Secara global, HDI Indonesia tahun 2020 berada di peringkat ke-116 dengan nilai 0,709. Tapi, angka tersebut masih tertinggal dibandingkan negara ASEAN lain seperti Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand yang masuk kategori very high human development.
Salah satu penyebab tertinggalnya Indonesia adalah kualitas pendidikan dan usia harapan hidup (UHH) yang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara tersebut.
Pada 2020, UHH orang Indonesia adalah 73,37 tahun. Angka itu meningkat dibandingkan pada 2006, yakni 65 tahun pada laki-laki dan 68 tahun pada perempuan.
Sebenarnya harapan hidup tidak hanya sebatas panjang umurnya, tetapi juga berkualitas. Hal itu bisa dilihat pada angka HALE (healthy life expectancy). Di kalangan pria, Bali memiliki angka HALE tertinggi dan Papua terendah.
Sementara di kalangan wanita, Kalimantan Utara memiliki angka HALE tertinggi dan Maluku Utara terendah. Harapan hidup laki-laki di seluruh Indonesia meningkat dari 62,5 tahun menjadi 69,4 tahun antara 1990 dan 2019, terjadi pertambahan 6,9 tahun.
Untuk perempuan pada periode yang sama, harapan hidup meningkat dari 65,7 tahun menjadi 73,5 tahun atau meningkat 7,8 tahun. Akan tetapi, masih terdapat kesenjangan besar antarprovinsi.
Sementara itu, sensus penduduk tahun 2020 melaporkan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270.203.917 jiwa dengan komposisi hampir 54 persen adalah generasi milenial dan generasi Z. Sebanyak 10,88 persen adalah post gen-Z.
Ketiga kelompok tersebut merupakan modal potensial untuk mencapai Indonesia Emas pada 2045, asalkan kelompok “65 persen” tersebut merupakan kelompok yang sehat!
Pencegahan Penyakit
Sejak 2001, Indonesia menghadapi transisi epidemiologi. Karena epidemiologi itu, penyebab kematian tidak lagi didominasi penyakit infeksi, akan tetapi didominasi penyakit tidak menular (PTM).
Data WHO menunjukkan, enam dari sepuluh penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia pada 2019 adalah PTM. Penyakit tertinggi adalah stroke 131,8 kematian per 100.000 penduduk.
Peringkat kedua, penyakit jantung iskemik 95,68 kematian per 100.000 penduduk dan disusul diabetes melitus dengan 40,78 kematian per 100.000 penduduk.
Jika mengacu pada kelompok “65 persen”, maka dalam periode menuju 2045 akan terjadi 200 ribuan kasus stroke, hampir 170 ribu kasus penyakit jantung iskemik, dan 1.300-an kasus kencing manis.
Tentunya kita tidak mau salah satu dari kita, anak kita, orang tua kita, saudara kita, maupun teman kita masuk dalam angka-angka tersebut.
Karena itu, upaya pencegahan penyakit harus menjadi prioritas dalam pembangunan kesehatan. Sementara diketahui bahwa PTM banyak berkaitan dengan gaya hidup tidak sehat, pola makan tinggi karbohidrat tinggi lemak, kurang olahraga, merokok, dan minum alkohol.
Penyebab Cacat di Indonesia
Enam faktor risiko utama penyebab kehilangan produktivitas akibat cacat (DALYs lost) di Indonesia adalah tekanan darah tinggi, penggunaan tembakau, pola makan tidak sehat, glukosa darah tinggi, body mass index (BMI) tinggi, serta malnutrisi pada anak dan ibu.
Tekanan darah tinggi dan penggunaan tembakau termasuk di antara lima faktor risiko utama di seluruh provinsi. Kedua faktor risiko tersebut adalah faktor risiko utama dalam berbagai penyakit serius, terlebih pada penyakit tidak menular (PTM).
Hipertensi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal. Penggunaan tembakau berkaitan dengan kanker paru-paru, mulut, dan banyak jenis kanker lain, serta masalah pernapasan seperti PPOK (penyakit paru obstruktif kronis) dan emfisema. Keduanya juga berkontribusi pada masalah kesehatan mental dan kualitas hidup yang buruk.
Sejatinya dua faktor risiko tersebut dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup yang sehat. Menghentikan merokok, mengurangi konsumsi tembakau, dan mengelola tekanan darah dengan perubahan pola makan dan aktivitas fisik yang tepat merupakan langkah penting mencegah berbagai penyakit yang terkait dengan kedua faktor tersebut.
Karena itu, sangat penting untuk mengambil tindakan pencegahan yang tepat, menjaga kesehatan, dan mengurangi risiko penyakit yang serius untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Juga program kesehatan masyarakat yang efektif menghemat biaya medis untuk menyelamatkan nyawa. Program kesehatan masyarakat berkontribusi lebih banyak terhadap pencegahan penyakit daripada pengobatan.
Menurut sebuah analisis, harapan hidup orang Amerika meningkat dari 45 menjadi 75 tahun selama abad ke-20. Hanya lima dari 30 tahun tambahan tersebut dapat dikaitkan dengan sistem perawatan medis.
Artinya, lebih dari 80 persen peningkatan harapan hidup berasal dari kontribusi non perawatan medis. Yaitu, program kesehatan masyarakat, yang secara luas didefinisikan sebagai penyediaan nutrisi, perumahan, sanitasi, dan keselamatan kerja yang lebih baik.
Karena itu, salah satu tanggung jawab pemangku kepentingan kesehatan masyarakat adalah mendidik masyarakat dan politisi tentang peran penting pencegahan penyakit, terutama pencegahan primer. Tentunya program kesehatan masyarakat membutuhkan dukungan dari anggota masyarakat –sebagai penerima manfaat.
Pencegahan primer adalah mencegah seseorang sakit, mencegah terjadi penyakit atau cedera dengan mencegah paparan faktor risiko, atau menjaga agar orang tetap sehat. Tentu kita semua sepakat untuk bisa meraih Indonesia Emas 2045, bukan Indonesia cemas. (Santi Martini, Guru Besar di Fakultas Kesehatan Masyarakat
(FKM) Unair) Editor : Novitri Selvia