Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Lembah Anai Terpapar Galodo

Novitri Selvia • Senin, 13 Mei 2024 | 15:14 WIB

Isril Berd, Ketua Forum DAS Sumatera Barat.(Padek.co)
Isril Berd, Ketua Forum DAS Sumatera Barat.(Padek.co)
Sumber daya alam (SDA) dalam suatu daerah aliran sungai (DAS), baik SDA hayati maupun SDA nonhayati telah dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kepentingan konsumsi dan produksi ekonomi masyarakat. Hal ini seringkali membawa konsekuensi terjadinya tumpang-tindih kepentingan dan kewenangan pengaturan pengelolaan SDA oleh instansi yang berbeda.

Konflik pemanfaatan sumber daya seringkali terkait dengan belum berjalannya keterpaduan antarsektor dan antarwilayah dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemantauan dan evaluasi pengelolaan DAS.

Bila dicermati DAS Anai ini memiliki posisi yang strategis dengan adanya jalan lintas barat yang menghubungkan Kota Padang dengan Kabupaten Tanahdatar, Kota Padangpanjang, dan Kota Bukittinggi, dan juga sebagai jalan lintas yang menghubungkan Sumbar dengan Sumatera Utara dan Riau. Sepanjang aliran Batang Anai, kiri dan kanan wilayah hamparannya banyak sekali aktivitas kehidupan masyarakat.

Mulai dari pertanian sawah ladang, padang pengembalaan ternak, pemukiman penduduk, galian sirtukil, kawasan wisata sekitar lembah Anai seperti water boom, permandian play ground childen, rumah ibadah, resto dan bangunan lainnya. Kesemuanya harus waspada terhadap ancaman bencana longsor dan banjir bandang tersebut yang bisa datang secara tiba-tiba.

Berdasarkan analisis peta jaringan sungai, didapatkan panjang sungai utama pada DAS Anai adalah 91 km. Sungai terpanjang pada DAS Anai dihitung dari outlet sampai ke sumber asal air adalah sepanjang 151 km.

Perbedaan Tinggi DAS berdasarkan elevasi rata-rata dan variasi ketinggian pada DAS merupakan faktor penting yang mempengaruhi temperatur dan pola hujan, khususnya pada daerah-daerah dengan topografi berbukit. Dari hasil analisis peta topografi diketahui titik tertinggi dihulu DAS adalah 2.670 m dpl dan terendah dimuara Anai lebih kurang 0.7 meter.

Prediksi bencana yang mungkin melanda DAS Anai didasari karena DAS Anai dinilai sudah mulai kritis sebab kualitas hutan dan vegetasi tutupan lahan sudah mengalami kemerosotan fungsinya. Baik di kawasan hulu maupun bahagian tengah yang juga bertopografi lereng sampai curam.

Kondisi ini akan menyebabkan fungsi hidrologis DAS akan berkurang. Terutama kemampuan mengifiltrsikan air hujan untuk disimpan di ruang pori tanah. Baik pori makro maupun pori mikro di lapisan zona vadose atau zona soil unsaturated dan akan lebih terdorong terjadinya air larian (run off) dipermukaan tanah yang sudah mengalami degradasi tersebut.

Ini diindikasikan oleh karakter pola hidrograf aliran sungai yang sangat fluktuatif sekali antara musim kering dan musim hujan dan banyaknya muatan sedimen melayang dan mengendap pada aliran sungai. Ilustrasi ini akan menyebabkan debit aliran sungai menjadi bertambah besar ketika hujan terjadi dengan intensitas tinggi pula.

Bila hujan terjadi di hulu DAS Anai, di dua lokasi hulu yaitu Kabupaten Tanahdatar seluas 25,18% (15.511,60 Ha) di kaki Gunung Merapi dan Kabupaten Agam 0,68% (416,02 Ha) di kaki Gunung Singgalang, di mana kedua wilayah tersebut memiliki kawasan tangkapan airnya (catchment area) yang luas dengan laju aliran yang relatif sangat cepat mengumpul dan mengalir ke hilir DAS Anai, maka kawasan Lembah Anai akan diterjang banjir bandang seperti yang terjadi 11 Mei lalu.

Tingkat kekritisan DAS Anai ini hanya terdapat pada daerah Padangpanjang, Kotobaru, Agam dan sekitarnya yang merupakan daerah hulu yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Namun secara umum DAS Anai cenderung memperlihatkan tingkat kritis. Hal ini apabila dilakukan pengelompokan tingkat kekritisan lahan atas lahan tidak kritis dan lahan kritis.

Lahan tidak kritis (TK) terdapat seluas 44.3% sedangkan lahan kritis (LK) dari potensial kritis samapai sangat kritis seluas 55,7%. Nilai yang ditunjukkan oleh lahan kritis, apabila tidak cepat ditindaklanjuti akan menimbulkan masalah untuk DAS Anai yang berkepanjangan dikemudian hari.

Kekhawatiran tersebut dimungkinkan juga karena saat ini terjadinya curah hujan ekstrem di masa triple planetry crisis ini yang menyebabkan terganggunya pola hidrologi, sebagai bukti nyata betapa sebahagian daerah di Sumbar banyak dilanda banjir dan longsor di awal tahun. Banjir dan longsor itu telah banyak menelan korban jiwa dan harta, seperti di awal Maret 2024 yang lalu.

Banjir dan longsor terjadi DAS Suratih dan DAS Tarusan di Kabupaten Pesisir Selatan. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam suatu DAS diharapkan akan tercapai seiring dengan tercapainya kondisi tata air DAS yang optimal dan kondisi lahan yang produktif.

Tujuan tersebut dapat dicapai melalui koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi (KISS) antar para pemangku kepentingan dalam pengelolaan SDA dan lingkungan DAS. Sehingga, pengelolaan DAS menjadi sangat penting diprioritaskan.

Terutama bila melihat kenyataan bahwa telah terjadi penurunan kualitas lingkungan DAS akibat pola pengelolaan sumber daya yang tidak ramah lingkungan dan meningkatnya potensi konflik kepentingan para pemangku kepentingan yang terkait (stakeholder). (Isril Berd, Ketua Forum DAS Sumatera Barat)

Editor : Novitri Selvia
#Isril Berd #das #Galodo #lembah anai