Duel ini telah menciptakan antusiasme besar di kalangan penggemar tinju. Dengan keahlian Tyson yang tak lekang oleh waktu serta usia dan stamina Paul, banyak yang memprediksi pertarungan bakal berlangsung sengit.
Duel ini menarik perhatian karena mempertemukan Tyson, mantan juara dunia kelas berat berusia 58 tahun yang akan kembali ke ring setelah hampir dua dekade, dengan Paul, seorang influencer berusia 27 tahun yang kini serius menggeluti dunia tinju profesional.
Sejak diumumkan, laga yang akan disiarkan live di Netflix ini menuai pro-kontra dan menjadi salah satu acara olahraga yang paling dinanti tahun ini.
Pengalaman dan Usia Muda
Kembalinya Tyson ke ring membawa nostalgia bagi penggemar tinju era 80-an dan 90-an, di mana ia mendominasi kelas berat dengan kemenangan KO yang spektakuler.
Tyson masih diingat sebagai salah satu petinju paling ditakuti yang pernah ada, bersama nama-nama legendaris seperti Muhammad Ali dan Joe Frazier.
Di sisi lain, Jake Paul, yang semula dikenal sebagai bintang media sosial, kini tengah membangun reputasi sebagai petinju kompetitif, setelah sebelumnya mengalahkan sejumlah petarung seperti mantan bintang MMA, Mike Perry.
Perbedaan usia 31 tahun menjadi tantangan besar bagi Tyson, tapi dirinya tetap percaya diri bahwa pengalaman dan kekuatannya mampu mengatasi stamina serta kecepatan Paul.
Tyson, yang terakhir bertanding secara profesional pada 2005, telah menjalani latihan ketat.
Meski sudah berusia lanjut, Tyson menegaskan bahwa ia berbeda dari orang lain seusianya.
"Orang seusia saya tidak berlatih sekeras saya dan tidak sesering saya. Saya bukan 60-an biasa," ungkap Tyson seperti dilansir Marca, seraya menyebut dirinya sebagai “spesies manusia yang berbeda.”
Strategi Paul Hadapi Tyson
Jake Paul memahami reputasi Tyson dalam merobohkan lawannya secara cepat.
Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter pada awal Oktober lalu, Paul mengungkapkan bahwa ia mengantisipasi Tyson yang akan mencoba memojokkannya ke tali ring sejak awal untuk memaksakan permainan jarak dekat.
Strategi Paul dalam delapan ronde dengan durasi dua menit per ronde yang direncanakan, adalah mengandalkan footwork untuk menjaga jarak dan membuat Tyson kehilangan keseimbangan, sebelum melancarkan serangan.
"Ketika dia kehilangan keseimbangan, saat itulah saya akan maju," ujar Paul penuh percaya diri.
Komentar Daniel Cormier
Sejumlah pakar olahraga, termasuk ikon UFC Daniel Cormier, mengomentari duel Tyson dan Paul.
Cormier melihat risiko besar bagi Jake Paul yang menghadapi situasi “lose-lose” dalam pertarungan ini.
Jika Paul menang, dia mungkin menghadapi cemoohan publik karena mengalahkan idola seperti Tyson, yang dicintai penggemar di seluruh dunia.
Namun, jika kalah dan terkena KO dari Tyson, hal itu bisa menjadi “pukulan balik” terburuk dalam sejarah tinju modern.
"Jika Mike menjatuhkannya, itu akan berakhir. Itu akan menjadi kesalahan terbesar," ucap Cormier dalam acara Funky and the Champ.
"Jake mungkin memiliki keunggulan usia dan stamina, tapi Tyson masih memiliki kekuatan yang bisa mengubah pertarungan kapan saja," imbuhnya.
Cormier menyoroti stamina yang dimiliki Paul sebagai salah satu keunggulannya.
“Jake punya tenaga cadangan karena dia masih muda. Saya melihatnya saat melawan Mike Perry, ia bisa bangkit dan menyelesaikan pertandingan,” tambahnya.
Paul dianggap lebih mungkin bertahan hingga ronde akhir, tetapi Tyson punya peluang lebih besar menang jika berhasil mendaratkan pukulan KO di awal ronde.
Kesehatan yang Sempat Menurun
Awalnya, pertarungan ini dijadwalkan pada 20 Juli namun harus ditunda setelah Tyson mengalami masalah kesehatan akibat tukak lambung saat terbang menuju Los Angeles.
Tyson kemudian menjalani diet sehat dan kembali fokus pada persiapan bertanding.
“Saya makan terlalu banyak makanan tidak sehat sebelumnya, tapi sekarang sudah berubah. Saya benar-benar siap untuk pertandingan ini,” ungkapnya kepada Daily Mail beberapa waktu lalu.
Reputasi Tyson di Ring Tinju
Selama kariernya, Tyson dikenal sebagai salah satu petinju paling dominan, memenangkan 44 dari 58 pertarungan dengan KO, termasuk 24 kali kemenangan di ronde pertama.
Kecepatan dan kekuatan Tyson tak tertandingi pada puncak kariernya, dan ia berhasil menumbangkan petinju besar seperti Larry Holmes, Buster Douglas, Tony Tubbs, dan Michael Spinks.
Pertarungannya melawan Pinklon Thomas pada 1987 juga dikenang sebagai salah satu laga paling brutal dalam sejarah tinju, dengan Tyson menang KO di ronde keenam.
Kini, Tyson siap menghadapi tantangan melawan petinju muda seperti Paul, yang berada di jalur karier menanjak.
Alih-alih gentar, Tyson menantang segala kritik yang mempertanyakan kemampuannya bertanding di usia hampir 60 tahun.
“Kalian tak bisa membandingkan saya dengan orang seusia saya yang lain,” kata Tyson, menekankan bahwa ia memiliki dedikasi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang sudah lama pensiun dari dunia olahraga.
Apakah Tyson dapat membuktikan bahwa usia hanyalah angka, ataukah Paul yang akan memanfaatkan kecepatan dan strateginya untuk keluar sebagai pemenang?
Semua akan terjawab pada 15 November dalam laga yang menjanjikan ketegangan tinggi dan duel yang paling ditonton di tahun 2024.(*)
Editor : Heri Sugiarto