Padangpariaman mendapat anugrah makam orang besar. Semua orang tahu, itulah makam Syekh Burhanuddin (1646-1704) di Ulakan. Orang besar, yang makamnya saja masih bisa bermanfaat tidak hanya pada masa hidupnya.
Kawasan makam itu sudah lama berdaya guna untuk masyarakat setempat. Namun masih bisa dioptimalisasi lebih baik, sesuai dengan kebutuhan kekinian.
Bupati Padangpariaman Dr John Kenedy Azis menyadari hal ini. Kini sedang gencar-gencarnya menggerakkan potensi wisata guna mendorong peningkatan ekonomi kerakyatan. Mulai dari potensi budaya, potensi alam, potensi kuliner, tak ketinggalan juga untuk potensi wisata religi.
Untuk potensi religi, makam yang terletak di Kecamatan Ulakan Tapakis sudah terkenal bertahun-tahun. Terutama, pada setiap tahun di bulan Syafar. Dikunjungi ribuan penziarah dari berbagai seantero negeri dan mancanegara.
Kawasan Makam Syech Burhanuddin itu, saatnya menjadi icon destinasi wisata religius terbesar di Asia Tenggara. Artinya, tidak hanya diramaikan pada setiap bulan Syafar, tetapi menjadi objek kunjungan wisawatan domestik dan mancanegara, terutama dari Timur Tengah setiap hari.
Kawasan Makam Syech Burhanuddin, selain memiliki historis panjang tentang penyebaran Agama Islam di Ranah Minang, juga dapat menjadi pusat studi bagi para peneliti, dan periset.
Namun, untuk menuju objek yang memiliki standar Internasional, kawasan Makam Syech Burhanuddin, memerlukan revitalisasi.
Dimulai dengan penyempurnaan Masjid Agung Ulakan, yang perlu dilengkapi ruang perpustakaan, ruang berdiskusi maupun ruang istirahat bagi pengunjung.
Balairung Makam Syech Burhanuddin perlu pemugaran, sehingga membuat nyaman penziarah dalam pelaksanaan ritual.
Namun, suatu hal yang sangat urgent adalah diperlukannya pembebasan lahan, dimulai dari jalan kompleks Makam Syech Burhanuddin hingga ke bibir pantai.
Bila ini terwujud, maka akan menampilkan keindahan keterpaduan antara Wisata Pantai Ulakan dengan Objek Wisata Religi Makam Syech Burhanuddin.
Dan, tantangan lain adalah diperlukannya relokasi permukiman penduduk seputar komplek Makam Syech Burhanuddin. Dengan memindahkan warga kompleks ke satu kawasan, dengan catatan, warga tersebut diberi prioritas utama untuk berjualan di kawasan Pujasera yang kelak akan dibangun di kawasan kompleks.
Maka, lewat penataan Kawasan Makam Syech Burhanuddin, dalam sebuah bingkai master plan, maka tak pelak lagi, Kompleks Makam Syech Burhanuddin, akan menjadi icon wisata religi terbesar di Asia Tenggara.
Diharapkan tidak hanya menjadi objek ziarah tiap tahun, namun juga dikunjungi dan diziarahi sepanjang hari. Sebagaimana kawasan religi Sunan Ampel di Surabaya, ada juga kawasan religi Sunan Jati di Jawa Barat atau juga kawasan religi Mbah Kholil, di Madura yang tertata dengan baik, dan berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar.
Untuk mewujudkan mimpi menjadi kawasan wisata religi, kata kunci, di sini adalah keikhlasan masyarakat kompleks Makam Syech Burhanuddin untuk bersedia direlokasi.
Artinya, ketika kita benar-benar ingin mengembangkan potensi wisata religi, menjadi pusat perekonomian kuliner masyarakat. Dari kondisi sekarang yang terkesan sesak, tak nyaman, dan sempit dalam segi perparkiran. Sehingga kurang memberikan jaminan secara keamanan, menuju keteraturan.
Kawasan Komplek Makam Syech Burhanuddin juga dapat menjadi pusat pendidikan Islam, dengan memindahkan kampus Sekolah Tinggi Tarbiyah Syech Burhanuddin, milik Pemkab Padangpariaman yang kini berkampus di Kota Pariaman ke Ulakan.
Alangkah megahnya, bila di komplek Makam Syech Burhanuddin, ada perguruan tinggi, sehingga lengkap sudah jadinya, sebagai objek wisata religi yang bergandengan dengan pusat pendidikan Islam. Betapa bangganya Syech Burhanuddin, bila tokoh penyebar Agama Islam itu, ada hari ini.(***)
Editor : Novitri Selvia