Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sumatera Barat dan Walking Tour Tempo Dulu (Bagian I)

Ego Arianto • Senin, 21 Juli 2025 | 07:27 WIB

Padang Heritage Walk, cara lain menikmati Kota Tua Padang.
Padang Heritage Walk, cara lain menikmati Kota Tua Padang.
Oleh: Ego Arianto (Peneliti Sejarah)

PADEK.JAWAPOS.COM-Dalam beberapa tahun terakhir, walking tour (tur jalan kaki) semakin populer. Bukan hanya wisatawan asing, penduduk lokal pun antusias menjelajahi kotanya dengan berjalan kaki. Wisatawan diajak menelusuri jejak masa lalu kota; mengunjungi bangunan-bangunan lama, pasar tradisional, hingga ruang-ruang publik yang kerap luput dari perhatian.

Secara umum, walking tour merujuk pada kegiatan wisata yang dilakukan dengan berjalan kaki untuk menyusuri kawasan tertentu; biasanya dipandu (guided) dan menggunakan peta khusus. Lokasi yang dituju umumnya menawarkan daya tarik yang khas, baik dari segi sejarah, budaya, arsitektur, maupun keindahan alam. Karena kekhasan daya tarik itulah, walking tour sering diadakan di perkotaan, terutama di kawasan kota tua, tetapi juga tidak menutup kemungkinan dilakukan di pedesaan.

Ada sejumlah alasan mengapa walking tour kian diminati. Pertama, berjalan kaki memberi kesempatan bagi wisatawan untuk melihat kota dari dekat. Walking tour bukan hanya tentang destinasi, tetapi juga tentang proses menikmati perjalanan itu sendiri. Kedua, berjalan kaki adalah aktivitas wisata yang ramah lingkungan dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Ketiga, berjalan kaki memungkinkan wisatawan melihat sisi-sisi kota yang tak tercantum dalam peta wisata. Alih-alih hanya mengunjungi tempat-tempat terkenal, walking tour membawa wisatawan menjelajahi lorong-lorong sempit dan mendengar cerita dari penduduk, sehingga membuat perjalanan terasa lebih otentik.

 Baca Juga: 5 Hotel Legendaris di Sumatra Barat yang Pernah Berjaya Tempo Dulu

Peta Jalur Pejalan Kaki (Wandelkaart)

Walking tour di Indonesia sejatinya bukanlah hal baru. Sejak zaman Belanda, walking tour telah menjadi aktivitas wisata populer untuk mengenalkan sejarah, budaya, dan keindahan alam suatu kawasan. Untuk kebutuhan ini, disiapkan pemandu yang cakap serta memahami sejarah kawasan. Selain itu, aktivitas walking tour di masa lalu juga dilengkapi dengan peta jalur pejalan kaki (wandelkaart). Jika pemandu menyediakan jasa pemanduan dan layanan informasi, maka peta ‘wandelkaart’ ini lebih berfungsi sebagai panduan visual yang menunjukkan jalur dan titik-titik penting yang dikunjungi selama perjalanan.

Berbeda dengan peta biasa, peta ‘wandelkaart’ dirancang khusus untuk kebutuhan wisata berjalan kaki. Ukurannya kecil, mudah dilipat, dan hanya mencakup wilayah tertentu yang bisa dijangkau dalam beberapa jam berjalan kaki. Peta semacam ini tidak menampilkan seluruh kota secara menyeluruh, melainkan hanya menunjukkan jalur-jalur tertentu yang dianggap menarik–yang kadangkala diselaraskan dengan kepentingan lembaga penerbitnya.

Peta-peta ‘wandelkaart’ ini umumnya disusun dan dipublikasikan oleh lembaga-lembaga yang terkait dengan kepariwisataan. Di antaranya adalah Vereeniging Toeristenverkeer (VTV, perhimpunan pariwisata Hindia-Belanda), Vooruit (semacam perhimpunan pariwisata di tingkat lokal), klub-klub otomotif, dan pengelola hotel.

Sebagai contoh, peta ‘wandelkaart’ yang diterbitkan oleh perhimpunan pariwisata antara lain: Wandelkaart van Garoet en omstreken (VTV, 1915), Wandelkaart van Fort de Kock (Vereeniging Toeristenbelang op Sumatra, 1922), Wandelkaart Malang en omstreken (Malang en Omstreken Vooruit, 1936), Wandelkaart van den Papandajan (Bandoeng Vooruit, 1936), Wandelkaart Nongkodjadjar en omstreken (Lawang Vooruit, 1936).

