Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Idul Fitri dan Gerakan Antikemiskinan

Novitri Selvia • Kamis, 27 Maret 2025 | 12:00 WIB

Zelfeni Wimra, Mantagi Institute, Dosen UIN Imam Bonjol.(DOK. PRIBADI)
Zelfeni Wimra, Mantagi Institute, Dosen UIN Imam Bonjol.(DOK. PRIBADI)

PADEK.JAWAPOS.COM-DITINJAU dari aspek muamalah, tujuan akhir dari Idul Fitri dan Idul Adha adalah sama. Lenyapnya kemiskinan dari kehidupan masyarakat.

Ini merupakan batas maksimal dari hakikat dan target berhari raya sebagai pusaran aktivitas muamalah. Adapun batas atau target minimalnya, masyarakat muslim terlihat tidak miskin di sekitar hari raya mereka.

Dengan bahasa lain, persoalan kemiskinan beserta ekses dan turunannya teratasi sepanjang hari raya dimeriahkan. Sensitivitas dan kepedulian sosial dianjurkan meningkat sepanjang hari raya.

Bahkan dalam konteks Idul Fitri, ibadah selama Ramadhan akan tertolak apabila belum membayarkan zakat fitrah. Pahala seluruh ibadah itu tergantung antara langit dan bumi dikarenakan si ahli ibadah tidak menunaikan kewajiban zakat fitrah sebagai ejawantah hablu minannas-nya itu.

Pertanyaannya sekarang, berdasarkan kecenderungan perilaku berhari raya yang tampak di Sumbar dengan mayoritas warganya berkultur Minangkabau, sejauh apa target berhari raya umat muslim di sini? Apakah akan mencapai target maksimal atau hanya minimal?

Apabila mencapai target maksimal, maka akan ditunjukkan dengan grafik gerakan pengentasan kemiskinan dari masyarakat yang membaik. Akan terbit dan tumbuh kebiasaan tolong-menolong beserta habitus kepedulian sosial lainnya dalam perilaku sehari-hari.

Kebiasaan ini menjadi adat yang terpakai dan dipakaikan, tanpa menunggu sentuhan kekuasaan dan tidak hanya terjadi selama Ramadhan. Kebiasaan ini tumbuh dan mengakar dari bawah. Inilah agaknya buah yang secara sosial sangat diharapkan dari ibadah Ramadhan.

Apabila hanya memenuhi target minimal, masyarakat hanya terlihat bebas dari beban kemiskinan di sekitar hari raya belaka, sama saja dengan stagnasi kualitas berhari raya.

Hari raya, ya, hari raya yang dari masa ke masa hanya berbentuk prosesi rutin, kegiatan tahunan tanpa makna yang lebih dari sekadar euforia saja.

Jika demikian, pekerjaan rumah pihak otoritatif di daerah ini dalam menangani mentalitas umat yang serba minimalis dan hiper simplikasi ini semakin banyak.

Kondisi yang serba minimalis ini membutuhkan konsep dan aksi para ulama dalam mendidik spiritualitas umat secara lebih berimbang, antara kesadaran akhirat dengan kesadaran mengurus nasib dan mengendalikan hajat dan hasrat hidup di dunia.

Upaya ulama perlu pula didukung oleh penafsiran keagamaan pemimpin yang juga berimbang dalam memahami gerakan mengatasi kemiskinan masyarakat.

Kemiskinan atau kefakiran yang biasanya diiringi kekufuran ini memang harus benar-benar menjadi musuh bersama oleh unsur ulama, pemimpin adat, dan pemimpin negara.

Kemiskinan bukanlah aset yang perlu dirawat secara licik melalui relasi kuasa para pihak yang otoritatif, di mana keberadaan orang miskin penting artinya bagi penyaluran zakat yang diberikan amil yang bekerja sama dengan pemerintah.

Adapun yang terjadi kemudian, ulama dan pemimpin yang secara formil sedang berkuasa mendatangi rumah si miskin lalu memberikan bantuan atau menyalurkan zakat langsung ke rumah-rumah mereka.

