Hal ini disampaikan Nevi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan PT Inalum, PT Antam, Pertamina Power Indonesia, PLN, dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Dalam pertemuan tersebut, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyampaikan perlunya komitmen kuat dalam hilirisasi sumber daya alam untuk memperkuat rantai pasok baterai EV nasional.
“Indonesia memiliki semua sumber daya alam yang dibutuhkan untuk produksi baterai EV, kecuali teknologi dan investasi yang masih harus kita optimalkan. Oleh karena itu, penting bagi BUMN energi untuk memastikan proyek-proyek strategis masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) agar mendapat dukungan penuh dari pemerintah,” ujar Nevi Zuairina.
Selain itu, legislator asal Sumatera Barat II ini juga menyoroti pentingnya solusi berkelanjutan dalam pengelolaan limbah baterai EV.
Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, tantangan dalam mendaur ulang dan mengelola limbah baterai juga semakin besar.
Nevi meminta IBC dan mitra BUMN lainnya untuk mengembangkan sistem daur ulang baterai yang efisien serta berorientasi pada ekonomi sirkular.
“Daur ulang baterai harus menjadi perhatian utama. Kita perlu investasi yang kuat dalam teknologi daur ulang agar baterai bekas dapat dimanfaatkan kembali, mengurangi ketergantungan pada bahan baku baru, dan meminimalkan dampak lingkungan,” lanjutnya.
Dalam RDP tersebut, Nevi juga meminta kepastian dari para pemegang saham IBC terkait komitmen investasi jangka panjang serta strategi dalam mempercepat pembangunan pabrik baterai terintegrasi dengan target kapasitas 15 GWh.
Menurutnya, keberlanjutan industri ini bergantung pada pendanaan yang cukup, alih teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.
“Komitmen pemilik saham dan mitra, khususnya dari luar negeri, harus jelas. Kita tidak boleh hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi harus mampu menguasai teknologi dan produksi baterai EV dari hulu ke hilir,” tegas Nevi.
Sebagai langkah konkret, Nevi Zuairina juga mendorong kolaborasi erat antara BUMN dan Kementerian Investasi dalam menarik investasi asing.
Menurutnya, pendanaan luar negeri dapat mempercepat kemajuan proyek strategis, memastikan ketersediaan teknologi mutakhir, serta memberikan dampak nyata dalam pengembangan industri baterai EV nasional.
"Saya berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat bekerja sama untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri baterai global, sejalan dengan visi transisi energi yang berkelanjutan dan ketahanan energi nasional," pungkasnya.(*)
Editor : Heri Sugiarto