Oleh : Two Efly, Wartawan Padang Ekspres
Mungkinkah itu terjadi? Bisa jadi iya dan bisa jadi tidak. Politik itu dinamis. Semuanya bisa terjadi. Kadang keputusan di luar nalar pun juga acap muncul mewarnai panggung demokrasi.
Begitu juga dengan Pemilihan Gubernur di Sumatera Barat untuk periode 2024-2029. Hingga saat ini, tinggal hitungan hari menjelang pencoblosan belum ada satu pun Bakal Calon Gubernur-Bakal Calon Wakil Gubernur yang benar-benar sudah siap dan didukung partainya. Baik. Mahyeldi ataupun Epyardi.
Dua bakal calon Gubernur ini di mata penulis, posisi politiknya masih sama. Sama-sama baru bisa "mengamankan" satu partai dan sama-sama belum cukup dukungan partainya untuk mendaftar ke KPUD. Mahyeldi saat ini baru didukung PKS sedangkan Epyardi baru didukung PAN. Begitu juga untuk bakal calon posisi Wakil Gubenur.
Sampai saat ini, 4 Juli, Mahyeldi belum punya pendamping. Apakah Mahyeldi tetap berpasangan dengan Audy Joinaldy atau dengan Vasko Ruseimy dan atau ada Bacagub alternatif lainnya. Begitu juga Epyardi, sampai sekarang juga belum jelas siapa yang akan mendampinginya.
Apa artinya? Antara Mahyeldi dan Epyardi dalam persiapan kontestasi posisinya sama. Sama-sama belum cukup dukungan partai dan sama-sama "jomblo", he he he he.
Mahyeldi-Audy or Mahyeldi - Vasko
Ada dua partai dengan bacagubnya yang berebut keputusan Mahyeldi. PPP ingin melanjutkan duet Mahyeldi-Audy Joinaldy. Alasannya sederhana, duet ini bisa saling melengkapi, tanpa pertikaian dan sudah menapak program. Mereka berdua tinggal melanjutkan apa yang sudah dibuat dan melanjutkan bengkalai program.
Diperkirakan kendalanya adalah resistensi elektoral dari arus dan gelombang perubahan. Ada petuah di ranah Minang, "Sakali aia gadang sakali tapian barubah". Ekspektasi publik yang ingin perubahan juga tidak bisa dinafikan. Ingat, jumlah ini relatif banyak dan cukup berdampak pada elektoral.
Beda lagi kalau Mahyeldi-Vasko. Keputusan Gerindra mengincar posisi Wakil Gubernur dan berpasangan dengan Mahyeldi sangatlah "mengejutkan". Pasalnya, jamak tertanam dalam pikiran publik Gerindra lima tahun belakangan lebih menempatkan diri sebagai oposisi terhadap duet Mahyeldi-Audy.
Meskipun begitu keputusan untuk bergandengan tangan adalah jalan terbaik bagi Sumbar dan Mahyeldi untuk bisa selaras dengan kepemimpinan nasional. Presiden terpilih dari Gerindra dan harapannya Wakil Gubernur terpilih dari Gerindra. Sasarannya adalah memaksimalkan progran strategis nasional dan memudahkan APBN mengalir ke Sumatera Barat.
Epyardi - Ganefri
Mungkinkah? Mungkin saja. Duet ini selain memadukan politisi/pengusaha nasional dan akademik senior juga mewakili dua daerah pemilihan besar di Sumbar. Epyardi merupakan tokoh politik dari Dapil 1 Sumbar (Solok, Kota Solok, Solok Selatan, Padang, Pesisir Selatan, Sawahlunto, Sijunjung, Dhamasraya, Tanahdatar dan Padangpanjang). Ketokohannya di kancah politik juga sudah teruji. Tiga periode menjadi anggota DPR RI dan satu periode menjadi Bupati Solok jelaslah menunjukkan bahwa Epyardi adalah seorang petarung politik.
Karakter dan gaya kepemimpinan nan tegas dan lugas, cepat dan berani dalam mengambil keputusan menjadi modal besar dalam memimpin. Terus terang penulis melihat Sumbar hari ini sangat membutuhkan strong leader. Pemimpin yang berani mengambil dan menggenggam risiko. Mau memutuskan yang tak populer demi kemajuan daerah. Pemimpin yang siap meletakkan kepentingan diri, kepentingan elektoralnya di bawah kepentingan masyarakat banyak.
Bagaimana dengan Ganefri? Sangat patut dan cocok. Keberhasilan Ganefri dalam memimpin Universitas Negeri Padang selama delapan tahun terakhir adalah bukti nyata bahwa Ganefri selain guru besar juga memiliki kemampuan manajerial yang andal. Ilmu dan pengalaman manajerial inilah yang sangat dibutuhkan untuk posis Wakil Gubernur. Ingat, tugas utama Wakil Gubernur itu adalah membantu Gubernur terutama di bidang pengawasan.
Selain guru besar dan manajerial yang andal, Ganefri adalah tokoh masyarakat Payakumbuh/Limapuluh Kota (Dapil 2 Sumbar yang terdiri dari Pariaman, Padangpariaman, Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Bukittinggi, Payakumbuh dan Limapuluh Kota). Sepanjang sejarah belum pernah anak nagari Luhak nan Bungsu ini menjadi orang nomor Satu atau nomor Dua di Sumbar. Bisa jadi inilah momentumnya. Sampai saat ini Ganefri pun tercatat sebagai salah satu penghulu kaum (Datuak-red) dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Nahdatul Ulama (PW NU). Jika duet Epyardi-Ganefri terjadi maka akan terbentuklah duet dua orang Ormas Islam di Sumbar. Duet orang Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama.
Sumbar Butuh Percepatan
Mau jujur atau tidak, mau berkilah atau berdebat silakan saja. Satu hal yang pasti Sumbar saat ini sudah kesalip oleh provinsi tetangga dalam derab langkah pembangunan infrastruktur. Jangankan dengan Riau dengan Provinsi Jambi pun kita sudah nyaris kesalip. Lihatlah derap langkah pembangunan di provinsi itu. Pembangunan infrastrukturnya luar biasa. Percepatan pembangunannya juga sangat terasa. Provinsi tetangga "senyum lebar" karena dapat mengalirkan APBN dalam angka yang cukup banyak ke provinsinya.
Di masa lalu, maaf, dahulu Riau, Jambi, Bengkulu itu menjadikan Sumbar sebagai role modelnya. Pemimpin dari Sumbar ini dikenal sebagai "jago lobi" mampu mengalirkan dana pusat ke daerah. Itu pulalah penyebabnya pembangunan Sumbar berlari kencang di tengah keterbatasan anggaran daerah pada masa lalu. Kini semua itu sudah berbalik. Di saat keuangan daerah tersendat aliran APBN pun untuk program strategis "tersumbat-sumbat".
Sumbar harus bangkit. Momentum demokrasi di daerah haruslah jadi batu loncatan untuk memacu ketertinggalan. Satu hal yang pasti Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah harus orang yang jago melobi anggaran ke pusat. Ingat, Mahyeldi-Audy atau Mahyeldi-Vasko atau sebaliknya Epyardi-Ganefri? sama-sama berada dalam bilik Koalisi Indonesia Maju.
Kepada siapa pilihan akan dijatuhkan? Kita tunggu saja keputusan publik di bilik suara. (***)
Editor : Hendra Efison