Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Refleksi Etnofotografi Edy Utama, Minangkabau dalam Spiritualitas dan Budaya Lokal

Novitri Selvia • Kamis, 30 Oktober 2025 | 13:00 WIB

 

Ganefri, Senior Eksekutif dan Guru Besar UNP. (Jawapos)
Ganefri, Senior Eksekutif dan Guru Besar UNP. (Jawapos)

Oleh: Ganefri, Ketua PW NU Sumatera Barat

ISLAM di Minangkabau bukan hanya sistem keyakinan, melainkan juga napas kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan masyarakat.

Ia hidup dalam ruang adat, dalam perilaku harian, dan dalam simbol-simbol lokal yang khas. “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” menjadi dasar filosofis yang menghubungkan nilai agama dengan tatanan budaya.

Keterpaduan antara adat dan agama inilah yang menjadi kekhasan Sumatera Barat. Di sinilah Islam tidak hadir secara kaku, tetapi melebur, menyatu, dan membentuk jati diri masyarakatnya.

Pameran etnofotografi karya Edy Utama dengan tema “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatera Barat” menghadirkan dokumentasi visual tentang perjalanan spiritual masyarakat Minangkabau, tentang bagaimana surau dan ritus keberagamaan menjadi simbol keislaman yang membumi, sekaligus cermin kearifan lokal yang lestari.

Pameran tersebut digelar di Galeri Taman Budaya Sumbar sejak Jumat (24/10) lalu hingga besok (31/10). Surau merupakan institusi sosial dan keagamaan tertua di Minangkabau.

Sejak abad ke-17, surau telah menjadi pusat aktivitas umat: tempat ibadah, tempat pendidikan, asrama pemuda, dan wadah musyawarah masyarakat.

Fungsi surau jauh melampaui masjid dalam konteks lokal, karena di sinilah pembentukan karakter dan penguatan nilai moral berlangsung sejak dini.

Anak-anak laki-laki Minangkabau dahulu meninggalkan rumah orang tua mereka untuk tinggal di surau. Mereka belajar mengaji, ilmu fikih, silat, dan sopan santun.

Di sanalah terbentuk generasi muda yang berdisiplin, religius, dan berjiwa sosial. Para guru surau atau tuanku menjadi figur yang disegani, baik karena ilmunya maupun kebijaksanaannya.

Namun seiring perkembangan zaman, fungsi surau mengalami pergeseran. Modernisasi pendidikan dan perubahan sosial mengurangi peran surau sebagai lembaga utama pembinaan moral.

Dalam konteks inilah karya fotografi Edy Utama hadir sebagai upaya untuk “membangkitkan batang tarandam”, mengingatkan kembali nilai-nilai spiritual dan sosial yang pernah tumbuh kuat di surau.

Melalui bingkai foto, surau dipotret bukan sekadar bangunan fisik, tetapi ruang batin: tempat zikir, tempat anak mengaji, tempat orang tua bermunajat.

Cahaya yang menembus jendela kayu surau dalam karya-karya Edy Utama menjadi metafora kehadiran Ilahi yang menuntun manusia dalam perjalanan hidupnya.

Ritus keberagamaan di Minangkabau memperlihatkan harmoni antara ajaran Islam dan adat. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menjalankan berbagai praktik keagamaan yang sekaligus berfungsi sebagai pengikat sosial.

Beberapa di antaranya ialah peringatan Maulid Nabi, khatam Al Quran, manjalang mintuo (silaturahmi pascapernikahan), batagak gala, serta ziarah kubur. Semua ritus tersebut sarat makna spiritual. Rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, dan penguatan ikatan antarwarga.

Dalam foto-foto Edy Utama, ritus-ritus ini terekam dalam kesederhanaannya: perempuan membawa nasi lamak ke masjid, anak-anak berpakaian putih dalam khatam Quran, jamaah tua berzikir dalam cahaya senja, atau keramaian masyarakat pada peringatan hari besar Islam.

Melalui teknik etnofotografi, budayawan yang akrab disapa Bung itu tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga mengungkap makna sosial dan spiritual di balik setiap gerak dan ekspresi.

Ritus keberagamaan itu tampak hidup, mengalir, dan tetap relevan di tengah modernitas yang terus bergulir. Etnofotografi merupakan pendekatan visual yang digunakan untuk menggambarkan kehidupan manusia dalam konteks budaya.

Ia bukan sekadar dokumentasi, melainkan interpretasi sebuah cara “membaca” budaya melalui gambar. Dalam konteks ini, Bung menampilkan karya-karyanya bukan hanya untuk dinikmati secara estetis, tetapi juga untuk direnungkan secara sosial dan religius.

Foto-foto tentang surau dan ritus keberagamaan dihadirkan sebagai cermin spiritualitas kolektif masyarakat Minangkabau: keteguhan iman, semangat kebersamaan, dan keindahan dalam kesederhanaan.

Pameran ini mengajak penonton untuk melihat kembali akar budaya dan nilai-nilai keislaman yang selama ini menjadi penopang peradaban Minangkabau.

Baca Juga: Alih Aset Perumda Tirta Anai Dipastikan Untung

Ia menjadi semacam dialog visual antara masa lalu dan masa kini antara tradisi yang diwariskan dan tantangan modernitas yang dihadapi. Pepatah Minangkabau “mambangkik batang tarandam” bermakna menghidupkan kembali sesuatu yang pernah tenggelam.

Dalam konteks pameran ini, ia menjadi simbol upaya membangunkan kesadaran kultural dan spiritual masyarakat.

Melalui etnofotografi, Edy Utama mencoba membangkitkan kembali ingatan kolektif tentang pentingnya surau, tentang nilai gotong royong, tentang ritus yang memperkuat iman, serta tentang hubungan harmonis antara adat dan agama.

Pameran ini bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan ajakan untuk meneguhkan kembali nilai-nilai Islam yang berakar dalam adat Minangkabau—nilai-nilai yang menjunjung tinggi ilmu, kebersamaan, dan kasih sayang sesama manusia.

Islam di Minangkabau hidup dalam keseharian, dalam adat, dalam surau, dan dalam ritus keagamaan yang sarat makna. Ia bukan agama yang datang dari luar, melainkan telah menjadi bagian dari jiwa masyarakat.

Melalui pameran etnofotografi “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatera Barat”, Edy Utama berhasil menghadirkan potret spiritualitas yang tidak hanya indah, tetapi juga menggugah kesadaran.

Karya-karya ini mengingatkan kita bahwa menjaga warisan budaya dan agama bukan sekadar tugas dokumentasi, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral.

Dalam surau yang sederhana, dalam ritus yang penuh makna, tersimpan kebijaksanaan yang perlu kita hidupkan kembali—sebagai bagian dari upaya membangkit batang tarandam, membangun kembali jati diri bangsa yang berakar pada iman dan budaya. (*)

Editor : Novitri Selvia
#Etnofotografi #Edy Utama #Ganefri