Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Era Baru Perbankan Syariah

Hendra Efison • Sabtu, 12 Desember 2020 | 00:51 WIB
Photo
Photo
Oleh: Two Efly, Wartawan Ekonomi Harian Pagi Padang Ekspres

Merger. Itulah yang dilakukan tiga Bank Syariah plat merah saat ini. Tiga Bank Syariah papan atas di Indonesia ini digabungkan ke dalam satu bendera di bawah Himpunan Bank Milik Negara (Bank Himbara). Ketiga Bank Syariah tersebut adalah Bank Mandiri Syariah, BNI Syariah, dan BRI Syariah. “Kawin sedarah” perbankan Syariah ini otomotis menjadi era baru Perbankan Syariah di Indonesia.

Jika ditilik ke belakang, perjalanan merger ini mengingatkan kita pada sejarah perbankan di tahun 1998 silam. Kalau itu Bank Expor dan Impor (Exim), Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN) dan Bapindo dimerger menjadi satu dalam kapal besar bernama Bank Mandiri. Penggabungan ini membuat bank yang baru lahir tersebut menjadi “bayi ajaib” dan langsung menjadi bank terbesar di Indonesia. Memang dalam perjalanannya sempat disalip oleh Bank Rakyat Indonesia namun kembali mampu rebound.

Kini sejarah di bulan Oktober 1998 itu terulang lagi. Merger kembali melahirkan “bayi ajaib”. Penggabungan tiga Bank Syariah plat merah (Mandiri Syariah, BNI Syariah dan BRI Syariah) secara tidak langsung membuat Bank Himbara masuk jadi Top Teen Perbankan Indonesia (10 besar). Diperkirakan asetnya akan menembus Rp210 Triliun dengan basis acuan kinerja ketiga Bank Syariah itu tahun 2019.

Menurut Eko B Supriyanto di www.infobank.co.id komposisi kepemilikan Bank Himbara ini cukup banyak. Bank Mandiri kembali mendapat durian runtuh karena aset Bank Mandiri Syariah memang terbesar di tahun 2019. Bank Mandiri selaku induk Mandiri Syariah memiliki 51,17% sahamnya, BNI 46 sebesar 25,02%, BRI sebesar 17,36%, DPLK BRI sebesar 2%, BNI Live Insurance sebesar 2%, Mandiri Securitas sebesar 1% dan saham publik sebesar 4%.

Bak durian runtuh, ada pihak yang mendapat rejeki nomplok. Bank Mandiri merupakan pihak yang paling beruntung karena akan melambungkan nama dan laporan konsolidasinya. Di sisi lain, BNI Syariah dan BRI Syariah akan mengalami penurunan aset pada laporan konsolidasinya.

Penulis tak ingin membahas ada yang untung dan ada pula yang kurang beruntung. Penulis melihat merger ini akan menghasilkan lompatan besar bagi sebuah lembaga perbankan serta menjadi era baru perbankan syariah di Indonesia. Merger ini akan membuat perbankan syariah tak lagi akan menjadi bank pelengkap. Namun sebaliknya akan masuk menjadi 10 bank terbesar di Indonesia. Status sebagai Top Teen akan membuat perbankan syariah semakin konfiden untuk bertarung di pasar. Baik nasional maupun regional.

Mungkinkah berhasil? Sangat memungkinkan. Penulis tak memiliki keraguan sedikitpun akan potensi Perbankan Syariah di Indonesia. Selain jumlah penduduk dan pelaku usaha yang terbilang banyak, akidah masyarakat Indonesia sangatlah mendukung untuk itu. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia. Pemeluk Islam di bumi pertiwi ini jauh mengalahkan jumlah penduduk negara Islam lainnya di negeri Jazirah Arab sendiri. Sayangnya jumlah yang banyak itu belum mampu dikapitalisasi dengan baik oleh perbankan syariah.

Sampai detik ini, Perbankan syariah tak ubahnya “bunga bonsai”. Cantik dan indah untuk dipandang tapi tak kunjung pernah besar. Market share-nya terkunci di angka 6% sampai dengan 7% dari total aset perbankan secara nasional. Fakta mengatakan Bank Umum Konvensional masih terlalu kuat dan dominan dalam pikiran masyarakat Indonesia. Padahal berbagai jurus dan senjata pamungkas pun sudah dikeluarkan termasuk lahirnya fatwa riba atas bunga bank.

Penulis melihat secara pasar, “kawin sedarah” ini tak akan membawa perubahan apa-apa terhadap market share perbankan secara nasional untuk saat ini. Asetnya tetaplah akan sebanyak itu, panga pasarnya juga tetap segitu juga. Pembiayaan yang disalurkan juga tak mengalami perubahan, total pendanaan juga tak akan mengalami penambahan. Peluang terjadinya perubahan justru pascalahir dan beroperasinya Bank Himbara. Himbara bisa sukses mengikuti kakak kandungnya Bank Mandiri atau bisa juga sebaliknya karena butuh adjustment beberapa hal penting pasca-“kawin paksa”.

