Kentang pada beberapa dekade lalu pernah menjadi salah satu tanaman unggulan dan menjadikan Sumbar sebagai salah satu sentra produksi kentang Indonesia. Daerah utama penghasil kentang di Sumbar adalah Kabupaten Solok, tepatnya di Kenagarian Alahanpanjang, Kecamatan Lembahgumanti.
Selain untuk memenuhi pasar-pasar di Sumbar, kentang juga dipasarkan ke provinsi tetangga, bahkan konon Sumbar juga mengekspor hasil panen kentangnya ke beberapa negara tetangga. Namun, saat ini hampir tidak pernah terdengar lagi Sumbar menjadi pemasok kentang. Banyak petani yang awalnya petani kentang, secara berangsur-angsur mengalihkan budidaya ke tanaman nonkentang.
Di Alahanpanjang, saat ini petani lebih memilih bertanam bawang merah, yang meskipun keuntungannya minim, namun dapat memberikan kepastian produksi dibandingkan kentang. Saat ini, hanya sedikit sekali petani yang masih bertahan membudidayakan kentang, terutama petani yang memiliki permodalan kuat.
Transformasi budidaya komoditas kentang ke nonkentang yang dilakukan petani Sumbar bukanlah tanpa alasan jelas. Keengganan petani untuk membudidayakan kentang terutama disebabkan oleh sulitnya mendapatkan benih kentang bermutu. Di samping sulit, benih bermutu atau benih bersertifikat juga amat mahal harganya, sehingga sulit dijangkau oleh petani kentang secara umum.
Seringkali untuk memperoleh benih kentang bermutu, petani yang bermodal harus mendatangkannya dari Jawa Barat atau dari Sumut. Beberapa petani bahkan memperoleh benih dengan jalan impor.
Faktor pembenihan (penyediaan benih) kentang bermutu hingga saat ini masih menjadi kendala utama bagi usaha tani kentang. Petani umumnya belum menggunakan benih kentang secara khusus yang berasal dari petani penangkar benih kentang.
Umumnya, petani hanya menyisihkan sebagian umbi kentang hasil panenannya. Dengan cara tersebut, maka dapat dipastikan kualitas benih tersebut sangatlah rendah. Apalagi telah diketahui bersama bahwa tanaman yang diperbanyak melalui bahan vegetatif akan sangat rentan dengan penyakit degeneratif (penurunan produktivitas secara berangsur dari satu musim ke musim berikutnya).
Telah banyak dilaporkan bahwa rendahnya produktivitas tanaman kentang di Alahanpanjang disebabkan rendahnya kelas benih yang digunakan. Seharusnya, petani menggunakan benih G4 untuk produksi umbi konsumsi. Namun, kenyataannya petani masih menggunakan benih G6, G7, sampai G10. Pada kondisi tersebut, akumulasi penyakit dalam benih kentang yang terbawa secara sistemik sudah sedemikian banyaknya yang mengakibatkan produktivitas tanaman kentang menjadi sangat rendah.
Untuk mendapatkan benih bermutu, Indonesia masih mengimpornya dari luar negeri. Dari data statistika BPS diperoleh bahwa terdapat peningkatan volume impor benih dari tahun ke tahun.
Petani pengimpor benih (umbi) kentang sekarang sudah mulai mengeluh, karena biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli benih semakin besar dengan semakin rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Apabila petani menggunakan benih impor, maka 40-50 % dari total biaya produksi kentang sudah dikeluarkan hanya untuk pengadaan benih.
Kondisi ini mengakibatkan petani yang umumnya berkemampuan ekonomi rendah tidak mungkin melakukannya. Di samping itu, karena benih berasal dari luar negeri yang kondisinya tentu berbeda mengakibatkan seringkali kurang sesuai dengan kondisi iklim di Indonesia.
Untuk memperoleh propagul kentang unggul dan bermutu dapat dilakukan melalui inovasi teknologi bioseluler. Aplikasi teknologi bioseluler selain bertujuan untuk perbaikan sifat tanaman, juga dimanfaatkan untuk pembebasan penyakit. Bahan tanaman yang telah terbebas dari penyakit tersebut selanjutnya dapat diperbanyak secara masal dalam waktu relatif singkat.
