PADEK.JAWAPOS.COM-MARI baca kembali Kisah Nabi Musa AS dan Bani Israil yang dijelaskan dalam Al Quran. Ini adalah kisah perjuangan, kebebasan, dan ujian iman.
Penderitaan mereka teramat sangat yang dialami di bawah kekuasaan Firaun. Bayi laki-laki dibunuh, yang perempuan dibiarkan hidup. Mereka menjadi warga kelas bawah dalam kehidupan masyarakat.
Namun di saat kritis, saat kekuasaan zalim ingin memberikan pukulan terakhir yang akan melenyapkan Bani Israil, pertolongan Allah datang. Nabi Musa memimpin mereka lari dari kejaran Firaun, dan akhirnya diselamatkan menyeberangi Laut Merah.
Dari situ dimulailah perjalanan panjang menuju tanah yang dijanjikan. Tapi di balik itu semua, ada satu pelajaran sosial yang tak lekang oleh waktu: adanya fenomena free rider — orang-orang yang hadir dalam rombongan, tapi tak sungguh-sungguh memberi peran.
Ikut Barisan, tapi di Hati tak Sejalan
Bayangkan, Bani Israil terselamatkan dari penindasan dan penganiayaan oleh Firaun. Mereka menyaksikan laut terbelah, diberi makanan dari langit berupa manna dan salwa, diberi pemimpin mulia, bahkan dibimbing langsung oleh seorang nabi.
Tapi saat diminta satu hal, berjuang, Ada sebagian dari mereka justru berkata: “Pergilah engkau (Musa) bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Kami akan duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah: 24)
Ucapan ini bukan sekadar bentuk kemalasan. Ini adalah simbol dari sikap egois, tak mau berkorban, ingin hasil tanpa proses, ingin perubahan tapi tanpa komitmen. Sikap ini tak disukai Allah.
Sungguh gambaran karakter dalam kisah ini tidak hanya terhenti sebagai kisah pengantar tidur. Cobalah simak, fenomena ini bukan hanya cerita masa lalu di Zaman Musa AS saja. Terulang pula di zaman Nabi Muhammad SAW. Allah mencela sikap keras seperti ini di banyak tempat dalam Al Quran.
Salah satunya ketika berbicara tentang orang-orang munafik di zaman Nabi Muhammad SAW: “Dan apabila kepada mereka dikatakan: Marilah berjuang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).
Mereka berkata: Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan.
Mereka mengatakan dengan mulut apa yang tidak terkandung di dalam hati.” (QS. Ali ‘Imran: 167). Sama seperti Bani Israil, mereka berkata ingin ikut hanya dengan lisan, tidak dengan hati atau tindakan.
Nabi SAW pernah diperingatkan bahaya “penumpang gelap”. Rasulullah pernah mengibaratkan masyarakat seperti orang-orang yang naik kapal. Di antara mereka, ada yang duduk di bagian bawah. Ketika mereka membutuhkan air, mereka ingin melubangi kapal dari dalam agar tak perlu naik ke atas.
“Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang di bawah menuruti kemauannya, niscaya semuanya akan binasa, Tapi jika mereka mencegahnya, mereka semua akan selamat.” (HR.Bukhari No.2493)
Hadits ini menggambarkan bagaimana kelompok yang merusak dari dalam (meski terlihat bagian dari sistem) bisa menghancurkan seluruh umat, jika dibiarkan. Inilah free rider yang tidak sekadar pasif, tapi diam-diam membawa kehancuran.
Apakah Kita masih jadi Penonton?
Kita hidup dalam berbagai komunitas: organisasi, tempat kerja, masyarakat, bahkan keluarga. Bayangkan kita hidup dalam jamaah suatu masjid, atau menjadi warga sebuah kampus, kampung, paguyuban.
Kita ada dalam lingkungan itu, namun pertanyaannya: di mana posisi kita? Apakah kita ikut serta dalam kerja-kerja kebaikan, atau sekedar menjadi penonton yang banyak komentar? Apakah kita memberi kontribusi, atau hanya menikmati hasil kerja orang lain?
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Perumamaan kaum mukminin dalam kasih sayang mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.”
Di hadist yang lain nabi berkata, “Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (Shahih Muslim No.4684)
Artinya, menjadi bagian dari umat tak cukup hanya hadir dan mengaminkan. Harus ada rasa memiliki, saling merasakan, melindungi dan keinginan untuk turun tangan.
Mari jadi Pelopor, Bukan Beban
Sejarah memberi kita cermin, Bani Israil yang ragu dan pasif membuat perjalanan menuju tanah suci harus tertunda puluhan tahun. Bukan karena musuh di luar kuat, tapi karena banyak “penumpang gelap” di dalam yang lemah iman, mereka bagai ulama bulu dalam masyarakat.
Jangan sampai kita mengulangi kesalahan mereka. Mari menjadi anggota rombongan yang benar: hadir bukan hanya fisiknya, tapi juga hatinya — ringan langkahnya, dan banyak kontribusinya. Mari mulai melakukan perubahan dari dalam diri kita.
Karena seperti kata Allah dalam Al Quran QS. Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.” (Henmaidi, Wakil Rektor IV Unand)
Editor : Novitri Selvia