Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pengembangan Wisata Berbasis Komunitas di Kawasan Mandeh

Admin Padek • Jumat, 12 November 2021 | 06:39 WIB
Photo
Photo
Dr. Zefnihan AP, MSi                                      Doktor Kajian Lingkungan dan Pembangunan Fakultas Ekonomi UNP

Saat ini di Indonesia menurut Rizkianto (2018), perkembangan tren perjalanan wisatawan ditandai munculnya motivasi dan pola perjalanan wisata baru yang dilakukan oleh wisatawan. Khususnya pada segmen pasar wisatawan yang sudah matang dan berpengalaman (mature market), berpendidikan dan memiliki tingkat kepedulian tinggi terhadap isu-isu konservasi lingkungan dan pemberdayaan pada komunitas serta budaya lokal.

Perubahan dimaksud terkait dengan kecenderungan dari motivasi dan pola perjalanan wisata, yaitu dari wisata masal (mass tourism) ke arah wisata alternatif (alternative tourism). Hal ini bentuk penyeimbang terhadap perkembangan wisata massal yang begitu pesat dan dipandang kurang ramah lingkungan serta kurang berpihak pada komunitas lokal (Kemenpar, 2016).

Kementerian Pariwisata juga menjelaskan bahwa bentuk wisata alternatif tersebut seperti wisata petualangan (adventure tourism), hiking, trekking, bird watching, wild life viewing; wisata pedesaan (village tourism), dan sebagainya. Bentuk-bentuk kegiatan wisata alternatif perlu menjadi perhatian penting dalam pengembangan daya tarik wisata di Indonesia, khususnya terkait keragaman budaya dan keunikan alam.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka pengembangan wisata pedesaan (village tourism) atau desa wisata (tourism village) sebagai aset pariwisata menjadi alternatif yang dipandang sangat strategis untuk menjawab sejumlah agenda dalam pembangunan kepariwisataan.

Saat ini Provinsi Sumatera Barat sedang berfokus mengembangkan sektor pariwisata, termasuk di kawasan Mandeh yang menjadi salah satu destinasi unggulan. Kawasan Wisata Mandeh, tidak saja dipuji keindahan alamnya, namun juga banyak aktivitas yang berkaitan dengan potensi yang saling terkait, seperti kondisi sosial dan budaya setempat yang erat kaitannya dengan kekhasan wilayah pesisir.

Saat ini Kawasan Mandeh memiliki beberapa potensi produk wisata berbasis masyarakat yang telah diidentifikasi. Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan oleh Zefnihan, dkk (2017), ada beberapa bentuk produk wisata yang ditawarkan di Kawasan Mandeh. Di antaranya adalah: panorama alam, perahu wisata, kuliner, homestay, wisata minat khusus dan suvenir.

Penelitian ini juga memetakan bahwa dari semua kategori produk wisata di atas yang mencapai kategori baik hanya pada produk panorama alam. Sementara produk wisata lainnya mendapatkan capaian cukup baik yaitu: homestay, wisata minat khusus, perahu wisata, kuliner dan suvenir.

Pada pengamatan awal, ditemukan beberapa tantangan yang menjadi hambatan dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas ini, yaitu kurangnya kesiapan stakeholders dalam mendukung pengembangan pariwisata di Mandeh. Baik darisisi pemerintah daerah maupun dunia usaha dan masyarakat.

Dari sisi pemerintah daerah, belum adanya kebijakan yang terukur yang telah diimplementasikan di Kawasan Mandeh, terutama pada nagari-nagari yang ada sebagai basis pengembangan pariwisata berbasis komunitas.

Sementara dari sisi dunia usaha, belum adanya keseriusan minat dari investor menanamkan modalnya dalam pengembangan pariwisata di Mandeh dengan menggandeng komunitas setempat.

Sedangkan dari sisi masyarakat, belum adanya standar keterbukaan dan pemberian kualitas layanan terbaik kepada wisatawan.

Secara konseptual, komunitas menurut Hermawan Kertajaya (2008), adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya. Dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar-anggota komunitas karena adanya kesamaan interest atau values.

Dalam sebuah komunitas, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. (Wenger, 2002).

Komunitas adalah sebuah identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional.
Sementara, pariwisata berbasis komunitas adalah pariwisata di mana penduduk setempat dalam jumlah yang signifikan memiliki pengendalian substansial keterlibatan dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata.

Pariwisata tersebut dikelola dan dimiliki oleh komunitas untuk komunitas, dalam upaya meningkatkan kesadaran wisatawan akan komunitas tersebut dan bagaimana kehidupan mereka.

Kesuksesan wisata berbasis komunitas cukup sulit, karena meliputi beragam variabel dan kualitas. Namun dengan mendalami konsep-konsep wisata berbasis komunitas dari para pakar, dapat diidentifikasi bahwa wisata berbasis komunitas dikatakan sukses bila memiliki dampak positif terhadap kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan penduduk setempat.