Seperti tak mau kalah, sejumlah hotel juga melakukan hal serupa. Sebagai contoh, Hotel “Berglust” Tjimahi menerbitkan Auto- en Wandelkaart voor Tjimahi en omstreken (1931), Bromo Hotel mempublikasikan Wandelkaart van Tosari (1935), dan Hotel Justina di Poedjon yang menyusun Wandelkaart voor Poedjon en omstreken (1940).

Tiap peta ‘wandelkaart’ itu berbeda pula cara menyusunnya. Misalnya, Wandelkaart voor Poedjon en omstreken (1940) yang diterbitkan oleh Hotel Justina. Peta ini menggunakan data dari Dinas Topografi, namun diperkaya dengan pengamatan langsung di lapangan. Dalam penyusunannya, peta ini memperhitungkan perbedaan tingkat kebugaran dan daya tahan fisik wisatawan pejalan kaki. Mengingat bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan fisik yang sama, rute-rute yang disajikan dalam walking tour-nya pun dibagi ke dalam beberapa kategori: rute jalan kaki yang pendek dan mudah (durasi antara 1–1,5 jam), rute sedang (2–3 jam) hingga rute yang lebih berat (4–5 jam).

 

Walking Tour di Sumatra Barat Tempo Dulu

Sumatra Barat adalah salah satu daerah di luar Jawa yang sejak lama telah mengembangkan kegiatan wisata walking tour. Pada 1922, Vereeniging Toeristenbelang op Sumatra (VTS) yang berbasis di Padang, mulai menerbitkan peta wandelkaart untuk wilayah Fort de Kock (Bukittinggi) dan sekitarnya. Hotel Centrum di Bukittinggi, juga mencetak brosur bertajuk “Walking-Trips Fort de Kock: Spend Your Holidays at Fort de Kock (The Paradise of Sumatra)”. Sayang sekali, peta terbitan VTS belum terlacak. Namun, besar kemungkinan objek wisata yang tercantum tidak jauh berbeda dengan brosur milik Hotel Centrum. Dalam brosur Hotel Centrum itu, tercantum sembilan tempat dan objek wisata yang dapat dilalui dengan berjalan kaki. Kesembilan objek wisata tersebut adalah :

  1. Karbouwengat.

Karbouwengat (Ngarai Sianok), adalah sebuah lembah yang terletak di pinggir kota Fort de Kock (Bukittinggi). Daya tarik Karbouwengat terletak pada dasar lembahnya; di sana terdapat sungai kecil yang mengalir di tengah hamparan dataran rendah yang subur dan sebagian lahannya ditanami padi. Keindahan tebing-tebing curam yang menjulang, dipenuhi ragam tumbuhan tropis, menjadikan Karbouwengat sebagai panorama alam yang memesona. Tak hanya lanskap lembah, elemen-elemen geografis lainnya juga menambah daya tarik objek wisata ini; dan yang paling menonjol adalah Tabiang Takuruang.

  1. Sterreschans.

Sterreschans merujuk pada objek wisata benteng Belanda yang dibangun pada masa Perang Paderi. Dalam literatur Belanda, ia disebut juga dengan old fortification atau “benteng tua”. Memasuki awal abad ke-20, lokasi benteng ini menjadi bagian dari sebuah taman yang dikenal dengan nama Jamespark.

  1. Stormpark.

Stormpark adalah salah satu objek wisata taman buatan yang mulai dibangun pada 1897. Taman ini juga disebut dengan Kebun Bunga, karena di sini tumbuh beragam jenis bunga. Area taman yang luas, dipenuhi bunga-bunga dan dilengkapi bangku-bangku, menjadikannya ruang publik kesukaan wisatawan untuk berjalan-jalan santai atau menikmati udara segar. Dari taman ini pula, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan indah ke arah Gunung Pasaman (Gunung Ophir).

Di dalam taman ini, pada 1929, dibangun sebuah kebun binatang (taman margasatwa) yang dinamai Fort de Kocksche Dieren Park. Awalnya, kebun binatang ini hanya memelihara berbagai jenis burung. Namun, seiring waktu, koleksinya berkembang mencakup beragam satwa liar. Pada 1935, di dalam kawasan ini dibangun juga sebuah rumah gadang, lengkap dengan rangkiang, dan ruang pamer yang menampilkan benda-benda budaya Minangkabau.

