Pada babak perempat final, Sporting akan menghadapi Arsenal yang menyingkirkan Leverkusen dengan agregat 3-1.
Comeback Bersejarah dari Tertinggal 3-0
Sporting tampil menekan sejak awal pertandingan. Gol pembuka datang pada menit ke-34 melalui sundulan Goncalo Inacio setelah menerima umpan sepak pojok dari Francisco Trincao.
Memasuki babak kedua, tekanan tuan rumah terus berlanjut. Gol kedua tercipta pada menit ke-61 lewat Pedro Goncalves, yang memanfaatkan umpan Luis Suarez.
Sporting kemudian menyamakan agregat menjadi 3-3 pada menit ke-78 melalui penalti Luis Suarez setelah tinjauan VAR memastikan adanya handball pemain Bodø/Glimt.
Skor imbang memaksa laga dilanjutkan ke babak tambahan.
Extra Time Jadi Penentu
Pada menit ke-92, Sporting akhirnya berbalik unggul dalam agregat. Maximiliano Araujo mencetak gol keempat setelah menerima assist dari Trincao.
Dominasi Sporting berlanjut hingga akhir pertandingan. Gol kelima dicetak pemain muda Rafael Nel pada menit 120+1, memastikan kemenangan 5-0 di leg kedua sekaligus mengunci kelolosan ke perempat final.
Laga ini juga menjadi salah satu comeback terbesar dalam sejarah fase gugur Liga Champions, mengingat hanya beberapa tim yang mampu membalikkan defisit tiga gol atau lebih.
Performa Kunci Francisco Trincao, Samai Rekor Lama Sporting
Gelandang serang Sporting, Francisco Trincao, dinobatkan sebagai Player of the Match.
Tim Pengamat Teknis UEFA menyebut Trincao sebagai “playmaker utama” tim yang mengatur ritme permainan. Ia berkontribusi besar dengan assist krusial, termasuk pada gol penentu, serta peran penting dalam menjaga keseimbangan tim baik saat menyerang maupun bertahan.
Kemenangan ini menyamai pencapaian terbaik Sporting di kompetisi Eropa, yakni pada musim 1982/1983. Atmosfer stadion yang dipenuhi dukungan suporter juga disebut menjadi faktor penting dalam keberhasilan comeback tersebut.
Kunci di Mental dan Dukungan Suporter
Pelatih Sporting, Rui Borges menegaskan kemenangan ini ditentukan oleh mentalitas tim.
Ia menyebut timnya menunjukkan karakter juara dengan ketahanan dan ambisi tanpa batas. Menurutnya, seluruh pemain tampil sinkron dan memahami peran masing-masing di lapangan.
Borges juga menyoroti peran suporter. Ia merasa sejak awal atmosfer stadion memberi sinyal laga akan berjalan berbeda.
Ia menegaskan rasa bangga tetap ada bahkan jika tim hanya menang 2-0, karena yang terpenting adalah keyakinan, determinasi, dan intensitas permainan.
Borges menambahkan bahwa timnya tampil sebagai versi terbaik Sporting. Ia menilai koneksi tim sudah terlihat sejak sesi latihan, dengan energi dan keinginan kuat untuk menciptakan sesuatu yang berbeda.
Di sisi lain, pelatih Bodø/Glimt, Kjetil Knutsen, mengakui timnya tampil jauh dari identitas permainan mereka. Ia menyebut timnya lebih “memainkan momen” daripada pertandingan itu sendiri, sehingga tekanan menjadi terlalu besar. Hal itu membuat tim tampil pasif sejak awal laga.(*)
Editor : Heri Sugiarto