Bukan karena Ten Hag tidak menjalankan instruksinya di lapangan. Melainkan karena pemain asal Haaksbergen –10 km selatan Kota Twente– itu bersikap terlalu proaktif di ruang ganti.
”Sering kali saat jeda babak pertama, saya agak marah ke Erik karena dia mulai (berbicara kepada tim) sebelum saya memulai!” kata Rutten dalam sebuah artikel yang ditulis jurnalis Carl Anka dariThe Athletic.
Akan tetapi, dari situ pula bakat Ten Hag sebagai pelatih tercium. Yakni, ketika dia menjalani akhir karier bermain bersama FC Twente pada 2002. Ten Hag kemudian ditawari melatih tim akademi klub berjuluk The Tukkers tersebut.
Karier melatih pria kelahiran 2 Februari 1970 itu dimulai bersama tim U-17 (2002–2003), lalu tim U-19 (2003–2006), hingga menjabat asisten pelatih (2006–2009). Masing-masing mendampingi Rutten lalu Steve McClaren.
Rekam jejak itulah yang menempatkan Ten Hag dalam situasi emosional ketika membawa Manchester United menghadapi FC Twente dalammatchdaypertama fase liga Liga Europa di Old Trafford dini hari nanti (siaran langsung SCTV/beIN Sports 3/Vidio pukul 02.00 WIB).
Meski, bukan kali pertama Ten Hag berada di bench lawan FC Twente. Dia sudah sembilan kali menjalaninya di Belanda ketika menangani FC Utrecht dan AFC Ajax.
”Secara pribadi, aku sama sekali tidak suka bermain melawan FC Twente. Aku penggemar FC Twente. Jadi, (situasi) ini seperti aku harus mengalahkan klubku sendiri,” beber Ten Hag kepadaTwente Insite.
Untuk mengalahkan The Tukkers, Ten Hag tentu butuh komposisi pemain terbaik dari United. Hal yang tidak jadi prioritas mengingat Premier League masih lebih utama ketimbang Liga Europa. Sama seperti ketika menang 7-0 atas Barnsley FC dalam putaran ketiga Piala Liga di Old Trafford (18/9), pemain yang tersisih dari starting XI di Premier League bisa mendapat kesempatan starter. Antara lain winger Antony, bek tengah Harry Maguire dan Jonny Evans, hingga pemain muda Toby Collyer.
Menurut Ten Hag, hal itu tidak akan mengurangi kekuatan United karena gaya permainan United yang diinginkannya sudah konsisten ditampilkan musim ini. Yakni, mengandalkan operan danpressingtinggi. Bahkan, pada babak pertama saat United menghadapi Crystal Palace di Selhurst Park akhir pekan lalu (21/9), The Red Devils –sebutan United– berhasil menunjukkan keunggulan penguasaan bola hingga 68 persen.
Saat lawan Twente, Ten Hag perlu menyelesaikan satu PR (pekerjaan rumah), yakni penyelesaian akhir. ”Aku pikir kami bermain sangat baik dan menguasai permainan, baik ketika dan tanpa bola,” kata Ten Hag usai lawan Palace. ”Satu-satunya masalah adalah di kotak penalti dan itu menentukan. Kami seharusnya lebih klinis,” imbuhnya. (jpg/adt)
Editor : Adetio Purtama