Meskipun begitu, kita patut mengapresiasi keinginan memergerkan bank syariah plat merah ini. Sebab, merger ini selain akan mengurangi persaingan di pasar yang sama, penggabungan ini juga akan menghadirkan semangat serta nuansa baru dalam bekerja. Ada banyak manfaat yang dapat dipetik di antaranya:

Pertama, Modal yang kian membesar. Sudah jadi rahasia umum bagi dunia perbankan besar atau kecil, tebal atau tipisnya modal sangatlah menentukan bank tersebut mampu bersaing atau tidak di pasar. Semakin besar dan tebal modal sebuah bank maka semakin besar pula kemampuannya dalam melakukan ekspansi kredit.

“Bayi ajaib” bernama Himbara unggul dari sisi ini. Penggabungan tiga Bank Syariah terbesar di Indonesia akan membuat Bank Himbara menjadi bank dengan modal yang besar dan kokoh. Selain itu Capital Adequity Ratio juga akan melambung. Artinya, pondasi Bank Himbara untuk fight bertarung di lapangan sangat kokoh dan kuat.

Kedua, terbukanya fortopolio kredit dalam jumlah yang cukup besar. Bak Matematika umum, penambahan modal secara otomatis akan membuka fortopolio kredit baru bagi lembaga keuangan/perbankan. Bisa saja potensi pasar yang selama ini belum tergarap oleh ketiga bank syariah tersebut bisa dimaksimalkan. Potensi ini lebih diutamakan untuk cluster Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Biarlah bank umum konvensional yang bertarung di pasar coorporate sedangkan perbankan syariah lebih baik fokus dan menyisir ke sektor ritail.

Jika perlu, berkapasitas sebagai peringkat 10 bank terbesar di Indonesia sudah saatnya Bank Himbara out of box. Sisirlah dunia melayu yang membentang di semenanjung Melayu hingga ke ujung Timur Indonesia. Mulai dari Malaysia, Singapura, Brunei hingga ke Filipina.

Ketiga, mengangkat konfiden insan perbankan Syariah. Mau jujur atau tidak, risih atau bangga yang pasti bank syariah saat ini masih sebatas pelengkap. Perbankan syariah masih belum konfiden dan siap bertarung di pasar. Pertumbuhan usahanya masih relatif kecil, total asetnya juga terbilang rendah. Namun, kini dengan “bayi ajaib” bernama Bank Himbara akan mengubah segalanya. Insan perbankan syariah akan termotivasi berkompetisi di pasar.

Banyak lagi keuntungan yang bisa diraih dengan merger ini dan kita tak punya alasan untuk tidak mengapresiasi itu. Meskipun begitu, realita hidup ini selalu menghadirkan keseimbangan. Ada baik dan ada pula buruknya. Jika tadi kita bicara keuntungan, maka ada juga kelemahan dari merger bank syariah plat merah ini.

Pertama, akan ada perbankan induk yang mengalami penurunan aset yang cukup signifikan. Sebut saja BRI dan BNI 46. Rela atau tidak laporan konsolidasinya akan mengalami penyusutan aset. Apalagi selama ini, ketiga bank syariah tersebut merupakan anak perusahaan atau unit usaha syariahnya yang di-spinoff-kan dari induknya.

Kedua, efisiensi SDM. Walau disyaratkan untuk tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) namun realita itu pasti sulit dihindari. Jika kita belajar dari pengalaman pembentukan Bank Mandiri di masa lalu, maka kita bisa melihat berapa banyak karyawannya yang dilepas. Ada yang lepas atas keinginan sendiri dan ada pula yang terpaksa dilepas karena kebutuhan organisasi. Semuanya ini hal yang wajar. Penggabungan tiga bank secara tidak langsung akan menciutkan posisi dan jabatan. Selain itu, etos kerja antara satu bank syariah dengan bank syariah lain yang dimerger belum tentu sama.

Ketiga, sulit menyatukan mainset dan etos kerja. Bak anak dalam sebuah rumah tangga, setiap anak memiliki karakter sendiri walaupun lahir dari rahim yang sama. Ini jugalah yang akan dihadapi Bank Himbara. Karakter perusahaan dari ketiga perbankan syariah yang dimerger tidaklah sama walaupun sama sama berbaju syariah. Menggabungkan karakter dan etos kerja puluhan ribu dan bahkan bisa jadi seratusan ribu karyawan Bank Mandiri Syariah, BRI Syariah dan BNI Syariah sangatlah sulit. Perlu kelapangan jiwa dan kebesaran hati untuk berubah dan melahirkan Charakter Building perusahaan yang baru.

Meskipun begitu, sebuah langkah maju sudah dicapai. Bank Himbara tinggal menunggu waktu. Perbankan Syariah kelak tak akan lagi menjadi “bunga bonsai”. Cantik dan indah untuk dipandang tapi tak kunjung besar. Bank Himbara adalah “bayi ajaib” yang akan mengubah peta perbankan secara nasional seperti lahirnya Bank Mandiri di masa lalu. Kita dukung dan apresiasi itu. Selamat datang Bank Himbara, kami tunggu goresan sejarah mu. *** Editor : Hendra Efison
#padang ekspres #bank Himbara #Two Efly #perbankan syariah