PADEK.JAWAPOS.COM—Pada awal September lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Barat merilis sebuah publikasi kepariwisataan. Sepanjang tahun 2024, lebih dari 76 ribu wisatawan mancanegara (wisman) mengunjungi Sumatra Barat melalui Bandara Internasional Minangkabau. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam dua dekade terakhir. Bagi sebagian orang, capaian ini terasa seperti babak baru dalam sejarah pariwisata daerah. Namun sesungguhnya, Sumatra Barat telah rutin dikunjungi rombongan wisatawan asing jauh sebelum masa kemerdekaan.
Jika menengok ke masa prakemerdekaan, tampak bahwa pariwisata di Sumatra Barat mulai mengalami perubahan besar. Pada paruh kedua abad ke-19, aktivitas wisata di daerah ini masih didominasi oleh para pelancong Eropa yang datang untuk tujuan ilmiah, petualangan, atau kunjungan pribadi. Sejak awal abad ke-20, pola tersebut bergeser seiring hadirnya jaringan pelayaran reguler, paket wisata dari biro perjalanan, serta dukungan infrastruktur modern seperti Pelabuhan Emmahaven (kini Teluk Bayur) dan jalur kereta api menuju daerah pedalaman. Perubahan ini memungkinkan kedatangan wisatawan dalam jumlah besar dan menandai babak baru dalam sejarah pariwisata di Sumatra Barat.
Pergeseran ini juga menandai awal pariwisata massal (mass tourism) di Sumatra Barat, ketika pengalaman wisata menjadi lebih terstandar, terjadwal, dan mudah diakses oleh kelompok yang lebih luas. Sejak saat itu, Sumatra Barat semakin terlibat dalam sistem pariwisata dunia. Kawasan ini bukan lagi sekadar tempat persinggahan (transit route), melainkan telah menjadi daerah tujuan wisata internasional (tourist destination region).
Kedatangan sejumlah kapal pesiar Eropa dan Amerika di Emmahaven, terutama pada dekade 1920-an hingga 1930-an, adalah salah satu bentuk pergeseran itu. Kedatangan kapal pesiar setidaknya memiliki dua arti penting. Ia bukan hanya menandai hadirnya praktik pariwisata massal (mass tourism), tetapi juga menegaskan posisi Sumatra Barat sebagai salah satu daerah tujuan wisata internasional yang penting pada masa kolonial.
Artikel ini berupaya memperlihatkan bagaimana, pada masa prakemerdekaan, Sumatra Barat telah dikunjungi ratusan wisman yang melakukan pelayaran keliling dunia dengan sejumlah kapal pesiar mewah. Dapat dikatakan, kunjungan wisatawan asing dengan kapal pesiar inilah yang menandai awal mula pariwisata massal di Sumatra Barat.
Pariwisata Massal
Dalam Encyclopedia of Tourism (2016), pariwisata massal (mass tourism) didefinisikan sebagai pergerakan sejumlah besar wisatawan yang terorganisasi menuju destinasi populer untuk tujuan rekreasi. Pola ini ditandai oleh penggunaan paket wisata terstandarisasi dan layanan pariwisata berskala besar. Dengan kata lain, pariwisata massal terjadi ketika banyak orang mengunjungi suatu tempat pada waktu yang bersamaan.
Dalam praktiknya, pariwisata massal kerap dikelola oleh operator atau biro perjalanan (reisbureaux). Wisatawan tidak bepergian secara mandiri, tetapi mengikuti rombongan dengan jadwal perjalanan, transportasi, akomodasi, dan aktivitas wisata yang telah ditentukan sebelumnya. Destinasi yang dipilih biasanya merupakan tempat-tempat terkenal dengan daya tarik kuat–baik karena keindahan alamnya, ragam budayanya, maupun kemudahan aksesnya.
Operator atau biro perjalanan kemudian menyusun paket wisata dengan pola seragam: setiap wisatawan mendapatkan jadwal perjalanan (itinerary), layanan transportasi, akomodasi, konsumsi, dan kunjungan ke objek wisata yang sama, tanpa banyak ruang untuk penyesuaian pribadi.
Awal Pariwisata Massal di Sumatra Barat
Sumatra Barat tidak serta-merta muncul sebagai destinasi wisata pada awal abad ke-20. Ada rangkaian faktor yang saling berkaitan yang membuat daerah ini menarik kunjungan wisatawan asing. Pertama, perbaikan sarana dan prasarana transportasi–terutama pembangunan jalan raya dan jalur kereta api–memudahkan wisatawan menjangkau berbagai tempat di pedalaman Sumatra Barat. Kedua, keberadaan operator dan biro perjalanan (reisbureau) yang menawarkan paket wisata menarik, memudahkan wisman untuk berkunjung ke daerah ini. Ketiga, yang tak kalah penting, keindahan alam dan kekayaan budaya Minangkabau menjadi daya tarik utama yang melengkapi pengalaman berwisata.
