PADEK.JAWAPOS.COM – Timnas Prancis dan Senegal akan kembali bertemu di panggung Piala Dunia setelah 24 tahun berlalu sejak duel bersejarah pada edisi 2002. Pertandingan Grup I Piala Dunia 2026 yang berlangsung Rabu (17/6/2026) pukul 02.00 WIB ini menjadi pertemuan kedua sepanjang sejarah kedua negara di turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.
Laga ini membangkitkan kembali kenangan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Pada 31 Mei 2002 di Seoul, Korea Selatan, Senegal yang menjalani debut di Piala Dunia secara mengejutkan berhasil mengalahkan Prancis dengan skor 1-0 pada laga pembuka.
Saat itu, Prancis datang dengan status sebagai juara bertahan Piala Dunia 1998 sekaligus juara Euro 2000. Namun, Senegal yang diperkuat banyak pemain yang berkarier di kompetisi Prancis mampu menciptakan sensasi besar.
Prancis Datang Sebagai Favorit, tetapi Tidak dalam Kondisi Terbaik
Meski berstatus juara dunia dan juara Eropa, perjalanan Prancis menuju Piala Dunia 2002 tidak sepenuhnya mulus. Setelah menjuarai Piala Konfederasi 2001, performa tim asuhan Roger Lemerre mulai menunjukkan penurunan.
Dalam sejumlah laga persiapan, Les Bleus hanya menang tipis 2-1 atas Rumania, bermain imbang 0-0 melawan Rusia, dan kalah 1-2 dari Belgia.
Situasi semakin sulit ketika Zinedine Zidane mengalami cedera quadriceps saat Prancis menang 3-2 atas Korea Selatan pada 26 Mei 2002, hanya lima hari sebelum pertandingan pembuka melawan Senegal.
Di sisi lain, Senegal datang dengan kepercayaan diri tinggi. Lions de la Teranga baru saja menjadi finalis Piala Afrika 2002 sebelum kalah dari Kamerun melalui adu penalti. Dalam persiapan menuju Piala Dunia, Senegal juga mencatat kemenangan atas Bolivia dan Ekuador.
Gol Papa Bouba Diop yang Mengguncang Dunia
Prancis memulai pertandingan sebagai tim unggulan. David Trezeguet bahkan hampir membawa timnya unggul ketika tembakannya membentur tiang gawang pada menit ke-22.
Namun Senegal justru mampu mencetak gol yang kemudian menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola Afrika.
Gol berawal dari aksi El-Hadji Diouf di sisi kiri pertahanan Prancis. Setelah melewati Frank Leboeuf, Diouf mengirim umpan tarik ke dalam kotak penalti yang disambut Papa Bouba Diop.
Tembakan pertama gelandang Senegal itu sempat ditepis Fabien Barthez, tetapi bola rebound berhasil disambar kembali oleh Papa Bouba Diop untuk membawa Senegal unggul 1-0 pada menit ke-30.
Skor tersebut bertahan hingga laga berakhir dan memastikan kemenangan bersejarah Senegal atas juara bertahan dunia.
Merasa Diremehkan, Senegal Membalas dengan Prestasi
Mantan pemain Senegal, Khalilou Fadiga, mengungkapkan bahwa banyak pemain Senegal saat itu merasa diremehkan oleh publik sepak bola Prancis.
Menurutnya, sebagian besar pemain Senegal merupakan hasil pembinaan sepak bola Prancis, dan berkompetisi di liga Prancis sehingga mereka memiliki motivasi besar untuk membuktikan kualitasnya.
“Kami menyadari banyak pihak di Prancis tidak benar-benar mengenal Senegal. Padahal sebagian besar dari kami bermain dan berkembang di Prancis. Kami menggunakan hal itu sebagai motivasi,” ungkap Fadiga kepada AFP.
Sementara itu, David Trezeguet mengakui Prancis saat itu terlalu percaya diri dengan kekuatan yang dimiliki setelah sukses besar pada 1998 dan 2000.
Ia menilai kekalahan dari Senegal menjadi pelajaran bahwa dalam sepak bola tidak ada ruang untuk meremehkan lawan.
"Mereka menyulitkan kami. Saat itu, kami harus mengakui bahwa kami tidak mengenal mereka dengan baik. Kami terlambat menyadari bahwa dalam sepak bola, kesalahan tidak diperbolehkan. Anda harus siap untuk setiap pertandingan," ungkapnya.
Senegal Ukir Sejarah, Prancis Tersingkir
Kemenangan atas Prancis menjadi awal perjalanan luar biasa Senegal di Piala Dunia 2002.
Lions de la Teranga terus melaju hingga mencapai babak perempat final, yang hingga kini masih menjadi pencapaian terbaik mereka di ajang Piala Dunia.
Keberhasilan tersebut disambut meriah di Senegal. Presiden Senegal saat itu, Abdoulaye Wade, bahkan merayakannya bersama masyarakat yang berpesta di jalanan ibu kota Dakar.
Sebaliknya, Prancis mengalami salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah mereka. Les Bleus tersingkir pada fase grup tanpa mampu mempertahankan gelar juara dunia.
Menurut Trezeguet, kegagalan tersebut menjadi pertanda berakhirnya siklus generasi emas Prancis yang sukses menjuarai Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.
Duel Ulangan 24 Tahun Kemudian
Dua puluh empat tahun setelah kejutan besar di Seoul, Prancis dan Senegal kembali dipertemukan di Piala Dunia 2026.
Prancis kini telah bangkit dengan meraih gelar juara dunia kedua pada 2018 serta mencapai final Piala Dunia 2022.
Sementara itu, Senegal berkembang menjadi salah satu tim Afrika paling konsisten dalam satu dekade terakhir. Selain beberapa kali tampil di Piala Dunia, Senegal juga berhasil menjuarai Piala Afrika 2021 dan diperkuat sejumlah pemain berkelas internasional, termasuk Sadio Mane. Di Piala Dunia Qatar 2022, Senegel mencapai babak 16 besar.
Menjelang pertemuan kembali dengan Prancis, Khalilou Fadiga berharap generasi Senegal saat ini mampu melanjutkan warisan yang ditinggalkan tim 2002.
Mantan bintang Senegal lainnya, El-Hadji Diouf, bahkan secara terbuka berharap sejarah kembali terulang.
“Saya ingin sejarah terulang lagi. Kita boleh bermimpi. Itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa,” ujarnya.
Di kubu Prancis, David Trezeguet meyakini tim negaranya kini memiliki kualitas untuk melangkah jauh di Piala Dunia 2026. Namun ia mengingatkan bahwa Senegal tetap menjadi lawan yang berbahaya, terlebih karena kembali menjadi lawan pertama Prancis seperti yang terjadi pada Piala Dunia 2002.
Selain itu, kata Trezeguet, Prancis yang memiliki pelatih kelas atas, juga pasti memiliki motivasi balas dendam atas kekalahan dari Argentina di final empat tahun lalu di Qatar.(*)
Editor : Heri Sugiarto