dipaparkan. Adapun yang alasan yang mendasar kenapa pendekatan multikuturalisme dijadikan sebagai dasar dalam berkomunikasi lintas budaya karena dengan adanya pemahaman multikulturalisme dapat mendorong pelaku bersikap terbuka menerima kelebihan atau keistimewaan budaya individu atau kelompok lain sehingga pemahaman tersebut dapat menggiring pelaku tidak mengagung-agungkan budaya sendiri secara berlebihan.

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh pemateri terkait upaya menciptakan komunikasi lintas budaya yang efektif dengan cara bersikap terbuka menerima perbedaan dan menghindari terjadinya jarak sosial antaretnis. Sebagai penutup, kegiatan pengabmas dengan tema komunikasi lintas budaya dapat menciptakan hubungan yang harmonis di kalangan mahasiswa baik ketika berada di kampus atau pun di luar kampus. Harapannya kegiatan Pengabmas ini dapat melahirkan kesadaran di kalangan mahasiswa dalam memelihara semangat kesatuan dan persatuan sehingga dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara. (*) Editor : Hendra Efison
#Upertis #Komunikasi Lintas Budaya #etnosentrisme #Konsep Multikulturalisme #pengabdian masyarakat #Komunikasi Antaretnis