Wisata berbasis komunitas dikatakan baik, jika wisatawan memberikan keuntungan pada komunitas tuan rumah kawasan wisata.

Berdasarkan hasil penelitian disertasi penulis yang dipromotori Prof. Dr. Bustari Muchtar dan Dr. Susi Evanita, MS dari Program Studi Kajian Lingkungan dan Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang, dan diuji Komisi Penguji yang terdiri dari Prof. Ganefri, Ph.D, Prof. Dr. Agus Irianto, Prof. Dr. Syamsul Amar, Prof. Dr. Hasdi Aimon, M.Si, Dr. Marwan, M.Pd, dan Penguji Eksternal Prof. Dr. Eng. Fauzan, ST, M.Sc.Eng, pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Kawasan Mandeh harus dimulai dari penyamaan persepsi dan semangat yang sama bagi seluruh pemangku kepentingan yang terlibat.

Dukungan dari pemangku kepentingan, baik dari pemerintah pusat/daerah/nagari, dunia usaha, perguruan tinggi dan aktivis serta komunitas itu sendiri diperlukan.

Komunitas di Kawasan Mandeh tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan bantuan, dukungan, bimbingan dan pendampingan agar bisa berdaya dan sejahtera. Khususnya pada deskriptor dukungan pemerintah dibutuhkan implementasi dengan komitmen dan konsisten, yaitu, pertama, penegakan aturan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata bagi seluruh pihak yang terlibat, baik wisatawan ataupun masyarakat setempat.

Kedua, memenuhi kebutuhan-kebutuhan ketersediaan regulasi sehingga didapat kepastian hukum bagi semua pemangku kepentingan di Kawasan Mandeh.

Ketiga, memfasilitasi pembentukan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang mendukung pembangunan dan pengembangan Kawasan Mandeh.

Keempat, melakukan pendampingan terhadap organisasi maupun kelompok-kelompok masyarakat yang terlibat dalam memajukan Kawasan Mandeh sebagai destinasi.

Kelima, melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan regulasi dan aktivitas pariwisata di Kawasan Mandeh.

Keenam, memfasilitasi mengkoordinasikan dan mengoptimalkan peran pemangku kepentingan di Kawasan Mandeh sehingga menjamin keterlibatan dukungan dunia usaha dan investor. Selain itu, mengoptimalkan peran cendekiawan dan perguruan tinggi, serta membuka seluas-luasnya kesempatan bagi pegiat pariwisata terlibat dalam pengembangan pariwisata di Kawasan Mandeh.

Dalam mengoptimalkan peran komunitas di Kawasan Mandeh, beberapa lainnya perlu dilakukan, yakni, pertama, memastikan partisipasi komunitas dalam setiap proses pengembangan dan pembangunan Kawasan Mandeh sebagai destinasi. Mulai dari merumuskan kebijakan, pelaksanaan pembangunan dan dalam menerima manfaat dari pengembangan pariwisata.

Kedua, pengembangan kapasitas dan kemampuan yang dapat dilakukan melalui pelatihan, belajar secara otodidak dan melihat serta mempelajari daerah-daerah yang sudah lebih dahulu maju pengembangan pariwisatanya sehingga muncul inovasi-inovasi lokal dalam mencari solusi terbaik bagi mereka.

Ketiga, masyarakat Kawasan Mandeh menentukan pemimpin-pemimpin lokal yang dapat menggerakkan seluruh sumber daya guna mewujudkan rencana-rencana yang telah disusun dan disepakati.

Keempat, masyarakat Kawasan Mandeh bersepakat di dalam membentunk organisasi bersama dalam mengelola kawasan, sehingga mempunyai posisi tawar kuat dalam penentuan arah dan kebijakan pengembangan kawasan. Lalu, dapat menjadi wadah dalam memperjuangkan masyarakat dalam menjadikan kawasan pariwisata sebagai pemberi kesejahteraan yang berkelanjutan.

Kelima, perlunya merancang sejumlah kebijakan dan program khususnya dalam memperkuat komunitas untuk pengembangan pariwisata di Kawasan Mandeh yang lebih optimal. Komunitas harus menjadi subjek, bukan sekadar objek dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Kebijakan dan program tersebut mesti berfokus pada penguatan deskriptor kepemimpinan komunitas, organisasi komunitas dan partisipasi komunitas.

Keenam, pentingnya memperhatikan konsep pariwisata berkelanjutan untuk diterapkan di Kawasan Mandeh karena paling relevan dan memastikan upaya pencapaian kesejahteraan masyarakat, kelestarian lingkungan dan sosial budaya berjalan seimbang sehingga mendatangkan manfaat yang besar bagi mereka tanpa harus merusak lingkungan.(*) Editor : Admin Padek
#wisata berbasis komunitas #Universitas Negeri Padang #Doktor Kajian Lingkungan dan Pembangunan #Doktor Fakultas Ekonomi UNP #Zefnihan #Ganefri #Sekkab Sijunjung Zefnihan