Keputusan tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi CFA di akun media sosialnya. Sanksi dijatuhkan setelah dilakukan peninjauan sistematis terhadap pelanggaran disiplin yang terjadi di lingkungan sepak bola profesional China.
CFA menyatakan langkah itu diperlukan untuk menegakkan disiplin industri, membersihkan ekosistem sepak bola, dan menjaga keadilan kompetisi.
CFA tidak merinci waktu terjadinya pengaturan skor yang terbaru maupun mekanisme pelanggarannya. Namun, seluruh hukuman disebut telah ditetapkan berdasarkan besaran, situasi, sifat, serta dampak sosial dari transaksi tidak sah yang terlibat.
Larangan Seumur Hidup bagi Pejabat dan Mantan Pemain
Li Tie, mantan pemain Everton yang menangani tim nasional China pada periode 2019 hingga 2021, termasuk dalam daftar 73 orang yang dijatuhi larangan seumur hidup dari seluruh aktivitas sepak bola.
Ia sebelumnya telah divonis hukuman penjara 20 tahun atas kasus suap pada Desember 2024.
Selain Li Tie, CFA juga mencantumkan nama Chen Xuyuan, mantan ketua CFA, yang telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena menerima suap senilai 11 juta dolar AS.
CFA menegaskan seluruh individu tersebut tidak lagi diperbolehkan terlibat dalam kegiatan sepak bola dalam bentuk apa pun.
“Kami akan selalu mempertahankan sikap tanpa toleransi dan menerapkan hukuman yang tinggi, serta menyelidiki dan menangani setiap pelanggaran disiplin atau peraturan sepak bola segera setelah ditemukan, tanpa keringanan atau toleransi,” bunyi pernyataan CFA, seperti dilansir dari Al Jazeera.
Sanksi Berat untuk Klub Liga Super China
Dari sisi klub, CFA menjatuhkan sanksi kepada 13 klub profesional, termasuk 11 dari 16 klub yang berkompetisi di Liga Super China (Chinese Super League/CSL) musim 2025. Klub-klub tersebut dikenai pengurangan poin dan denda finansial.
Akibat sanksi dan degradasi, sembilan klub akan memulai musim CSL 2026 yang dimulai Maret dengan total poin negatif. Tianjin Jinmen Tiger dan Shanghai Shenhua, yang merupakan runner-up musim lalu, menerima hukuman terberat berupa pengurangan 10 poin serta denda satu juta yuan atau sekitar 144 ribu dolar AS.
Shanghai Port, juara CSL dalam tiga musim terakhir, dijatuhi pengurangan lima poin dan denda 400 ribu yuan. Sanksi yang sama juga diberikan kepada Beijing Guoan.
CFA menyebut pelanggaran klub berkaitan dengan pengaturan skor, perjudian, dan penyuapan, tanpa memerinci kasus masing-masing.
Latar Belakang Pemberantasan Korupsi
Dalam beberapa tahun terakhir, sepak bola China berada di bawah sorotan ketat seiring kampanye antikorupsi yang meluas di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping.
Sejumlah pejabat tinggi CFA telah dijatuhi hukuman, sementara puluhan pemain juga dilarang bermain karena pengaturan skor dan perjudian.
Di tengah situasi tersebut, sejumlah klub profesional menghadapi kesulitan keuangan. Guangzhou FC, klub tersukses dalam sejarah CSL, resmi dibubarkan pada 2025 setelah gagal melunasi kewajiban utangnya sebelum musim baru dimulai.(*)
Editor : Heri Sugiarto