Banyak ahli mengatakan bahwa puasa adalah kebutuhan umat manusia yang disyariatkan karena tubuh kita ini butuh istirahat dalam waktu tertentu. Puasa dari dimensi kesehatan bertujuan, salah satunya, supaya organ tubuh bisa bekerja dengan baik.
Dengan demikian, tidak salah kiranya, hampir seluruh ajaran agama -baik Samawi maupun “Ardhi”- mengenalkan dan mengajarkan tentang puasa, sesuai dengan “syariat”-nya masing-masing.
Apabila dibaca dan direnungkan dengan baik firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf ayat 19 dan 20, godaan awal kehidupan manusia adalah makanan. Dari sekian banyak pilihan makanan syurga yang dapat dinikmati oleh Adam AS, hanya satu yang dilarang (buah khuldi), tapi Adam tidak mampu mengendalikan diri karena bujukan setan.
Tindakan Adam ini mengakibatkan sesuatu yang sangat fatal bagi keluarganya (keturunannya), sehingga Adam dan Hawa diusir dari suurga. Dengan demikian puasa dapat dikatakan adalah latihan pengendalian diri. Di bawah ini saya kutipkan terjemahan kedua ayat tersebut.
“Dan (Allah berfirman), “Wahai Adam! Tinggallah engkau bersama istrimu dalam surga dan makanlah apa saja yang kamu berdua sukai. Tetapi janganlah kamu berdua dekati pohon yang satu ini. (Apabila didekati) kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”
Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup. Dan (setan) berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).”
Dalam realitas kehidupan anak manusia pengendalian diri itu menjadi sangat penting dalam setiap status dan fungsi yang mereka jalankan. Mulai dari status dan fungsi yang mereka jalankan dalam rumah tangga, di masyarakat, jalan, tempat kerja dan lain sebagainya.
Betapa banyak orang lupa status dan fungsi di rumah. Ketika ia lupa dengan statusnya sebagai ayah—bagi seorang laki-laki—, maka fungsi yang harus ia jalankan adalah membimbing dan mendidik anak-anak secara baik.
Kalau ia lupa status tersebut, maka ia bisa memperkosa anaknya kalau yang dia jalankan status lain. Begitu juga ketika berada di tengah masyarakat, maka statusnya adalah sebagai anggota masyarakat, maka ia harus menjalankan fungsi-fungsi sebagai anggota masyarakat.
Ia tidak boleh bertindak sebagai anggota keluarga di rumah. Demikianlah seterusnya, baik itu sebagai guru, dosen, polisi, tentara, jaksa, hakim, lurah, camat, wali kota, bupati, gubernur, presiden, wakil rakyat dst, sampai kepada statusnya sebagai hamba Allah.
Maka ia harus menjalankan fungsi-fungsi sesuai dengan status yang ia sandang. Fir’aun merasa menjadi Tuhan ketika ia lupa status sebagai hamba Allah. Akhirnya ia dibenamkan di laut merah.
Banyak hal yang menyebabkan kita lupa status itu, tapi secara umum karena kita ditipu oleh dunia, karena kita menyangka bahwa dunia sebagai tujuan dan akhir hidup kita. Maka dari itu perlu direnungkan Firman Allah SWT berikut ini;
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”
“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadid 57: Ayat 20 dan 21).
Al Quran sebagai bukti kasih sayang Allah SWT kepada kita, diturunkan-Nya Al Quran itu sebagai petunjuk agar kita tidak sesat dan terlena dengan dunia ini. Allah memberi tahu bahwa dunia ini adalah kesenangan yang menipu. Dunia hanya permainan, sendagurau, perhiasan, tempat saling berbangga, untuk mendapatkan sesuatu sebanyak-banyaknya baik anak dan harta.
Hari ini banyak kita tonton atau dipertontonkan dihadapan kita orang-orang yang sudah tertipu oleh dunia. Allah mengibaratkan bagaikan sebatang pohon yang sudah lapuk dan hancur tidak berguna lagi.
Coba bayangkan sebatang pisang yang daunnya sudah terkulai turun, menjadi kering kerontang (karisiak). Kemarin mereka menjadi orang “terhormat” sekarang dihina. Kemewahan dan kekayaan dunia yang didapat tidak berguna.
Bagi umat muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Allah saying kepada kita, selagi masih hidup dunia kita diminta berpacu, berlomba-lomba untuk kembali ke Allah mendapatkan maghfirah dan syurga-Nya.
Ramadhan adalah salah satu bentuk “hidangan” Allah kepada hambanya untuk dinikmati dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya guna mendapatkan ridha-Nya. Semoga kita semua bersama Nabi-Nya dan orang-orang saleh di syurga-Nya nanti. Bergembira ketika berbuka dan ketika kembali kepada-Nya. Aamiin. (Awis Karni, Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang) Editor : Novitri Selvia