Endang Pribadi• Rabu, 10 September 2025 | 16:25 WIB
Endang Pribadi Oleh: Endang Pribadi, Wartawan Harian Pagi Rakyat Sumbar
Konten berbahasa kasar di media sosial kian mudah ditemui, terutama dalam bentuk bacaruik atau makian dalam bahasa Minang.
Fenomena ini makin marak di berbagai platform, khususnya TikTok, dan ironisnya justru menarik banyak pengikut.
Dulu, bacaruik dianggap tabu dalam pergaulan masyarakat Minangkabau yang dikenal menjunjung tinggi nilai agama.
Namun kini, kata-kata kasar justru bertransformasi menjadi bahasa gaul yang dianggap keren, bahkan kerap dipakai dalam percakapan sehari-hari.
Pergeseran Budaya atau Pelampiasan Emosi?
Kemunculan bacaruik di konten digital memunculkan pertanyaan: apakah ini sekadar tren, atau tanda terjadinya pergeseran budaya di masyarakat Minang?
Secara umum, makian muncul ketika seseorang tersulut emosi. Akan tetapi, bacaruik tidak selalu dipakai untuk melampiaskan amarah atau frustrasi.
Banyak orang justru menggunakannya untuk meniru, mengikuti tren, atau menunjukkan keakraban di lingkungannya.
Penggunaan bacaruik juga sering dikaitkan dengan kondisi sosial, ekonomi, hingga pendidikan. Masyarakat kelas menengah ke bawah, yang relatif memiliki keterbatasan pendidikan dan pemahaman agama, lebih sering diasosiasikan dengan penggunaan bahasa kasar tersebut.
Media Sosial dan Asimilasi Budaya Minang
Masifnya bacaruik di media sosial menunjukkan adanya proses asimilasi budaya. Filosofi Minangkabau yang berlandaskan “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” kini menghadapi tantangan dari derasnya arus digital.
Konten kreator dan influencer lokal menggunakan bahasa kasar secara terbuka dalam video mereka, bahkan menjadikannya sebagai ciri khas.
Mereka menilai sikap “apa adanya” lebih menarik perhatian audiens. Alhasil, banyak pengikut yang mencontoh gaya tersebut, menganggap bacaruik identik dengan keren dan trendi.
Fenomena ini diperkuat oleh pengaruh musik dan film yang turut menormalisasi penggunaan kata-kata kasar.
Media sosial kemudian menjadi ruang bebas untuk mengekspresikan diri tanpa khawatir konfrontasi langsung, sehingga bacaruik semakin tumbuh subur.
Dampak Sosial dan Kekhawatiran ke Depan
Normalisasi bacaruik di media sosial memunculkan kekhawatiran serius. Bahasa kasar yang dulunya hanya digunakan pada situasi tertentu, kini seolah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari.
Jika dibiarkan, fenomena ini bisa memengaruhi karakter generasi muda, hubungan sosial, hingga melemahkan nilai budaya Minang yang identik dengan kesantunan.
Lingkungan komunikasi digital yang dipenuhi makian juga berpotensi menciptakan ruang yang tidak aman dan tidak ramah bagi penggunanya.
Pentingnya Literasi Digital
Sebagai solusi, pemerintah diharapkan lebih aktif menggencarkan program literasi digital. Edukasi etika berkomunikasi di media sosial, serta pembelajaran cara mengelola emosi, penting untuk mengurangi penyalahgunaan bahasa kasar.
Upaya ini tidak hanya menjaga kualitas interaksi di dunia maya, tetapi juga melindungi nilai budaya Minangkabau agar tidak terkikis oleh tren sesaat.(***)