Tim yang awalnya berdiri sebagai klub tarkam pada 2017 itu kini lebih berfokus pada futsal setelah tim sepak bola putri mereka vakum sejak 2024.
Manajer Adios FC, Rajja Rusthanja (31), mengatakan tim putri awalnya merupakan bagian dari Semen Padang Putri sebelum berpindah ke Putra Wijaya Putri.
Setelah melihat kurangnya dukungan, ia memutuskan mengambil alih tim tersebut.
“Ada pelatih saya bernama Bayu yang awalnya minta sponsor rompi untuk latihan. Karena melihat tim putrinya menghadapi jalan buntu, saya putuskan mengambil tim putri ini,” ujarnya kepada Padang Ekspres, Sabtu (17/1/2026).
Pada 2022, salah satu pemain binaan Adios FC Putri, Indah Delia Hepriyani, masuk daftar pemain panggilan Timnas Putri U-17.
Namun ia gagal bergabung karena keterlambatan paspor saat mengikuti kompetisi street soccer putri.
Vakumnya tim sepak bola putri sejak 2024 dipicu sulitnya mendapatkan lapangan latihan, bentroknya jadwal pemain, serta kendala finansial. Kondisi itu membuat Adios FC Putri memutuskan fokus pada futsal.
Untuk menunjang latihan, manajemen menyediakan bola, cone, dan rompi. Sementara sewa lapangan ditanggung dari iuran latihan sebesar Rp7.000–Rp10.000 per pemain setiap pertemuan. Rajja tidak membebankan iuran bulanan.
“Insert turnamen juga saya yang biayai. Sejauh ini finansial tim putri banyak saya tutup dengan uang pribadi, karena saya mendapat kepuasan saat melihat pemain rajin latihan dan berprestasi,” ucapnya.
Adios FC Putri kini memiliki sekitar 40 pemain binaan. Baru-baru ini dua dari tiga tim yang mereka turunkan berhasil meraih juara 1 dan 2 pada turnamen futsal umum JR F1 Aina Women di Payakumbuh.
Pelatih kepala, Ilham Ramadhan (26), mengatakan kedisiplinan menjadi aspek penting dalam pembinaan pemain putri.
“Untuk teknik seperti passing, kontrol bola, dan shooting harus terus ditekan. Ada toleransi kalau pemain sedang sakit atau haid, tapi tetap wajib hadir untuk menunjukkan tanggung jawab,” katanya.
Tim berlatih empat kali seminggu, terdiri dari tiga hari latihan materi dan satu hari latihan fisik di pantai. Mereka juga rutin melakukan uji tanding dengan tim dari Pariaman dan Pasaman.
Kapten tim, Lutfi Indah Anzoma (18), yang telah bergabung sejak usia 15 tahun, mengaku pernah mendapatkan komentar meremehkan perempuan yang bermain futsal.
“Kenapa wanita ikut main bola? Cewek futsal di Padang ga ada gunanya. Tapi saya jalanin saja karena suka,” ujarnya.
Rajja menegaskan tantangan utama sepak bola dan futsal putri di Kota Padang adalah minimnya jumlah tim sehingga kompetisi sering dibatalkan.
“Harapannya dalam setahun ada minimal empat kompetisi resmi. Ada liga dari Askot agar terlihat bibit-bibit pemain putri,” katanya.
Hingga kini Adios FC Putri masih bergantung pada turnamen futsal kecil yang digelar kelompok swasta, yang umumnya tidak menggunakan wasit berlisensi karena bukan kompetisi resmi.(CR4)
Editor : Hendra Efison