Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bencana dan Ulah Manusia

Novitri Selvia • Kamis, 30 Mei 2024 - 14:33 WIB

Yulihasri, Dosen Universitas Andalas.(Padek.co)
Yulihasri, Dosen Universitas Andalas.(Padek.co)
BENCANA alam di Sumbar akhir-akhir ini terjadi beruntun. Hampir meliputi seluruh wilayah. Mulai dari erupsi gunungapi, banjir bandang, banjir lahar dingin, kebakaran hutan dan longsor.
Bencana beruntun ini telah memberikan dampak masif terhadap kehidupan Masyarakat.

Baik secara ekonomi, sosial, kerusakan alam, mental bahkan korban jiwa. Kita ikhlas menerima bencana beruntun ini kalau penyebabnya adalah takdir dari Allah, fenomena alam. Tapi jangan lupa, bencana itu terjadi juga karena ulah manusia sendiri.

Kemudian, pembangunan yang salah berisiko menyebabkan terjadinya bencana, walaupun pembangunan itu kita perlukan untuk pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan untuk kemajuan suatu bangsa. Tapi kalau pembangunan itu tidak memperhatikan keseimbangan alam maka akan ikut sebagai penyumbang terjadinya bencana alam.

Kita menyayangkan bahwa di Sumbar ada sisi pembangunan yang dilakukan dengan mengabaikan keseimbangan alam. Seperti contoh kasus yang kita ketahui bahwa ada jalan rusak berat ke arah Solok Selatan disebabkan banyaknya tambang galian pasir yang rawan terhadap longsor dan banjir.

Ini disebabkan oleh banyaknya pengusaha yang menambang di sana dengan mudah mendapatkan izin dari pemerintah yang berwenang. Selanjutnya, ada juga kasus mudahnya membangun hotel dan restoran di daerah yang terlarang dari sisi kepentingan keseimbangan alam.

Dengan kata lain banyak terjadi pembiaran pelanggaran yang dilakukan oleh oknum tertentu demi kepentingan bisnis pribadi, keluarga atau kelompok.

Oleh sebab itu, mari kita bersama-sama, baik pemerintah, para tokoh dan masyarakat untuk tidak mengulang lagi kesalahan dalam membangun dan selalu memprioritaskan keseimbangan alam. Berikut jenis bencana yang disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Banjir, misalnya.

Secara umum,  terjadi karena penebangan hutan secara liar tanpa disertai reboisasi, pendangkalan sungai, pembuangan sampah yang sembarangan, pembuatan saluran air yang tidak memenuhi syarat, pembuatan tanggul yang kurang baik menyebabkan air laut, sungai, atau danau yang meluap dan menggenangi daratan sehingga menyebabkan banjir.

Lalu kebakaran hutan. Dapat terjadi karena membuang puntung rokok secara sembarangan, lupa mematikan api di perkemahan, tindakan yang disengaja untuk membuka lahan baru. Tindakan vandalisme dan tindakan yang tidak bertanggung jawab ini menyebabkan kebakaran di bawah tanah (ground fire) pada daerah tanah gambut yang dapat menyulut kebakaran saat musim kemarau.

Tanah longsor. Secara umum terjadi karena menebang pohon, melakukan pembangunan di tempat rawan longsor, penanggulangan tanah longsor yang lambat, perubahan pola drainase air, melakukan kegiatan tambang tanpa pertimbangan keseimbangan alam.

Ada juga kebocoran gas beracun. Ini adalah bencana yang disebabkan yang berasal dari industri di mana gas yang digunakan bocor ke atmosfer dan meracuni orang. Hal ini bisa disebabkan oleh peralatan deteksi gas yang sudah tidak berfungsi lagi, sistem pengawasan yang lemah, dan analisis dan perencanaan proyek yang salah.

Mencegah Bencana

Untuk mencegah banjir banyak hal yang harus dilakukan. Di antaranya membersihkan saluran air dari sampah yang dapat menyumbat aliran air. Mengeruk sungai-sungai dari endapan-endapan untuk menambah daya tampung air.

Membangun rute drainase alternatif (kanal-kanal sungai baru, sistem pipa dan sebagainya), sehingga dapat mencegah beban yang berlebihan terhadap sungai. Kemudian, tidak boleh lagi mendirikan bangunan pada area yang menjadi daerah lokasi penyerapan dan laluan air.

Selanjutnya, tidak menebangi pohon di hutan, karena hutan yang gundul akan sulit menyerap air. Sehingga jika terjadi hujan lebat secara terus menerus air tidak dapat diserap secara langsung oleh tanah bahkan akan menggerus tanah. Akhirnya hal ini pula dapat menyebabkan bencana banjir.

Membuat tembok-tembok penahan dan tanggul di sepanjang sungai, tembok-tembok laut di sepanjang pantai dapat menjaga tingkat ketinggian air agar tidak masuk ke dalam daratan yang menyebabkan air bertumpuk dan menjadi banjir.

Untuk mencegah kebakaran hutan dapat dengan hindari membakar sampah di hutan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membuat api unggun di area yang rawan, membuat sekat kanal untuk pengaturan hidrologi air.

Sehingga ketika musim kemarau tidak mudah terbakar dan segera melaporkan pembukaan lahan baru dengan membakar hutan. Dalam mencegah longsor dengan tidak membuat kolam atau sawah di atas lereng, tidak mendirikan rumah di bawah tebing, tidak menebang pohon di sekitar lereng, tidak memotong tebing secara tegak lurus dan membuat terasering

Sedangkan mengantisipasi kebocoran gas beracun dapat dengan mengenali jenis gas, mengidentifikasi potensi kebocoran, perencanaan dan pemeliharaan alat secara rutin, pelatihan dan kesadaran sumber daya manusia, serta, persiapan sistem darurat dan evakuasi. (Yulihasri, Dosen Universitas Andalas)

Editor : Novitri Selvia
#bencana #Yulihasri #ulah manusia