Jerman tersingkir di Babak 32 Besar setelah kalah dramatis 3-4 melalui adu penalti dari Paraguay, Selasa (306/2026) dini hari WIB. Pertandingan di Foxborough berakhir imbang 1-1 hingga 120 menit sebelum Kai Havertz, Nick Woltemade, dan Jonathan Tah gagal menjalankan tugas sebagai eksekutor penalti.
Kekalahan itu memperpanjang tren buruk Jerman di Piala Dunia. Setelah gagal lolos dari fase grup pada edisi 2018 dan 2022, mereka kembali harus mengakhiri turnamen lebih cepat meski kali ini berhasil mencapai fase gugur.
Akui Jerman Bukan Lagi Tim Elite
Nagelsmann tidak menutupi kekecewaannya. Menurut pelatih berusia 38 tahun itu, tiga kegagalan beruntun menjadi bukti bahwa Jerman sudah tidak lagi berada di level tertinggi sepak bola dunia.
"Kalau kami tersingkir pada tahap awal, itu jelas tidak cukup bagi sepak bola Jerman. Ini sudah eliminasi ketiga secara beruntun. Artinya kami bukan lagi bagian dari tim-tim kelas satu dunia. Saya sangat kecewa," kata Nagelsmann, dikutip dari ESPN.
Jerman terakhir kali memenangi pertandingan fase gugur Piala Dunia saat menjadi juara pada edisi 2014 di Brasil. Sejak mengangkat trofi tersebut, Der Panzer belum pernah lagi memenangkan satu pun laga knockout di ajang Piala Dunia.
Meski begitu, dia mengakui Paraguay bermain sangat disiplin sehingga membuat Jerman kesulitan membongkar pertahanan lawan.
"Mereka bermain sangat defensif dan kami tidak cukup tajam. Ketika Anda tersingkir di Piala Dunia setelah menghadapi Paraguay, rasanya sangat menyakitkan. Kami tidak mencetak cukup banyak gol dan itu tidak cukup untuk membawa kami lolos," ujar mantan pelatih Bayern Munich tersebut.
Tetap Ingin Melanjutkan Tugas
Nagelsmann mulai menangani Timnas Jerman pada 2023 dan masih memiliki kontrak hingga berakhirnya Piala Eropa 2028.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, ia beberapa kali mendapat pertanyaan mengenai masa depannya. Meski menyadari banyak kritik datang dari publik, Nagelsmann menegaskan dirinya tidak akan meninggalkan tanggung jawab begitu saja.
"Jika DFB masih menginginkan saya, saya akan tetap melanjutkan pekerjaan ini. Saya tahu banyak orang ingin saya pergi, tetapi saya ingin terus bekerja jika DFB masih memberi kepercayaan," ujarnya.
Nagelsmann juga menyadari citranya sedang tidak baik setelah kegagalan di Piala Dunia.
"Kalau hari ini dilakukan survei di Jerman, saya yakin banyak yang tidak akan berbicara positif tentang saya. Kami memang tidak menunjukkan performa yang cukup baik sepanjang turnamen ini," katanya. "Saya bukan orang yang lari dari tanggung jawab." imbuhnya.
DFB Segera Bahas Masa Depan Nagelsmann
Direktur Olahraga Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Rudi Völler, mengaku masih menaruh kepercayaan kepada Nagelsmann. Namun, ia menegaskan keputusan mengenai kelanjutan jabatan sang pelatih akan ditentukan melalui pembahasan internal federasi.
"Saya bukan DFB seorang diri. Semua orang tahu bagaimana pendapat saya tentang Julian. Dia tetap pelatih papan atas. Saya yakin dia mungkin orang yang tepat untuk melanjutkan pekerjaan ini. Dia seorang petarung," ujar Völler.
Meski demikian, Völler belum ingin memastikan keputusan apa pun.
"Saya belum bisa mengatakan lebih banyak saat ini. Kami akan duduk bersama dalam satu atau dua hari ke depan, lalu melihat bagaimana hasilnya. Bagi saya, dia tetap orang yang tepat di posisi yang tepat," katanya.
Nagelsmann sendiri kembali menegaskan siap menghormati kontraknya hingga 2028 selama DFB masih memberikan kepercayaan kepadanya.
Kekalahan dari Paraguay di turnamen hari ini salah satu hasil paling mengecewakan dalam sejarah modern sepak bola Jerman. Manuel Neuer dan kawan-kawan harus pulang lebih awal, Paraguay melaju ke Babak 16 Besar dan akan menghadapi pemenang laga Prancis melawan Swedia di Philadelphia pada 4 Juli 2026.
Rekor Unik Nagelsmann
Julian Nagelsmann mencatat rekor unik di Piala Dunia ini. Saat memimpin Jerman pada usia 38 tahun 341 hari, ia menjadi pelatih termuda yang menangani pertandingan fase gugur Piala Dunia sejak pelatih Prancis, Henri Michel, memimpin laga perebutan tempat ketiga pada Piala Dunia 1986 dalam usia 38 tahun 243 hari.
Menariknya, pertandingan yang dipimpin Henri Michel tersebut merupakan laga Piala Dunia kedua terakhir yang berlangsung sebelum Nagelsmann lahir, sehingga menegaskan betapa muda usia pelatih Jerman itu dibanding mayoritas pelatih yang pernah tampil di fase gugur turnamen tersebut.(*)
Editor : Heri Sugiarto