Kita harus berpikir apa yang akan kita wariskan untuk generasi mendatang sebagai hak mereka, dan apa yang harus mereka lakukan Oleh sebab itu kita harus berpikir dan turut mengambil bagian dalam menyelamatkan hutan. Menyelamatkan hutan berarti turut menyelamatkan paru-paru dunia, dan menyelamatkan generasi yang akan datang.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam penyelamatan hutan adalah dengan melakukan perlindungan dalam bentuk kawasan. Dalam hal ini penulis berinisiatif membuat sebuah kawasan berupa Kawasan Hutan Edukasi dengan berbagai fungsi dan berbagai tujuan.
Kawasan tersebut bernama “Kawasan Hutan Edukasi Fastabiqul Khairot”, yang berada di Simpang Lolo, Kenagarian Rabijonggor, Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, lebih kurang 60 kilo meter dari Simpang Empat, Ibu kabupaten Pasaman Barat.
Kawasan ini memiliki berbagai fungsi dan tujuan, baik untuk kepentingan lingkungan, kepentingan pendidikan, ekonomi dan kepariwisataan, dan sosial. Pembentukan kawasan memiliki beberapa tujuan sesuai dengan fungsinya, yaitu untuk kepentingan lingkungan, baik sebagai portal untuk kawasan Daerah Aliran Sungai. DAS Batang Kenaikan bagian hulu, sekaligus untuk pelestarian lingkungan.
Selain itu, juga untuk kepentingan pendidikan, pariwisata, ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat. Untuk eksistensi kawasan, maka perlu disusun perencanaan dengan baik, untuk itu pula data tentang kawasan, salah satau data tersebut menyangkut karakteristik kawasan. Karakteristik dimaksud berkenaan dengan luas kawasan, lereng, ketinggian tempat, curah juan, dan tutupan lahan kawasan.
Kajian berikut ini merupakan kegiatan pengabdian yang kami lakukan bersama pada kawasan hutan edukasi tersebut sebagai bagian dari Tridarma Perguruan Tinggi Berdasarkan survei dan analisis data yang dilakukan, maka karakteristik Kawasan Hutan Edukasi Fastabiqul Khairot, adalah sebagai berikut: Luas kawasan hutan edukasi didasarkan pada lahan (hutan adat) yang dihibahkan oleh Ninik Mamak Simpang Lolo untuk kawasan tersebut.
Berdasarkan penuturan yang diberikan oleh Ninik Mamak akan batas batas kawasan dengan hutan fungsi lain, maka dibuatlah peta sementara kawasan, dan dari peta tersebut dapat dihitung luas kawasan, yaitu lebih kurang 4.347 hektar atau kawasan hutan edukasi fastabiqul khairat ini berkisar 4.347.700 M2.
Dilihat dari morfologi, kawasan hutan edukasi fastabiqul khairot terdapat dua jenis morfologi yaitu denudasional dan vulkanis. Umumnya bentuk lahan ini terdapat pada daerah dengan topografi perbukitan atau gunung dengan batuan yang mudah lapuk.
Salah satu ciri bentuk lahan asal vulkanisme kawasan hutan edukasi ini terletak pada kawasan pegunungan, dan dekat dari kawasan ini juga terdapat sumber air panas yang membuktikan bahwa proses pembentukan lahan asal vulkanisme. Dilihat dari kemiringan lereng, Kawasan Hutan Edukasi Fastabiqul Khairat terdiri dari 5 kriteria.
Dimana tingkat kemiringan lereng datar berkisar 686 M2, landai 1741 M2, agak curam 5220 M2, curam 19078 M2, dan yang terakhir sangat curam 34853 M2. Dari data tersebut tingkat kemiringan lereng kawasan didominasi oleh kemiringan lereng curam dan sangat curam Kemiringan lereng kawasan merupakan salah satu faktor pentingnya daerah ini dilindungi, menjadi sebuah kawasan, dalam hal ini Kawasan Hutan Edukasi Fastabiqul Khairot.
Berdasarkan analisis data yang dilakukan, yaitu dengan melakukan overlay peta kawasan dengan citra landsat 8 dan survei lapangan yang dilakukan, maka diketahui tutupan lahan kawasan didominasi oleh hutan, baik hutan primer maupun hutan sekunder. Berdasarkan survei lapangan, ditemukan masih luas lahan kawasan yang belum pernah dijamah oleh manusia sebagai hutan primer, dan hutan sekunder dengan usia puluhan tahun.
Sesuai penuturan Ninik Mamak Simpang Lolo, hutan sekunder yang ada pada kawasan hutan edukasi ini sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun. Dari sisi tutupan lahan, hampir seluruh kawasan tertutup oleh hutan, dan sedikit sekali yang terbuka sebagai singkapan karena longsor. Untuk lebih jelasnya perhatikan peta tutupan lahan berikut ini; Curah hujan merupakan karakteristik penting dari kawasan.
Berdasarkan data curah hujan bulanan, hasil pencatatan hujan pos Gunung Tuleh, Kabupatan Pasaman Barat tahun 2020 sampai dengan 2022,yang diperoleh dari stasiun meteorologi Sicincin ternyata curah hujan terendah ada pada bulan Februari tahun 2021 yaitu 110 milimeter (mm), dan cenderung pada bulan tersebut pada tahun pencatatan (2020 sampai dengan 2022) merupakan curah hujan terendah.
Sedangkan curah hujan tertinggi adalah 893 mm terjadi pada bulan Maret tahun 2021, diikuti bulan April tahun 2020 yaitu 636 mm, dan 635 mm pada bulan Desember tahun 2021. Apabila dibandingkan tiga tahun berturut-turut; 2020, 2021, dan 2022 curah hujan tahunan maka diperoleh curah hujan tahunan tahun 2020 sebesar 4375 mm, tahun 2021 4961 mm, dan tahun 2022 3654 mm.
Sebagai catatan penting bahwa pos pengamatan Gunung Tuleh merupakan pos pencatatan hujan terdekat dengan kawasan hutan edukasi, dan kawasan hutan edukasi ini berada pada Kecamatan Gunung Tuleh, Pasaman Barat. Berdasarkan data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa kawasan Hutan Edukasi Fastabiqul Khairot berada pada curah hujan tinggi, yang tergolong pada tipe iklim basah.
Itulah beberapa karakteristik kawasan hutan edukasi Fastabiqul Khairot yang berhasil dihimpun dan disajikan, namun tentunya banyak lagi karakteristik kawasan yang perlu digali dan diungkapkan baik untuk kepentingan rencana pembangunan dan pengembangan kawasan, maupun kepentingan lain yang sifatnya konstruktif. (PAUS ISKARNI, HELFIA EDIAL, AHYUNI, Pengajar Departemen Geografi FIS UNP) Editor : Novitri Selvia