Sebagai peneliti ekonomi, geopolitik, dan geoekonomi Asia, saya telah menghabiskan sebagian besar hidup berjalan di antara dua dunia yang sering kali tidak saling mengenal. Dunia pertama adalah dunia angka, seperti grafik pertumbuhan, indeks daya saing, surplus perdagangan, cadangan devisa, arus investasi, dan berbagai indikator makroekonomi yang dipajang dengan bangga di layar konferensi internasional. Dunia kedua adalah dunia manusia, seperti wajah para pedagang kecil yang menghitung recehan di penghujung senja, petani yang menatap langit dengan kecemasan, buruh yang menunda membeli kebutuhan pokok karena upah yang tidak lagi mampu mengejar harga.
Semakin lama saya meneliti, semakin saya menyadari bahwa jarak antara kedua dunia itu sering kali jauh lebih lebar daripada yang ingin diakui para penguasa. Angka memiliki keindahan yang memikat. Sebuah pertumbuhan ekonomi lima atau enam persen dapat terlihat begitu meyakinkan. Neraca perdagangan yang mencatat surplus miliaran dolar dapat menghadirkan kesan kemajuan. Peringkat investasi yang meningkat sering dianggap sebagai bukti bahwa sebuah bangsa sedang bergerak menuju masa depan yang lebih baik.
Namun angka juga memiliki keterbatasan. Ia dapat mengukur nilai transaksi, tetapi tidak selalu mampu mengukur kegelisahan. Ia dapat menghitung pertumbuhan, tetapi tidak selalu dapat merasakan penderitaan. Ia dapat menjelaskan arah ekonomi sebuah negara, tetapi tidak selalu sanggup menjelaskan bagaimana rakyat kecil bertahan hidup di tengah arah tersebut. Pelajaran itu saya peroleh bukan dari ruang kuliah atau jurnal akademik, tapi dari perjalanan panjang melintasi berbagai negeri Asia.
Saya masih mengingat beberapa desa di Pakistan yang pernah saya kunjungi bertahun-tahun lalu. Di Islamabad, para pejabat berbicara tentang koridor ekonomi, investasi strategis, dan posisi geopolitis negara mereka yang semakin penting. Namun ketika saya bergerak menjauh dari gedung-gedung pemerintahan dan memasuki wilayah-wilayah yang lebih sunyi, saya menemukan cerita yang berbeda. Banyak keluarga tidak membicarakan investasi asing atau keseimbangan strategis. Mereka membicarakan harga tepung, biaya sekolah anak-anak, dan tagihan listrik yang terus naik. Di atas meja para pengambil kebijakan, Pakistan tampak seperti sebuah persimpangan penting dalam peta Eurasia. Di meja makan rakyat kecil, yang hadir bukanlah peta geopolitik, tapi kecemasan sehari-hari.
Saya menemukan pemandangan serupa di Filipina. Statistik nasional kadang menunjukkan ketahanan ekonomi yang mengesankan. Kota-kota besar tumbuh dengan cepat. Gedung-gedung tinggi menjulang di berbagai sudut Manila, Makati, Bonafacio Global City, dll. Tetapi ketika berbincang dengan para pekerja informal dan keluarga berpenghasilan rendah, saya mendengar keluhan yang hampir sama dengan yang saya dengar di banyak negara lain, yakni pendapatan tidak bertumbuh secepat biaya hidup. Mereka hidup di dalam negara yang secara statistik berkembang, tetapi secara pribadi merasa tertinggal.
Barangkali pengalaman yang paling membekas datang dari Afghanistan. Di negeri yang selama puluhan tahun menjadi arena perebutan pengaruh global itu, saya menyaksikan bagaimana narasi besar negara sering kali tenggelam di hadapan kebutuhan dasar manusia. Berbagai kekuatan berbicara tentang keamanan, strategi kawasan, dan keseimbangan kekuasaan. Namun banyak rakyat hanya menginginkan sesuatu yang jauh lebih sederhana, yakni pekerjaan, roti, keamanan bagi keluarga, dan harapan untuk esok hari. Ketika kebutuhan paling mendasar belum terpenuhi, pidato tentang kejayaan nasional terdengar seperti gema yang datang dari tempat yang sangat jauh.
Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian saya temukan kembali di sejumlah negara Asia Tenggara. Bentuknya berbeda, tetapi polanya serupa. Pemerintah sering kali berbicara dalam bahasa pertumbuhan ekonomi, sementara rakyat berbicara dalam bahasa biaya hidup. Pemerintah merayakan investasi, sementara rakyat menghitung harga beras. Pemerintah bangga pada statistik, sementara rakyat bergulat dengan realitas.
Bukan berarti data makroekonomi tidak penting. Sebaliknya, data tersebut sangat penting. Tanpa fondasi ekonomi yang kuat, sebuah negara akan kesulitan membangun kesejahteraan. Namun masalah muncul ketika angka-angka itu diperlakukan sebagai tujuan akhir, bukan sebagai alat untuk memahami kehidupan manusia. Di sinilah saya sering teringat pada fenomena lain yang tidak kalah menarik, yakni kebanggaan para pemimpin terhadap pengakuan internasional.
Dalam berbagai forum global, saya menyaksikan bagaimana penghormatan diplomatik sering diperlakukan sebagai bukti keberhasilan nasional. Foto bersama para pemimpin dunia, pidato di panggung internasional, atau posisi strategis dalam percaturan geopolitik kerap dipresentasikan sebagai pencapaian besar yang seharusnya membanggakan seluruh rakyat.
Tetapi kebanggaan tidak dapat dipaksakan. Rakyat biasanya memiliki ukuran yang jauh lebih sederhana namun jauh lebih nyata. Mereka bertanya apakah pekerjaan tersedia. Apakah harga pangan terjangkau. Apakah pendidikan semakin mudah diakses. Apakah kehidupan anak-anak mereka akan lebih baik daripada kehidupan mereka sendiri.
Karena itu saya selalu teringat pada Iran. Selama bertahun-tahun negara tersebut dipandang sebagai salah satu kekuatan regional paling berpengaruh di Timur Tengah. Pengaruh politiknya menjangkau berbagai kawasan. Kapabilitas strategisnya diperhitungkan oleh banyak negara besar. Namun di balik narasi kekuatan regional itu, jutaan warga harus menghadapi tekanan ekonomi yang berat, inflasi yang tinggi, dan ketidakpastian yang berkepanjangan.
Bagi banyak rakyat biasa, status sebagai kekuatan regional tidak otomatis mengisi meja makan. Di titik itulah saya memahami sesuatu yang sederhana tetapi cukup mendasar. Negara dan rakyat sering kali hidup dalam ukuran keberhasilan yang berbeda. Negara cenderung mengukur dirinya melalui kekuatan, pengaruh, dan statistik. Rakyat mengukur kehidupan melalui pengalaman sehari-hari.
Semakin sering saya meneliti berbagai negara, semakin saya merasa bahwa kebenaran paling penting justru berada di antara angka dan manusia. Angka diperlukan agar kita tidak terjebak dalam perasaan semata. Namun pengalaman manusia diperlukan agar kita tidak tersesat dalam ilusi statistik.
Dan sebagai penikmat sastra dan khazanah religius Islam, saya sering menemukan penghiburan dalam kesadaran bahwa nilai sebuah masyarakat tidak semata ditentukan oleh apa yang tampak megah di permukaan. Dalam banyak ajaran hikmah, kemuliaan tidak diukur dari besarnya kekuasaan, tapi dari manfaat yang dirasakan manusia. Sebuah negeri mungkin memiliki pertumbuhan tinggi, pengaruh regional, dan reputasi internasional yang gemilang. Namun jika sebagian besar rakyat masih hidup dalam kecemasan, maka ada pertanyaan moral yang belum terjawab.
Pada akhirnya, setiap perjalanan penelitian membawa saya pada kesimpulan yang sama. Sejarah tidak akan mengingat sebuah bangsa hanya karena angka-angka yang pernah dicatatnya. Sejarah akan mengingat apakah kemakmuran itu benar-benar sampai kepada rakyatnya. Dan di hadapan Tuhan, mungkin yang paling penting bukanlah seberapa besar sebuah negara terlihat dari luar, melainkan seberapa banyak air mata yang berhasil dihapus dari wajah mereka yang paling lemah. (*)
Editor : Adriyanto Syafril