Post-Doctoral BRIN, Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri, Kelompok Riset Desa.
SUSTAINABLE tourism adalah pariwisata yang memerhatikan dampak terhadap lingkungan, sosial, budaya serta ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat, pada tahun 2023 ada 4,674 desa wisata di Indonesia.
Jumlah tersebut bertambah 36,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya 3.419 desa wisata saja. Potensi desa wisata yang ada menjadi posisi tawar tersendiri dalam pengembangannya. Hal ini senada dengan konsep destinasi branding yaitu untuk warga, wisatawan dan investor.
Multi-stakeholder desa wisata siapa saja? Stakeholder dengan konsep pentahelix, terdiri dari akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah dan media.
Akademisi berperan menghasilkan riset terbaru sebagai acuan dalam usulan kebijakan dan merancang model pengembangan desa wisata berkelanjutan.
Bisnis berperan dalam menyiapkan hilirisasi produk yang dihasilkan oleh desa wisata.
Komunitas berperan dalam melakukan aktivasi/ gerakan bersama masif dan berkelanjutan pada desa wisata.
Pemerintah sebagai fasilitator dapat merumuskan kebijakan dalam pengembangan desa wisata. Kemudian, Media berperan dalam ekspose informasi baik offline dan online.
Adapun Helix ke-6 yaitu agregator, menyatukan berbagai sumber daya berbeda, yang sepertinya tidak saling berhubungan di satu platform (Moghaddam dan Moballeghi 2007).
Sebuah agregator mengumpulkan dan juga berlaku sebagai perantara (Tapsavi, 2009).
Agregator merupakan suatu perusahaan/ pelaku yang menyediakan platform untuk agregasi. Sebuah off-taker untuk beragam barang/ produk langsung dari sumbernya dan membuatnya mudah didapat di pasaran. Perjalanan helix mulai dari triple helix, penta helix sampai hexa helix terangkum pada kerangka ICCN (FSatari & DLarasati, 2021).
Sebelum masuk tahap sinergi, perlu diketahui tiga komponen dari desa wisata:
Pertama, pihak desa harus mengetahui kondisi alam atau ekosistem di wilayah tersebut. Apakah mendukung lokasi wisata atau tidak (ekosistem desa).
Kedua, desa wisata diharapkan dikelola oleh masyarakat setempat. Untuk itu, perlu adanya SDM memadai agar pembangunan dan perkembangan desa wisata bisa lebih optimal (keadaan masyarakat).
Ketiga, buatlah konsep desa wisata seunik mungkin agar memberikan nilai tambah dari desa wisata lainnya (konsep desa wisata).
Prinsip utama dari desa wisata adalah desa membangun. Hal ini berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut dalam mengembangkan usaha produktif sesuai sumber daya dan potensi lokal.
Desa wisata adalah sebuah konsep komunitas atau masyarakat yang memiliki kepedulian atau kesadaran terhadap potensi dari wilayahnya sebagai destinasi wisata.(Fortune Indonesia, 2023).
Indonesia memiliki desa terindah di Nagari Pariangan Kabupaten Tanahdatar, desa terbersih di Penglipuran Bali dan desa terkaya di Ponggok Klaten. Desa wisata berkelanjutan dapat terwujud melalui Sinergi Multi-stakeholder yang terlaksana secara kolaboratif.
Sinergi adalah membangun dan memastikan hubungan kerja sama produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan berkualitas.
Hal yang perlu diperhatikan dalam sinergi yaitu mau mendengar dan sama-sama belajar untuk keberlanjutan. Ibarat pepatah dari bumi minang ‘Basamo Mangko Manjadi’.(*) Editor : Admin Padek