Penulis : Mahmud Aditya Rifqi - Dosen Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga
“Rakyat desa tidak pakai dolar.” Pernyataan Presiden Prabowo Subianto itu disampaikan saat merespons pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kembali menembus level tinggi. Secara sederhana, maksudnya adalah masyarakat desa dinilai tidak terlalu terdampak gejolak kurs karena aktivitas ekonomi sehari-hari mereka tidak menggunakan mata uang asing.
Namun dalam lanskap ekonomi modern, persoalannya jauh lebih kompleks. Masyarakat memang tidak perlu memegang dolar untuk merasakan dampaknya. Kenaikan kurs bekerja secara diam-diam melalui inflasi pangan, biaya produksi, distribusi logistik, hingga penurunan daya beli rumah tangga. Dan ketika harga kebutuhan pokok mulai bergejolak, kelompok pertama yang merasakan tekanan adalah masyarakat berpendapatan rendah.
Dari perspektif gizi masyarakat, pelemahan rupiah bukan sekadar isu moneter atau volatilitas pasar valuta asing. Ini adalah persoalan kesehatan publik dan kualitas sumber daya manusia. Sebab pada akhirnya, fluktuasi kurs bermuara pada satu pertanyaan mendasar: apakah rakyat masih mampu mengakses pangan bergizi secara layak dan berkelanjutan?
Ketika Nilai Tukar Menggerus Kualitas Gizi
Kelaparan dan malnutrisi sering kali bukan disebabkan absennya pangan, melainkan hilangnya economic entitlement atau kemampuan masyarakat untuk memperoleh pangan bergizi. Dalam ekonomi gizi, daya beli merupakan determinan fundamental kualitas konsumsi rumah tangga. Ketika daya beli melemah, kualitas gizi hampir selalu menjadi korban pertama.
Di sinilah hubungan antara kurs dolar dan perut rakyat menjadi sangat konkret.
Indonesia sampai hari ini masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor pangan dan bahan baku pangan strategis. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan impor kedelai Indonesia mencapai lebih dari 2 juta ton per tahun. Sekitar 90 persen kebutuhan gandum nasional juga berasal dari impor. Tidak hanya itu, bahan baku pakan ternak seperti soybean meal, feed additive, vitamin hingga sebagian pupuk pertanian juga sangat dipengaruhi pasar global dan kurs dolar.
Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat. Dampaknya tidak berhenti di pelabuhan atau industri pangan, tetapi menjalar hingga dapur rumah tangga. Harga telur naik karena biaya pakan naik. Harga ayam ikut terdorong. Tempe dan tahu menjadi lebih mahal akibat kenaikan harga kedelai impor. Susu semakin sulit dijangkau kelompok miskin.
Dalam kondisi ekonomi tertekan, rumah tangga biasanya melakukan mekanisme adaptasi konsumsi. Lauk diperkecil, protein hewani dikurangi, susu dihentikan, sementara konsumsi karbohidrat murah diperbanyak demi mempertahankan rasa kenyang.
Masalahnya, kenyang tidak identik dengan cukup gizi.
Dalam kajian gizi masyarakat, kondisi ini dikenal sebagai hidden hunger atau kelaparan tersembunyi. Tubuh memang tetap memperoleh energi, tetapi kekurangan protein, zat besi, zinc, vitamin A, dan berbagai mikronutrien penting lainnya. Dampaknya bekerja perlahan namun destruktif terhadap kualitas kesehatan populasi.
Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan bahwa proporsi pengeluaran rumah tangga miskin masih didominasi oleh sektor pangan. Artinya, sedikit saja kenaikan harga bahan makanan dapat langsung mengurangi akses terhadap pangan bergizi. Dalam kelompok miskin, elastisitas konsumsi pangan sangat tinggi.
Ketika harga naik, kualitas konsumsi adalah aspek pertama yang dikompromikan.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan. Ketika konsumsi protein menurun, risiko stunting meningkat. Padahal stunting bukan sekadar persoalan tubuh pendek, tetapi berkaitan dengan gangguan perkembangan otak, kapasitas belajar, hingga produktivitas ekonomi di masa depan. Pada remaja perempuan, penurunan kualitas konsumsi meningkatkan risiko anemia. Sementara pada ibu hamil, kualitas asupan yang buruk memperbesar risiko bayi lahir dengan berat badan rendah.
Rupiah Melemah, Beban Penyakit Meningkat
Ironisnya, tekanan ekonomi tidak hanya meningkatkan risiko kekurangan gizi, tetapi juga obesitas. Ketika pangan sehat semakin mahal, masyarakat cenderung memilih makanan murah tinggi gula, garam, dan lemak karena lebih mengenyangkan dan ekonomis. Inilah yang menyebabkan Indonesia menghadapi double burden of malnutrition: kekurangan gizi dan obesitas terjadi secara bersamaan.
Inflasi pangan dan instabilitas ekonomi merupakan determinan penting meningkatnya penyakit tidak menular. Ketika harga pangan sehat meningkat, diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, hingga obesitas semakin banyak ditemukan bahkan pada kelompok berpendapatan rendah.
Persoalan kurs juga berdampak pada sektor pertanian dan perikanan. Petani membeli pupuk yang harganya dipengaruhi impor bahan baku. Peternak menghadapi kenaikan biaya pakan. Nelayan terkena dampak naiknya biaya operasional dan distribusi. Dalam teori ekonomi makro, kondisi ini dikenal sebagai imported inflation dan cost-push inflation, yakni inflasi yang dipicu kenaikan biaya produksi akibat depresiasi nilai tukar.
Karena itu, asumsi bahwa masyarakat desa tidak terdampak dolar sesungguhnya terlalu simplistik. Mereka mungkin tidak menyimpan dolar di dompet, tetapi mereka merasakan dampaknya melalui harga pupuk, telur, minyak goreng, pakan ternak, hingga kebutuhan pokok sehari-hari.
Dalam konteks ini, stabilitas rupiah bukan hanya target ekonomi makro, melainkan instrumen perlindungan kesehatan masyarakat. Ketahanan pangan tidak cukup diukur dari ketersediaan beras semata. Ketahanan gizi jauh lebih penting: apakah rakyat masih mampu membeli protein, susu, ikan, sayur, dan buah dengan harga yang terjangkau.
Pemerintah perlu memperkuat produksi pangan lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan pangan strategis. Diversifikasi pangan, penguatan pertanian domestik, serta intervensi perlindungan sosial berbasis gizi harus menjadi prioritas ketika tekanan ekonomi meningkat. Sebab dalam situasi krisis, keluarga miskin hampir selalu menjadikan kualitas makanan sebagai pengorbanan pertama.
Pada akhirnya, dampak pelemahan rupiah tidak berhenti pada grafik ekonomi atau pasar valuta asing. Ia masuk ke dapur rumah tangga, memengaruhi pilihan makanan keluarga, dan menentukan kualitas generasi masa depan.
Karena ketika kurs dolar naik, yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya stabilitas ekonomi nasional. Yang ikut dipertaruhkan adalah perut rakyat dan masa depan gizi bangsa. (*)
Editor : Adriyanto Syafril