Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Poros Harapan dari Amman: Prabowo dan Raja Abdullah II, Duet Pemimpin untuk Palestina Merdeka

Heri Sugiarto • Senin, 14 April 2025 | 20:15 WIB

Yuliandre Darwis, Ketua Harian IAPPI. (Padek.co)
Yuliandre Darwis, Ketua Harian IAPPI. (Padek.co)
Oleh: Yuliandre Darwis, Ketua Harian Ikatan Alumni Perhimpunan Pelajar Indonesia (IAPPI)/ Ketua Komisi Penyiaran Indonesia 2016–2019.

PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah kabut konflik yang belum reda di Gaza dan jalan panjang menuju kemerdekaan Palestina yang masih penuh tantangan, muncul secercah harapan dari pertemuan dua pemimpin yang bersahabat namun juga strategis:

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dan Raja Yordania, Abdullah II. Hubungan keduanya bukan hanya hangat di tataran diplomatik, tapi juga telah menjelma menjadi poros moral dan strategis baru dalam perjuangan Palestina.

Isyarat kedekatan mereka bukan basa-basi. Pada 13 April 2025, dunia dikejutkan oleh pemandangan tak biasa: Raja Abdullah II menjemput langsung Presiden Prabowo di bandara militer Amman dan menyetir sendiri mobil yang membawa Presiden Indonesia ke hotel.

Dalam tradisi diplomatik global, tindakan ini nyaris tak pernah terjadi. Ia bukan hanya simbol keramahan—tapi tanda kepercayaan dan penyatuan misi: perjuangan kemanusiaan untuk rakyat Palestina.

Lebih dari sekadar gestur, kolaborasi mereka dibangun di atas fondasi aksi nyata.

Dalam Konferensi Kemanusiaan untuk Gaza di Amman, Juni 2024 lalu, Prabowo dan Raja Abdullah juga telah tampil bersama menyuarakan gencatan senjata dan pembukaan akses bantuan kemanusiaan.

Mereka mendesak dunia agar tidak tinggal diam atas tragedi kemanusiaan yang terjadi.

Tidak hanya bicara, Indonesia dan Yordania secara paralel mengirim rumah sakit lapangan, tim medis, serta bantuan logistik ke Gaza, termasuk melalui operasi udara yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh militer Indonesia.

Lebih jauh lagi, Presiden Prabowo menawarkan suaka sementara bagi warga Palestina yang terluka dan secara terbuka membawa isu kemerdekaan Palestina ke dalam percakapan global—dari Turki hingga Amerika Serikat.

Sementara itu, Raja Abdullah II terus menggunakan posisi Yordania sebagai penjaga tempat suci di Yerusalem Timur untuk melindungi hak-hak Palestina secara spiritual dan geopolitik.

Apa arti semua ini?

Artinya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dunia menyaksikan koalisi baru yang lebih seimbang dan manusiawi dalam perjuangan Palestina.

Bukan dengan senjata, tapi kekuatan moral, solidaritas kemanusiaan, dan diplomasi global yang aktif.

Duet Prabowo–Abdullah adalah titik temu antara dunia Islam Asia dan Arab, antara kekuatan moderat yang punya akses ke blok Barat maupun Timur.

Tentu, perjuangan kemerdekaan Palestina masih jauh dari selesai.

Dalam langkah-langkah nyata ini, dalam suara-suara lantang yang tak hanya menggema tapi juga bergerak, kita melihat bahwa kemerdekaan Palestina bukan utopia yang tak terjangkau.

Ia adalah tujuan yang makin dekat, jika dunia dipimpin oleh mereka yang berani, berempati, dan bertindak.

Hari ini, dari Amman hingga Jakarta, kita melihat poros harapan itu mulai terbentuk. Dan dunia, akhirnya, bisa berharap lagi.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#kemerdekaan palestina #Misi Kemanusiaan #diplomasi amman #prabowo subianto #presiden indonesia #Raja Abdullah II #Solidaritas Global