Rasmus Hojlund, Alejandro Garnacho, dan Bruno Fernandes mengantarkan Setan Merah meraih tiga poin penting.
Sementara itu, Leicester semakin terpuruk di zona degradasi dengan performa yang kian mengkhawatirkan.
Hojlund Akhiri Puasa Gol
Leicester City memulai laga dengan intensitas tinggi. Jamie Vardy langsung mengancam gawang Andre Onana di awal pertandingan. Begitu pula dengan Patson Daka dan Azzedine El Khannouss.
Namun, setelah tekanan awal dari The Foxes, Manchester United mulai mengendalikan permainan.
Christian Eriksen hampir membuka keunggulan lewat tembakan spektakuler yang membentur tiang gawang.
Gol yang ditunggu akhirnya datang pada menit ke-32. Bruno Fernandes mengirim umpan terobosan akurat ke Rasmus Hojlund, yang dengan cekatan mengecoh bek Leicester dan melepaskan tembakan mendatar ke sudut bawah gawang.
Gol ini menjadi spesial bagi Hojlund, karena mengakhiri puasa golnya di Liga Inggris setelah 13 pertandingan tanpa mencetak gol sejak awal Desember.
Garnacho & Fernandes Pastikan Kemenangan MU
Manchester United tetap mendominasi setelah jeda. Alejandro Garnacho sebenarnya sempat mencetak gol lebih awal, tetapi dianulir karena offside tipis.
Tapi, pemain muda asal Argentina itu tak butuh waktu lama untuk menebusnya.
Pada menit ke-58, Garnacho sukses menggandakan keunggulan MU di bawah asuhan Ruben Amorim.
Dari sisi kanan kotak penalti, ia memanfaatkan ruang kosong dan melepaskan tembakan keras yang gagal diantisipasi kiper Leicester.
Manchester United semakin menjauh pada menit ke-72. Casemiro mengirim umpan silang panjang ke Diogo Dalot di sisi kanan, yang kemudian mengoper bola ke Bruno Fernandes.
Sang kapten tidak menyia-nyiakan kesempatan dan dengan sepakan terukur, ia mengarahkan bola ke sudut bawah gawang Leicester, membuat skor menjadi 3-0.
Leicester Meningkatkan Tekanan
Meski tertinggal jauh, Leicester tidak menyerah begitu saja. Tim asuhan Ruud Van Nistelrooy terus melancarkan serangan bertubi-tubi di menit-menit akhir pertandingan.
Jordan Ayew mengambil sepak pojok yang langsung diarahkan ke dalam kotak penalti.
Harry Winks menyambut bola dengan umpan silang kembali ke tengah, namun Casemiro dengan sigap menyundul bola keluar untuk mengamankan gawang Onana.
Sundulan tersebut menghasilkan sepak pojok tambahan bagi Leicester, tapi tetap gagal mencetak gol hingga peluit akhir berbunyi.
MU Dominan atas Leicester
Kemenangan ini memperpanjang rekor dominasi Manchester United atas Leicester musim ini.
The Red Devils kini telah mengalahkan The Foxes empat kali dalam satu musim di semua kompetisi, menyamai rekor sebelumnya melawan Sheffield Wednesday (1993-1994), Chelsea (2010-2011), dan Nottingham Forest (2022-2023).
Sebaliknya, Leicester semakin terpuruk. Mereka hanya meraih satu kemenangan dalam 12 laga terakhir Liga Inggris, dengan 11 kekalahan.
Saat ini, The Foxes berada di posisi 19 klasemen, tertinggal sembilan poin dari zona aman.
Kekalahan ini juga menandai sejarah buruk bagi Leicester karena terakhir kali kalah empat kali dari tim yang sama dalam satu musim terjadi pada 1980-1981 melawan West Bromwich Albion.
Sedangkan Manchester United semakin percaya diri karena mencatatkan empat laga tak terkalahkan di Liga Inggris dan semakin optimistis setelah memastikan tempat di perempat final Liga Europa.(*)
Editor : Heri Sugiarto