Pertandingan dipimpin wasit Chris Kavanagh dengan VAR Tony Harrington. Insiden bermula ketika kapten United, Bruno Fernandes, mengirim umpan terobosan kepada Matheus Cunha yang berhasil melewati bek Palace, Maxence Lacroix, dan bergerak menuju gawang.
Lacroix, yang sebelumnya mencetak gol pembuka Palace pada menit keempat di Old Trafford, terlihat menarik bahu Cunha dari luar kotak penalti hingga berlanjut ke dalam area.
Cunha terjatuh dan wasit langsung menunjuk titik putih. VAR melakukan pengecekan awal untuk memastikan adanya pelanggaran dan lokasi kejadian berada di dalam kotak penalti. Karena tarikan berlanjut hingga ke area terlarang, keputusan penalti dinyatakan sah.
Selain konfirmasi penalti, VAR juga merekomendasikan melihat ulang tayangan insiden melalui monitor di tepi lapangan atau on-field review terkait kemungkinan pelanggaran menggagalkan peluang mencetak gol yang jelas atau denial of an obvious goal-scoring opportunity (DOGSO).
Dalam proses peninjauan, beberapa aspek dipertimbangkan, termasuk jarak ke gawang, arah pergerakan permainan, serta kemungkinan penyerang mempertahankan penguasaan bola saat kontak terjadi.
Setelah melihat tayangan di monitor sisi lapangan, Kavanagh mengubah keputusan awalnya yang tidak memberikan kartu merah. Ia kemudian mengumumkan kepada penonton bahwa itu pelanggaran karena menahan atau menarik lawan atau holding offense yang jelas dan menggagalkan peluang mencetak gol yang nyata, sehingga keputusan akhir adalah penalti dan kartu merah untuk Lacroix.
Fernandes mengeksekusi penalti tersebut dan mencetak gol penyeimbang bagi Manchester United. Delapan menit kemudian, dengan Palace bermain dengan 10 orang, Benjamin Sesko mencetak gol yang memastikan kemenangan United 2-1.
Hasil tersebut membawa Manchester United naik ke posisi ketiga klasemen sementara Premier League.
Insiden ini kembali menempatkan peran dan proses VAR dalam sorotan, khususnya dalam penerapan kriteria DOGSO sesuai Laws of the Game pada pertandingan Premier League.
Mantan wasit Select Group, Andy Davies, dalam analisisnya di ESPN menyatakan keputusan penalti di lapangan sudah tepat dan intervensi VAR untuk merekomendasikan kartu merah juga sesuai protokol.
Ia menjelaskan bahwa kunci penilaian DOGSO adalah menghentikan tayangan pada momen kontak pelanggaran untuk menilai jarak ke gawang, arah permainan, dan peluang penyerang mempertahankan penguasaan bola.
Davies menyebut setelah penyerang berada di sisi yang menguntungkan dan memiliki jalur jelas menuju gawang dengan sentuhan berikutnya berpotensi menjadi tembakan, maka unsur DOGSO terpenuhi.
Ia juga menjelaskan bahwa pelanggaran berupa tarikan tubuh bagian atas tanpa upaya memainkan bola tetap dikategorikan kartu merah, sementara jika terdapat upaya menantang bola dengan peluang berhasil, sanksinya dapat berupa kartu kuning.(*)
Editor : Heri Sugiarto