  1. Jalan setapak Westenenk.

Jalan setapak Westenenk adalah jalur kecil yang membentang di sepanjang bibir atas Ngarai Sianok. Jalur ini memungkinkan wisatawan menikmati keindahan lembah dari sisi atas, dengan pemandangan terbuka yang memperlihatkan tebing-tebing curam, aliran sungai, dan hamparan hijau di dasar ngarai.

  1. Jalan kaki di belakang kantor pos Fort de Kock.
  2. Pakan Rabaa dan Pakan Sabtu.

Pakan Rabaa dan Pakan Sabtu merujuk pada hari pasar. Pada hari-hari itu, suasana kota menjadi sangat ramai. Jumlah pengunjung bahkan bisa mencapai lebih dari 10.000 orang dalam satu hari pasar, dan menjadikannya salah satu pusat aktivitas ekonomi dan sosial di kawasan ini.

  1. Kolam Renang.
  2. Koto Gadang.

Koto Gadang adalah sebuah nagari yang berada di sebelah barat Fort de Kock, tepat di seberang Ngarai Sianok. Sejak awal abad ke-20, nagari ini telah dikenal luas sebagai tujuan wisata, terutama karena keterampilan penduduknya dalam menghasilkan sulaman yang halus dan kerajinan perak. Keahlian itu menjadikan Koto Gadang tidak hanya tumbuh sebagai pusat kerajinan, tetapi juga sebagai destinasi yang menarik wisatawan.

  1. Taluak

Tempat terakhir dari daftar ‘walking trips’ terbitan Hotel Centrum ini adalah Taluak (Taloek). Daya tarik kawasan ini adalah keberadaan masjid tua dengan menaranya, dan rumah-rumah adat lama yang masih terjaga keasliannya.

Refleksi

Dengan mencermati peta-peta ‘wandelkaart’, terlihat bahwa sebagian besar rute walking tour tempo dulu ditujukan pada destinasi wisata alam dan budaya. Bangunan-bangunan kolonial umumnya masih difungsikan sebagai kantor, gudang, bank, atau rumah pribadi–sehingga belum dianggap sebagai objek wisata. Kala itu, wisatawan, terutama dari Eropa, justru melihat daya tarik utama terletak pada lanskap alam dan budaya lokal. Karena itu, lembaga-lembaga kepariwisataan lebih banyak “menjual” pengalaman menjelajahi keindahan alam dan budaya, alih-alih arsitektur kolonial.

Jika dibandingkan dengan tren walking tour masa kini, tampak adanya perubahan sekaligus keberlanjutan. Perubahan yang paling jelas adalah tampilnya bangunan-bangunan kolonial sebagai daya tarik utama, meski lanskap alam dan budaya lokal tak ditinggalkan. Di sisi lain, terdapat pula aspek keberlanjutan: bangunan-bangunan seperti kelenteng, masjid, dan gereja, sejak masa kolonial hingga kini tetap menjadi objek penting dalam walking tour perkotaan.

Jika tempo dulu di Sumatera Barat ada Vereeniging Touristenbelang op Sumatra, yang menggiatkan aktivitas walking tour, kini muncul lebih banyak inisiatif serupa. Di Kota Padang, misalnya, ada komunitas Padang Heritage yang aktif menyelenggarakan tur jalan kaki di Kawasan Kota Tua Padang melalui program “Padang Heritage Walk”. Sementara itu, di kawasan pedesaan seperti Nagari Koto Gadang, yang terkenal sebagai tanah kelahiran banyak tokoh bangsa, ada komunitas Kage Sumbar dengan program “Walking Tour Nagari Intelektual”.

Bagaimana kedua komunitas yang berbeda latar ini–satu tumbuh di kota, satu lagi berakar di desa–menyusun narasi, memilih rute, dan membangun pengalaman berjalan kaki bagi wisatawannya? Apakah tujuan, pendekatan, dan karakter masing-masing walking tour juga mencerminkan identitas ruang yang mereka wakili?(Bersambung)

 

Editor : Eri Mardinal
#sumatera barat #tempo dulu #walking tour