Lalu, prosesi penyerahan itu dirancang sedemikian rupa dengan rekayasa kamera sedramatik mungkin, demi merebut empati, misalnya dengan mengunjungi rumah-rumah si miskin di saat sahur atau di waktu berbuka puasa.

Polarisasi semacam ini, tentu bukanlah cara memisahkan kemiskinan dari masyarakat, tetapi justru merawat kemiskinan itu agar tetap melekat dalam diri mereka.

Dengan kata lain, ini adalah politik populis terselubung, bertopeng agama, yang intinya adalah eksploitasi kemiskinan. Ini jelas, dalam QS Al-Ma’un disebut sebagai perilaku orang-orang yang mendustai agama.

Membaca Grafik Kemiskinan Sumbar

Berdasarkan abstraksi data BPS yang dirilis 15 Januari 2025, digambarkan pada bulan September 2024, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Sumbar mencapai 315,43 ribu orang (5,42 persen).

Data ini menampakkan penurunan, berkurang sebesar 30,30 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2024 yang sebesar 345,73 ribu orang.

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2024 sebesar 4,72 persen turun menjadi 4,16 persen pada September 2024. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2024 sebesar 7,28 persen turun menjadi 6,79 persen pada September 2024.

Selama periode Maret 2024–September 2024, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan juga menampakkan penurunan sebanyak 13,43 ribu orang (dari 139,12 ribu orang pada September 2024 menjadi 125,69 ribu orang pada September 2024),

Sementara pada periode yang sama jumlah penduduk miskin di perdesaan turun sebanyak 16,87 ribu orang (dari 206,62 ribu orang pada Maret 2024 menjadi 189,75 ribu orang pada September 2024).

Peranan komoditas makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan. Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada September 2024 tercatat sebesar 75,92persen.

Tiga jenis komoditas makanan yang berpengaruh paling besar terhadap nilai Garis Kemiskinan adalah beras, rokok kretek filter, cabe merah (di perkotaan dan di perdesaan).

Sementara itu lima komoditas bukan makanan yang paling dominan adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Abstarksi ini tidak sepenuhnya menjelaskan keadaan terkini, hari ke hari masyarakat di Sumbar secara detil, namun cukup menjadi gambaran betapa kemiskinan adalah persoalan utama daerah ini. Pada keseharian

masyarakat di kota-kota, dapat disaksikan langsung, terutama di lampu merah, di depan pusat-pusat perbelanjaan, restoran, dan di titimangsa detinasi wisata yang selalu “dihiasi” oleh kehadiran pengemis yang meminta belas kasihan.

Mereka mengemis dengan berbagai motif dan modus, mulai dari penunjukan kefakiran, ketuaan, ibu dan anak, serta berbagai kreativitas lain yang tampak direncanakan untuk meraup empati.

Musuh Bersama: Kemiskinan

Singkat kata, kemiskinan yang galibnya disertai dengan kebodohan ini adalah musuh bersama. Idul Fitri dalam konteks ini adalah nasihat agar semua kalangan menolak kemiskinan.

Mulai dari kemiskinan mental berpikir hingga kemiskinan dari aspek ekonomi. Mentalitas memusuhi kemiskinan ini selayaknya terbit secara otomatis dalam kesadaran masyarakat dari individu hingga kolektif.

Ini merupakan buah dari pelatihan yang ditempuh selama menunaikan ibadah Ramadhan dan dideklarasikan melalui perayaan Idul Fitri tanpa menunggu uluran tangan kekuasaan.

Benar apa yang disabdakan Sayyidina Muhammad. Idul Fitri bukanlah soal mampu berpakaian baru dan pesta makanan yang lezat. Idul fitri adalah perkara bertambah dan bertumbuhnya ketaatan dan ketakwaan.

Salah satu bentuknya, jangan dustai agama dengan membiarkan anak yatim dan orang miskin hidup dalam kekurangan dan kemelaratan.

Idul Fitri adalah momentum menyatakan sikap anti terhadap kemiskinan dan merawat visinya secara berkesinambungan hingga waktu-waktu berikutnya. (Zelfeni Wimra, Mantagi Institute, Dosen UIN Imam Bonjol)

Editor : Novitri Selvia
#Gerakan Antikemiskinan #idul fitri #Zelfeni Wimra