Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Gaza: Dari Ideologi ke Teknokrasi

Shofwan Karim • Jumat, 10 Juli 2026 | 07:35 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Penulis : Shofwan Karim - Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Perdamaian di Timur Tengah selalu berjalan dengan langkah me­rangkak, seakan kaki sejarah tersandung oleh batu dendam yang tak kunjung lapuk. Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran mencoba menyalakan lilin di tengah badai. Namun lilin itu sering padam oleh tiupan tragedi. Awal Juli, prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, membuat perundingan jeda. Sejarah seakan menunggu, me­nahan napas, sebelum babak baru dimulai.

Di Gaza, denyut lain bergetar. Hamas, setelah 18 tahun berkuasa sejak kudeta 2007, akhirnya menyerahkan otoritas sipil kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG). Langkah ini bukan sekadar teknis birokrasi, melainkan simbol pergeseran, dari pemerintahan ideologis menuju tata kelola teknokrat. Seperti sungai yang dialihkan alirannya, Gaza kini dititipkan kepada para profesional yang diharapkan mampu mengelola luka perang dengan rasionalitas dan keahlian.

Gaza: Dari Ideologi ke Teknokrasi

Pada 6 Juli 2026, Hamas resmi membubarkan Komite Darurat dan menyerahkan pemerintahan sipil kepada NCAG. Ismail Al Thawabta me­ngonfirmasi pengunduran diri Mohammed Al Farra, menutup babak panjang Hamas sebagai penguasa de facto Gaza. NCAG, beranggotakan 15 teknokrat, dipimpin oleh Ali Shaath, mantan wakil menteri Otoritas Palestina. Mereka bukan pejuang bersenjata, melainkan ekonom, dokter, pengacara, dan profesional sipil.

Nama-nama seperti Bashir Ray­yes (pakar ekonomi lulusan Imperial College London), Dr. Aed Mahmoud Yaghi (dokter urologi yang memimpin pemulihan fasilitas kesehatan), Hanaa Hanna Nicola Tarazi (pengacara perempuan yang mengurus perlindungan sosial), dan Omar Shamali (ahli telekomunikasi) me­nunjukkan wajah baru Gaza. Wajah teknokrat yang berusaha menata reruntuhan dengan ilmu dan pengalaman, bukan dengan senjata.

Namun transisi ini tidak mulus. Israel hingga kini memblokir akses masuk anggota NCAG dari Kairo ke Gaza. Perlintasan Rafah, satu-satunya gerbang Gaza ke dunia luar selain Israel, masih menjadi titik tawar. Hamas me­nuntut Rafah dibuka penuh, agar Ga­za tidak lagi menjadi penjara terbuka.

Perdamaian yang Merangkak

Langkah Hamas menyerahkan Gaza kepada NCAG adalah paradoks.  Di satu sisi, ia membuka peluang rekonsiliasi dan pemulihan. Di sisi lain, ia menyingkap ketidakpastian baru. Apakah Israel akan menerima pemerintahan teknokrat ini? Apakah NCAG mampu menata Gaza tanpa terseret kembali ke pusaran konflik?

Sejarah Hamas sejak 1987 adalah sejarah perlawanan. Dari pendirian oleh Sheikh Ahmed Yassin, kemena­ngan pemilu 2006, hingga kudeta 2007, Hamas selalu menjadi simbol resistensi. Kini, dengan menyerahkan otoritas sipil. Hamas seakan mengakui bah­wa perlawanan bersenjata tidak cu­kup untuk membangun kehidupan. Gaza membutuhkan administrasi, rumah sakit, sekolah, listrik, dan per­dagangan.

Namun, perdamaian bukan sekadar administrasi. Ia adalah jiwa yang harus dipulihkan. Luka perang tidak sembuh hanya dengan protokol birok­rasi. Perdamaian membutuhkan kea­dilan, pengakuan, dan kebebasan. Tanpa itu, Gaza akan tetap menjadi luka terbuka di tubuh Palestina.

 

Metafora Timur Tengah

Perdamaian Israel–Palestina–Hamas adalah jalan merangkak. Ia tidak berlari, tidak melompat, bahkan se­ring terhenti. Tetapi setiap langkah kecil tetap berarti. Seperti bayi yang belajar berjalan, perdamaian membutuhkan kesabaran, dukungan, dan keberanian untuk jatuh lalu bangkit kembali.

Diplomasi AS–Iran, transisi Gaza ke NCAG, tuntutan pembukaan Ra­fah, semua adalah fragmen dari mosaik besar. Mosaik yang belum selesai, penuh retakan, tetapi tetap menyimpan harapan.

Dalam perspektif sufistik, perdamaian adalah perjalanan jiwa. Ia bukan sekadar kesepakatan politik, melainkan transformasi batin. Dari dendam menuju maaf. Dari kekerasan menuju kasih-sayang. Jalan me­ra­ngkak ini adalah ujian. Apakah manusia mampu melampaui sejarah darah dan membentangkan permadani damai?

“Jalan Merangkak Perdamaian” adalah metafora bagi Timur Tengah hari ini. Gaza yang dititipkan kepada teknokrat, diplomasi yang tersendat oleh tragedi, Israel yang masih menutup pintu, dan rakyat Palestina yang menunggu kebebasan. Semua ini ada­lah langkah-langkah kecil, me­rangkak, menuju horizon yang belum jelas.

Namun, sejarah mengajarkan, bahkan langkah merangkak tetap membawa manusia maju. Perdamaian mungkin lambat, penuh luka, tetapi ia tetap mungkin. Seperti doa yang diulang setiap hari, ia menyalakan harapan bahwa suatu saat, tikar sejarah yang penuh darah akan diganti dengan permadani damai hidup abadi.

“Jalan Merangkak Perdamaian” bukan sekadar strategi politik, melainkan panggilan nurani. Al-Qur’an menegaskan:  “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condo­nglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”* (QS. Al-Anfal [8]:61)  

Rasulullah  pun bersabda:  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”* (HR. Ahmad)  

Maka, jalan merangkak ini adalah ja­lan iman. Ia mungkin lambat, penuh rin­tangan, tetapi setiap langkah adalah doa yang bergerak. Perdamaian Is­rael–Pa­lestina–Hamas bukan sekadar ke­se­pa­katan politik, melainkan ama­nah spi­­ritual. Menutup luka dengan kasih, me­ngganti dendam dengan maaf, dan me­nyalakan harapan bahwa suatu ha­ri, bumi yang berlumur darah akan menjadi taman damai yang diridai Allah. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#opini #Opini Padek