Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Antara Lisan, Jari dan Hati

Novitri Selvia • Senin, 30 Desember 2024 | 11:45 WIB

Muhamamd Kosim, Dosen FTK UIN IB Padang. (Jawapos)
Muhamamd Kosim, Dosen FTK UIN IB Padang. (Jawapos)

PADEK.JAWAPOS.COM-Jika pedang melukai tubuh masih ada harapan sembuh, namun jika lidah melukai hati ke mana obat hendak dicari?

PEPATAH lama itu mengajarkan manusia agar selalu hati-hati menggunakan lidahnya. Patut direnungkan, sudahkah lisan ini memberi pesan positif yang menginspirasi dan menimbulkan rasa aman dan keselamatan? Atau justru menyebar kebencian dan tajam melukai hati banyak orang?

Salah satu fungsi lisan adalah untuk berkomunikasi kepada sesama manusia. Ucapan yang baik, santun, dan solutif mendatangkan kemaslahatan bagi banyak orang. Sebaliknya, ucapan yang buruk, penuh kebencian dan menyemai dendam, dapat memicu permusuhan.

Di era digital saat ini, alat komunikasi tidak saja melalui lisan, tetapi juga ujung-ujung jari. Ujung jari begitu lincah di atas keypad ponsel, laptop atau tablet memberi pesan, berkomentar dan saling sapa melalui media sosial. Efeknya juga dahsyat.

Pesan yang positif akan menginspirasi meraih prestasi. Pesan yang negatif yang bermuatan ghibah, fitnah, hoax dan namimah (adu domba) merusak tatanan sosial dan memecah kesatuan umat dan bangsa.

Karena itu, Islam memberi perhatian besar terhadap upaya untuk memelihara lisan. Baik Al Quran maupun hadis, terdapat ancaman bagi mereka yang buruk lisannya. Rasulullah SAW bersabda,

“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan” (HR Bukhari). Orang yang suka ghibah laksana memakan bangkai saudaranya, pasti sangat menjijikkan (Qs. Al-Hujurat/49: 12).

Sabda Nabi SAW: Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan, (HR al-Bukhari). Apalagi yang sampai melaknat seorang mukmin, hal itu serupa dengan membunuhnya (HR. Muttafaqun ‘alaih). Tidak masuk surga orang yang mengadu domba (namimah), (HR Bukhari).

Kebebasan berpendapat dengan gaya berpikir kritis di era ini memang memberi efek positif dalam kehidupan bermasyarakat. Komentar netizen menjadi social of control bagi publik figur, pejabat dan anggota masyarakat lainnya.

Namun, pastikan kebebasan berpendapat dan suara kritis itu tidak bersifat ghibah, apalagi menimbulkan namimah dan fitnah. Nabi SAW mengingatkan, “Sungguh yang paling aku khawatirkan atas kalian semua sepeninggalku adalah orang munafik yang pintar berbicara” (HR At-Tabrani).

Suaranya lantang dan kritis terhadap orang lain, tetapi perilakunya lebih buruk dari apa yang ia suarakan. Apalagi jika gaya komunikasi lisan dan jarinya sehari-hari hanya mengurus kesalahan orang lain, namun tidak pernah instrospeksi diri.

Orang lain pun enggan mendekat dengannya karena apa yang keluar dari lisan dan ujung jarinya hanya umpatan, cacian, dan kebencian. Inilah potret manusia terburuk.

Sabda Nabi SAW: Sesungguhnya termasuk manusia yang paling buruk adalah seseorang yang ditinggalkan orang lain karena takut akan perkataan keji dan kotornya (HR al-Bukhari).

Ucapan dan komentar yang buruk dari lisan dan ujung jari sesungguhnya berawal dari rusaknya hati. Di antara penyakit hati yang berdampak pada buruknya lisan dan ujung jari adalah sombong (kibr) dan dengki (hasad).

Sifat sombong, misalnya, Nabi SAW mengancam: Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat dzarrah di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?)”

Nabi SAW menjawab, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR. Muslim).

Ya, “merendahkan manusia” (ghamthunnas) merupakan salah indikator kesombongan. Karena merendahkan orang lain, maka komunikasinya suka mencela, mencaci, dan sibuk membuka aib sesama.

Begitu juga sikap dengki (hasad). Sabda nabi SAW, “Janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara… (HR. Muslim).

Ditambah lagi dengan rayuan setan, akan menambah parah kerusakan hati, lisan, dan ujung jari Firman-Nya: Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar).

Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia (Al-Isra’/17: 53). Paling tidak ada empat hal yang patut dilakukan agar lisan dan jari terpelihara.

Pertama, memiliki ilmu; ketahuilah akan pentingnya memelihara lisan dan bahayanya bagi mereka yang tak mampu memeliharanya. Seperti penjelasan beberapa ayat dan hadis di atas, betapa besar ancaman bagi orang yang buruk lisan dan tangannya.

Kedua, meyakini bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi perbuatan setiap manusia, bahkan mengirim Malaikat untuk mencatat setiap ucapannya. Firman-Nya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

Ketiga, perbanyak beristighfar, berzikir, dan membasahi lisan menyebut nama Allah Swt. Hal itu akan membersihkan hati dari penyakit yang menggorogotinya.

Syekh Muhammad Muflih Syamsuddin al-Muqdisi dalam Kitab al-Adabu al-Syar’iyah menulis, “Sungguh apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan ditulis dalam hatinya sebuah titik hitam, kemudian jika melakukan dosa (kembali) maka akan ditulis dalam hatinya sebuah titik hitam, sampai (hatinya) tersisa menjadi hati hitam selamanya, ia tidak akan mengetahui kebenaran, ia juga tidak akan ingkar pada kemungkaran.”

Keempat, jadikan lisan dan ujung jari untuk berkomunikasi dengan dua pilihan: memberi pesan positif atau diam saja. Sabdanya, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (Bukhari)

Kelima, tutuplah aib sesama agar Allah menutup aib kita yang tak terhitung banyaknya. Sabda Nabi SAW, Siapa yang menutupi seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. (HR. Muslim)

Di akhir tahun ini, mari kita saling instropeksi diri, berapa banyak keburukan yang telah muncul dari lisan dan ujung jari ini? Berapa banyak orang yang tersakiti atau malah terzalimi? Masih adakah waktu kita untuk memperbaiki diri?

Mari bangun optimisme untuk terus belajar menjadi manusia dan hamba Allah yang berakhlak mulia. Ingatlah sabda Nabi SAW: Muslim yang sempurna imannya ialah jika muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya, (HR. Bukhari). Wallah al-Musta’an. (Muhamamd Kosim, Dosen FTK UIN IB Padang)

Editor : Novitri Selvia
#Muhamamd Kosim