Baca Juga: Bendi Tetap Jadi Primadona Wisata Keluarga di Pantai Padang saat Libur Lebaran
Ketiga faktor ini—transportasi, biro perjalanan, dan destinasi wisata—menciptakan ekosistem pariwisata awal yang memungkinkan kedatangan wisatawan dalam jumlah besar.
Praktik pariwisata massal di Sumatra Barat dapat ditelusuri melalui catatan kedatangan kapal-kapal pesiar yang singgah di Pelabuhan Emmahaven. Kapal-kapal pesiar milik perusahaan pelayaran Eropa dan Amerika–seperti Stella Polaris, Franconia, dan Empress of Britain–memasukkan Padang sebagai salah satu pelabuhan persinggahan di Asia.
Sejak awal 1920-an, kapal-kapal pesiar asing mulai rutin singgah di Pelabuhan Emmahaven. Pada Maret 1923, misalnya, kapal Samaria milik Cunard Line membawa sekitar 400 wisatawan Amerika melalui biro perjalanan Thomas Cook & Son. Dua tahun kemudian, perusahaan yang sama kembali dengan kapal Franconia yang mengangkut sekitar 300 wisatawan. Dari pelabuhan, mereka melanjutkan perjalanan via kereta menuju Lembah Anai dan Padang Panjang.
Hal itu terus berlanjut hingga akhir dekade 1920-an. Pada Desember 1929, kapal Stella Polaris dari perusahaan B. & N. Line Royal Mail membawa sekitar 70 wisatawan Inggris. Memasuki dekade 1930-an, giliran kapal pesiar milik perusahaan Canadian Pacific Steamship Company–seperti Empress of Australia dan Empress of Britain–yang mendominasi kunjungan, masing-masing dengan rombongan lebih dari 300 wisatawan.
Aktivitas Wisata Massal
Seluruh perjalanan wisata para pelancong di Sumatra Barat di atas berlangsung selama satu hari. Aktivitas wisata tersebut terdiri atas dua bagian. Pertama, perjalanan dengan kereta api dari Emmahaven menuju Padang Panjang melalui Lembah Anai. Kedua, kunjungan ke pameran (tentoonstelling) produk kerajinan tangan masyarakat Minangkabau di Padang Panjang.
Perjalanan dengan kereta api dimungkinkan berkat kerja sama dengan Staatsspoorwegen ter Sumatra’s Westkust (SSS). Jawatan kereta api pemerintah kolonial itu menyiapkan kereta tambahan khusus agar seluruh wisatawan dapat diangkut dalam satu kali perjalanan. Bagi para pelancong Eropa dan Amerika, perjalanan ini begitu berkesan karena mereka dapat menikmati pemandangan Lembah Anai yang hijau di sepanjang jalur, sebuah perpaduan antara keindahan alam tropis dan kemajuan teknologi transportasi kala itu.
Setibanya di Padang Panjang, wisatawan mengunjungi pameran yang menampilkan berbagai hasil kerajinan tangan khas Minangkabau seperti tenunan songket, ukiran kayu, perak, dan anyaman rotan. Pameran tersebut hampir setiap tahun diadakan di Meisjes Normaalschool (kini SMA Negeri 1 Padang Panjang) dan sering disertai pertunjukan seni seperti tari tradisional dan peragaan prosesi pernikahan adat. Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau sekaligus memberi kesempatan bagi pelancong membeli suvenir, sementara masyarakat lokal memperoleh keuntungan ekonomi dari penjualan produk tradisional mereka.
Dengan demikian, dua kegiatan tersebut mencerminkan bagaimana aktivitas wisata di Sumatra Barat dirancang secara terpadu, memadukan keindahan alam dengan kekayaan budaya Minangkabau, serta menempatkan keduanya sebagai daya tarik utama dalam pariwisata kolonial di daerah ini.
Refleksi
Sejarah pariwisata massal di Sumatra Barat memperlihatkan bahwa sejak awal, alam dan budaya telah menjadi dua unsur yang membentuk citra kepariwisataan daerah ini. Dari perjalanan melintasi Lembah Anai hingga kunjungan ke pameran di Padang Panjang, perpaduan antara keindahan lanskap dan kekayaan budaya Minangkabau selalu menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Kedua unsur ini bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga modal utama bagi pengembangan pariwisata di masa kini dan mendatang.
Oleh karena itu, pengelolaan pariwisata di Sumatra Barat semestinya terus berlandaskan pada pemeliharaan keseimbangan antara keduanya. Alam yang lestari dan budaya yang hidup akan menjamin keberlanjutan pariwisata sekaligus menjaga jati diri daerah. Dengan menempatkan keindahan alam dan warisan budaya sebagai inti pengembangan pariwisata, Sumatra Barat dapat melanjutkan tradisi panjangnya sebagai destinasi yang memikat wisatawan dunia, sambil menjaga kelestarian lingkungan serta keutuhan jati diri budayanya. (*)
Editor : Eri Mardinal