Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Destinasi Branding Desa Wisata Berkelanjutan

Admin Padek • Minggu, 25 Juni 2023 | 16:28 WIB
Satria Haris, Post-Doctoral BRIN Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri Kelompok Riset Desa.
Satria Haris, Post-Doctoral BRIN Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri Kelompok Riset Desa.
Oleh: Satria Haris
Post-Doctoral BRIN
Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri
Kelompok Riset Desa.

DESA wisata berkelanjutan berfokus keberlanjutan lingkungan, keberlanjutan sosial dan pertumbuhan ekonomi.

Mengacu pada defenisi sustainable tourism, pariwisata berperan dalam memerhatikan dampak lingkungan, sosial, budaya serta ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.

Hal tersebut senada dengan konsep destination branding, yaitu untuk warga, wisatawan dan investor.

Mengapa? Pertama, ditujukan untuk warga agar merasa aman, nyaman dan produktif sehingga bisa hidup sejahtera. Kedua, untuk wisatawan agar bisa berlibur dengan pengalaman dan sensasi baru. Terakhir, bagi investor agar dapat berbisnis dengan aman dan menguntungkan.

Pengelolaan sumber daya atau aset dan pengembangan produk yang dimiliki oleh destinasi, merepresentasi otentisitas, karakter dan jati diri serta kualitas. Destinasi branding diperlukan dalam pengungkapan potensi lokal pada desa wisata.

Destination branding merupakan platform pemberdayaan, pengembangan dan pemasaran potensi destinasi secara terpadu.

Pemberdayaan masyarakat dapat menghasilkan kualitas pada sumber daya manusia (service) . Pengembangan potensi lokal dapat menghasilkan produk inovasi yang berkarakter (product signature).

Pemasaran dapat lebih optimal jika service dan product signature dari destinasi telah siap untuk dikunjungi wisatawan.

Terdapat tiga contoh destinasi branding pada desa wisata berkelanjutan di Indonesia. Pertama, Desa Ponggok di Klaten menjadi desa terkaya di Indonesia dengan penghasilan desa per tahun mencapai Rp14 miliar melalui pemanfaatan potensi alam.

Dulunya, air yang berlimpah hanya digunakan untuk irigasi sawah dan perkebunan saja dan sekarang wisatawan bisa berenang, snorkeling, latihan menyelam, hingga berswafoto di bawah air.

Desa Panglipuran di Bali dinobatkan sebagai desa terbersih di dunia, mengapa? Karena salah satu aturan yang menarik adalah larangan menggunakan kendaraan di daerah desa. Tujuannya menjaga kebersihan udara di desa tersebut.

Ketiga, desa terindah di Nagari Tuo Pariangan Sumatera Barat, berkembang pesat sejak adanya publikasi dari Travel Budget USA pada tahun 2012.

Artikel World’s 16 Most Picturesque Village yang ditulis Sandra Ramani dan dipublikasikan pada 23 Februari di tahun yang sama, Pariangan disandingkan dengan Shirakawa-go di Jepang, Eze di Perancis dan Niagara-on-the-lake di Kanada dan desa-desa lainnya sebagai 16 desa terindah di dunia.

Artikel tersebut kemudian memancing rasa ingin tahu wisatawan untuk mengenal Pariangan lebih dekat. (Sumber: Kemenparekraf RI).

Tiga desa wisata di atas dapat menjadi referensi untuk destinasi branding. Locally globally, melalui pengungkapan potensi lokal desa wisata dapat mendunia dan dikenal melalui platform komunikasi yang ada.

Ribuan desa wisata di Indonesia terus bertumbuh dengan angka yang sangat signifikan yaitu 4.674 atau naik 36,7 % di tahun 2023.

Salah satu dari empat indikator yang harus diperhatikan dalam desa wisata berkelanjutan, yaitu sumber daya manusia (SDM). Selanjutnya, akan dibahas tentang sinergi multi-stakeholder pada desa wisata berkelanjutan.(*) Editor : Admin Padek
#branding #desa wisata #desa ponggok #Desa Panglipuran #Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri #Desa Wisata Berkelanjutan #Satria Haris #Desa Nagari Tuo Pariangan