Oleh: Two Efly, Wartawan Padang Ekspres
Minggu (23/6) kemarin saya pulang ke Bukittinggi. Ini kali ketiga saya pulang dalam bulan Juni. Dalam tiga kali pekan melewati rute Simpang Malalak - Padang Lua banyak sekali perubahan yang terasa.
Seperti apa perubahannya? Awal Juni kondisi ruas jalan Simpang Malalak-Padang Lua masih relatif baik. Kalaupun ada "compang-camping" lobang jalan namun rute itu masih bisa dilewati dengan lancar. Kemacetan dan penumpukan kendaraan belumlah begitu terlihat. Arus kendaraan masih dapat mengalir dengan baik.
Memasuki pertengahan Juni, ruas jalan Simpang Malalak-Padang Lua mulai berubah drastis. Jalan berlobang mulai "naik kelas" menjadi berlobang dan bergelombang. Lobang yang sebelumnya hanya di beberapa titik berubah menjadi hampir merata di beberapa segmen.
Bahu jalan yang semula masih belukar berubah menjadi bandar (parit kecil) karena terlindas ban kendaraan bertonase berat. Dampaknya, akses kendaraan menjadi terganggu. Kendaraan mulai menumpuk dan tumpukan berubah menjadi macet. Puncaknya, Sabtu 15 Juni 2024 "petaka" Itu mulai terjadi.
Simpang Tiga Malalak-Padang Lua yang terpaut jarak kurang lebih 20 Km harus ditempuh berjam- jam. Penulis sendiri menempuh rute itu selama 3 jam 25 menit pada hari Sabtu (15/6). Sungguh sangat melelahkan. Lebih lama pula waktu tempuh dari Simpang Malalak ke Padang Lua dibandingkan dari Padang sampai ke Simpang Malalak. Itu pada tanggal 15 Juni, sedangkan pada 17 Juni 2024 penulis kembali melewati rute itu namun sedikit beruntung walaupun padat merayap.
Minggu kemarin (23/6) penulis lewat lagi. Apa yang penulis lihat seminggu sebelumnya sudah berubah drastis. Kondisi ruas jalannya makin parah. Walau masih pagi sekitaran pukul 08.25 di beberapa titik sudah mulai terjadi macet. Di antaranya dekat Kantor Camat VI Koto, jelang Simpang Balingka, dan menjelang masuk lokasi galodo di Koto Tuo.
Dua minggu terakhir, terpantau ada lagi tambahan dan perubahan baru di rute itu. Air bandar (riol) mulai mengalir dan melintasi badan jalan. Bahu jalan sudah makin dalam karena dilindas setiap saat oleh kendaraan bertonase berat dan besar.
Akibatnya paripurnalah kehancuran jalan Simpang Malalak-Padang Lua. Sudah jalannya kecil, lobangnya banyak dan dalam, bahu jalan yang dalam, air bandar melimpah dan melintasi badan jalan pula. Ini diparipurnakan lagi dengan padat dan banyaknya kendaraan yang melintas. Lengkap dan lengkap sudah.
Timbunlah Pak
Sebagai bagian dari publik Sumatera Barat kami menyadari anggaran sangatlah terbatas. Recofusing dan terbatasnya APBD menghadapkan Sumbar para skala prioritas pembangunan. Termasuk dalam pembangunan infrastruktur.
Meskipun begitu, rute Padang Lua- Simpang Malalak jelaslah prioritas dan sangat urgent. Kenapa? Inilah jalur satu-satunya yang bisa dengan cepat diakses masyarakat untuk menuju Kota Padang dan Bukittinggi. Kalaulah jalur ini lumpuh pula kemana masyarakat harus berjalan lagi.
Sudah terlalu banyak pengorbanan yang harus dialami pengguna jalan. Sudahlah Jarak tempuhnya jauh, lambat dan lama pula. Ini jelas dan dipastikan akan berdampak pada hight cost ekonomi. Konon kabarnya ada warga yang harus membeli tiket airlines dua kali karena terlambat datang ke bandara. Pemicunya terkurung macet.
Melalui tulisan ini penulis tak ingin memaki apalagi menyalahkan. Penulis hanya berharap perbaikilah jalan di rute Simpang Malalak-Padang Lua. Kalau tak mungkin overlay dengan hotmix atau rigit beton maka tambal sulamkanlah.
Kalau tak ada anggaran untuk tambal sulam maka timbunlah dengan Material Base A, Klas A atau Lapis Drainase (LD). Tanpa ada penindakan seperti itu kami yakin menjelang tersambungnya kembali jalur Lembah Anai maka jalan Simpang Malalak-Padang Lua benar benar tak bisa diakses lagi.
Membenar Kami Pak
Pak, membenar kami pak! Bantu dan perbaikilah rute jalan Simpang Malalak-Padang Lua ini. Para eksekutif dan legislatif turunlah ke lapangan. Lihatlah dari dekat kondisi jalan itu. Hondoh-pondohlah ke sana. Masih patut dan pantaskah rute ini sebagai jalan wisata menuju wisata unggulan Kelok 44 dan Danau Maninjau?
Teruntuk untuk anggota DPRD Sumbar dari Dapil 4 (Agam dan Bukittinggi) bangkitlah. Wahai Anggota DPRD Sumbar yang terhormat; Ismunandi Sofyan SE (Gerindra), Lazuardi Erman (Golkar), Asra Faber dan Rafdinal (PKS), HM Syafril Huda (PPP), Artati (PAN) dan H. Ismet Amzis SH (Demokrat). Kami tunggu lakek tangan "sipak ka pulang" di ujung masa pengabdian. Tinggalkanlah jejak sejarah positif demi masyarakat banyak.
Perjuangkanlah nasib dan penderitaan masyarakat. Kalian duduk di Gedung Khatib Sulaiman itu karena amanah dan kepercayaan yang diberikan. Datangi, selami dan tanyalah hati masyarakat di ruas jalan itu. Apa harapan mereka dan senangkah mereka dengan kondisi jalan seperti itu.
Setiap tahunnya triliunan uang dipungut dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Sepengetahuan penulis tak sampai 50 persen dari apa yang kalian pungut itu kalian salurkan kembali untuk perbaikan dan peningkatan kualitas jalan.
Jangan biarkan masyarakat terlalu lama dan berlarut larut "mensubsidi aneh" pemerintah di daerah ini. Kalaulah tak bisa melebihi dari apa yang kalian pungut setidaknya mendekati atau samakanlah pendapatan itu dengan perbaikan dan peningkatan kualitas jalan. Hari ini kehidupan masyarakat makin sulit, masak "subsidi ganjil" ini kalian biarkan berlarut-larut. (***)
Editor : Hendra Efison