Beberapa propagul yang dapat dikembangkan dari teknologi bioseluler antara lain: umbi mikro, stek mikro, stek mini, dan umbi mini. Selanjutnya, propagula kentang ini dapat digunakan sebagai bahan baku bagi perbenihan kentang melalui teknologi aeroponik.
Teknologi aeroponik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan cara konvensional yang sudah biasa dilakukan oleh petani, antara lain waktu panen lebih panjang sehingga produksi lebih tinggi, tidak tergantung musim ketersediaan barang ada sepanjang tahun, tidak memerlukan tempat yang luas, hasilnya bersih dan sehat, serta kecilnya risiko terserang hama penyakit.
Penggabungan teknologi bioseluler (in-vitro) dan teknologi aeroponik dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah benih yang dihasilkan. Teknologi in-vitro lebih diarahkan untuk propagasi plantlet secara massal dan cepat, sedangkan teknologi aeroponik memungkinkan untuk peningkatan jumlah umbi mini yang dihasilkan.
Aeroponik sendiri berasal dari kata aero yang berarti udara dan ponos yang berarti budidaya, jadi aeroponik adalah budidaya tanaman dengan melalui sistem pengkabutan.
Sistem aeroponik dalam budidaya tanaman kentang dilakukan di dalam screen house dengan menggunakan bak yang antara lain terbuat dari fiberglass dan ditutup dengan menggunakan styroform, sehingga tanaman akan terbebas dari serangan hama dan penyakit karena bahan tanaman berupa stek mikro berasal dari hasil perbanyakan kultur jaringan di laboratorium yang sudah steril.
Penerapan teknik aeroponik sebagai teknologi inovatif merupakan terobosan baru dalam usaha perbanyakan benih kentang penjenis (G0). Keuntungan menggunakan teknik aeroponik selain praktis tidak perlu menggunakan media campuran tanah dan pupuk kandang steril, tidak banyak menggunakan pestisida, menghasilkan umbi sehat dan bersih, produksi umbi 10 kali atau lebih dibanding cara konvensional, mudah dipanen, tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit, bebas patogen dan nutrisi dapat diatur supaya optimum diserap oleh tanaman.
Meskipun demikian, teknologi ini merupakan teknologi modern dengan peralatan dan bahan yang cukup mahal dan memerlukan biaya cukup tinggi. Meskipun mahal, bila dibandingkan dengan hasil yang berlipat maka biaya yang dikeluarkan terhitung cukup murah.
Proses produksi benih kentang menggunakan teknologi aeroponik lebih efisien dibandingkan dengan cara konvensional. Aeroponik selain dapat menghasilkan kualitas benih kentang yang baik juga lebih banyak dan dapat menghemat lahan. Jika dalam teknologi konvensional menggunakan tanah dan pupuk kandang dalam satu polybag hanya dapat diperoleh 3-5 umbi kentang G0, maka menggunakan teknologi aeroponik dapat dihasilkan 25-40 benih kentang G0.
Kondisi ini menunjukkan bahwa produksi G0 aeroponik memiliki banyak kelebihan, yaitu dapat memotong siklus perbenihan kentang, karena lebih hemat waktu dan biaya produksi, serta ramah lingkungan. Dengan demikian, pengembangan sistem aeroponik pada produksi umbi mini G0 tidak saja meningkatkan ketersediaan benih G0, tetapi juga dapat memperpendek rantai perbenihan kentang sehingga ketersediaan benih sumber nasional bagi petani kentang bisa lebih cepat dan meningkat.
Saat ini teknologi aeroponik sudah mulai diinisiasi oleh Kelompok Tani Harapan Baru yang beralamat di Jorong Galagah, Nagari Alahanpanjang, Kecamatan Lembahgumanti, Kabupaten Solok. Sebelumnya kelompok tani ini pernah melakukan penangkaran kentang melalui teknologi konvensional produksi G0.
Diperkenalkannya teknologi aeroponik, maka kelompok tani ini mencoba menyesuaikannya dengan teknologi baru ini. Instalasi aeroponik skala kecil sudah dibangun dalam upaya memperkenalkan dan melakukan uji coba penanaman dan produksi umbi G0.
Ke depan, diharapkan Kelompok Tani Harapan Baru dapat menjadi pioner pengembangan teknologi aeroponik di Sumbar untuk menyediakan benih kentang secara mandiri, serta mampu menyediakan benih kentang untuk petani di sekitarnya. (*) Editor : Hendra Efison