Bek berusia 26 tahun itu mengalami cedera serius pada tibia, sebagaimana diumumkan oleh klub pada Senin (31/3).
Dalam pernyataan resmi, Juventus mengonfirmasi bahwa hasil tes medis yang dilakukan pada Senin pagi menunjukkan Gatti mengalami fraktur terbuka pada tulang fibula di kaki kirinya.
Cedera tersebut memaksanya meninggalkan lapangan lebih awal saat Juventus menang 1-0 atas Genoa pada Sabtu (30/3).
Laga tersebut merupakan pertandingan pertama bagi pelatih baru Igor Tudor, yang menggantikan Thiago Motta setelah serangkaian hasil buruk.
Juventus belum memberikan kepastian mengenai durasi pemulihan Gatti.
Namun, laporan media mengindikasikan bahwa sang bek kemungkinan besar akan absen selama satu bulan.
Absennya Gatti menjadi pukulan bagi Juventus yang saat ini menempati posisi kelima klasemen Serie A dengan 52 poin.
Juventus akan menghadapi AS Roma tanpa Gatti, dengan harapan bisa meraih hasil positif demi menjaga peluang lolos ke Liga Champions musim depan.
Performa Juventus dan Roma
Bianconeri mengalami performa yang tidak konsisten dalam beberapa pekan terakhir, hanya meraih dua kemenangan dan tiga kekalahan dalam lima laga terakhir di semua kompetisi.
Inkonsistensi ini telah menghambat kemajuan mereka dalam perebutan posisi empat besar.
Secara keseluruhan, Juventus mencatatkan 13 kemenangan, 13 hasil imbang, dan hanya tiga kekalahan di liga.
Dengan selisih gol +17 (45 gol dicetak, 28 kebobolan), Juventus menunjukkan keseimbangan antara serangan dan pertahanan.
Tapi, performa tandang kurang meyakinkan dibandingkan laga kandang, dengan catatan 6 kemenangan, 6 hasil imbang, dan 2 kekalahan saat bermain di luar Turin.
Dalam laga terakhirnya, Juventus meraih kemenangan tipis 1-0 atas Genoa di kandang, sebuah hasil yang sedikit mengangkat moral tim.
Namun, tantangan bagi Igor Tudor adalah bagaimana mengonversi kemenangan kandang ini menjadi performa solid saat bertandang ke markas Roma.
Tudor, yang dikenal dengan fleksibilitas taktis dan tekanan tinggi, kemungkinan akan menerapkan strategi lebih berhati-hati dan memanfaatkan serangan balik guna mengeksploitasi celah dalam permainan menyerang Roma.
Sementara itu, AS Roma memasuki laga krusial ini dengan performa impresif, setelah meraih empat kemenangan dalam lima pertandingan terakhir di semua kompetisi.
Tren positif ini mengangkat Roma ke peringkat ketujuh klasemen Serie A dengan koleksi 49 poin dari 29 pertandingan.
Catatan Roma mencakup 14 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 8 kekalahan, menandakan konsistensi yang mulai terbentuk pada momen penting musim ini.
Rekor kandang Roma di Stadio Olimpico juga cukup kuat, dengan 10 kemenangan, 1 hasil imbang, dan 4 kekalahan.
Keunggulan ini akan menjadi modal berharga saat menghadapi Juventus.
Dari sisi serangan, Giallorossi telah mencetak 44 gol, sementara pertahanannya menunjukkan ketangguhan dengan hanya kebobolan 30 gol sepanjang musim ini.
Dalam laga terakhirnya, Roma sukses mengamankan kemenangan tipis 1-0 saat bertandang ke markas Lecce, menunjukkan ketahanan dalam situasi sulit.
Konsistensi dan ketangguhan ini akan menjadi faktor penting saat mereka menghadapi Juventus yang berambisi naik ke empat besar.
Di bawah asuhan Claudio Ranieri, Roma mengadopsi strategi yang menggabungkan stabilitas pertahanan dengan serangan balik cepat dan tajam.
Pengalaman luas Ranieri serta kecerdasan taktisnya telah menjadi faktor utama kebangkitan Roma belakangan ini, dan kemampuannya dalam memotivasi pemain di laga besar bisa menjadi pembeda dalam duel kontra Juventus.(*)
Editor : Heri Sugiarto