Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

27 Tahun Padang Ekspres: Bertahan di Tengah Badai, Menjaga Marwah Jurnalisme

Two Efly • Senin, 26 Januari 2026 | 06:10 WIB

Dalam sebuah podcast Twoefly Channel, Minggu 25 Januari 2026, pelaku sejarah Padang Ekspres, H Wiztian Yoetri, mengungkap cerita menarik di balik penamaan media ini.
Dalam sebuah podcast Twoefly Channel, Minggu 25 Januari 2026, pelaku sejarah Padang Ekspres, H Wiztian Yoetri, mengungkap cerita menarik di balik penamaan media ini.
Oleh: Two Efly, Wartawan Padang Ekspres

Waktu bergerak cepat. Hari ini, Padang Ekspres genap berusia 27 tahun. Sebuah usia matang bagi media cetak yang lahir, tumbuh, dan bertahan di tengah perubahan lanskap informasi yang begitu drastis.

Perjalanan Padang Ekspres bukanlah kisah yang dimulai dengan kemudahan. Jauh sebelum edisi perdana terbit, berbagai tantangan menghadang. Persoalan administrasi, keterbatasan sumber daya manusia, hingga minimnya peralatan kerja menjadi bagian dari fase awal yang penuh ujian.

Namun, satu per satu rintangan itu dilalui. Setelah legalitas rampung dengan terbitnya Surat Izin Usaha Penerbitan (SIUP) dari Kementerian Penerangan, Padang Ekspres akhirnya hadir sebagai media baru di Sumatera Barat.

Dalam sebuah podcast Twoefly Channel, Minggu 25 Januari, pelaku sejarah Padang Ekspres, H Wiztian Yoetri, mengungkap cerita menarik di balik penamaan media ini. Sejak awal, nama yang disiapkan para pendiri sebenarnya adalah Padang Pos, mengikuti pola penamaan media di bawah payung Jawa Pos Group.

Namun, dinamika persaingan media di Sumatera Barat pada 1999 berlangsung cepat. Momentum terlewat. Nama Padang Pos lebih dahulu dipatenkan pihak lain. Dalam keterbatasan waktu, lahirlah nama Padang Ekspres—sebuah ide yang muncul di injury time dan kemudian menjadi identitas resmi media ini hingga kini.

WS Series 7, Faksimile, dan Kertas Kalkir

Seperti bayi yang baru lahir, Padang Ekspres memulai langkahnya dengan tertatih. Kantor pertama menempati bangunan kecil di Ulak Karang, sebelum kemudian berpindah ke ruko dua lantai di Jalan S. Parman No. 102 A.

Teknologi produksi kala itu sangat sederhana. Pengetikan berita menggunakan WS Series 7, tata letak halaman memakai PageMaker, dan berita dari koresponden dikirim melalui faksimile. File berita disimpan dalam disket. Hilang disket, hilang pula berita.

Sebelum naik mesin cetak, halaman dicetak di kertas kalkir. Proses montase dilakukan secara manual: memotong, menempel, lalu menyusunnya menjadi halaman utuh. Meski kini terasa sangat jadul, teknologi tersebut tergolong maju pada masanya dan diadopsi dari Riau Pos serta Jawa Pos sebagai bentuk dukungan induk perusahaan.

Cetak Perdana di Pekanbaru

Padang Ekspres terbit perdana dengan logo hitam, 16 halaman, dan dicetak di Riau Graindo Mediatama, Pekanbaru. Seluruh proses produksi harus rampung sebelum pukul 00.00 WIB dan dikirim melalui FTP milik Jawa Pos.

Baca Juga: Fenomena Generasi Sandwich di Padang: Beban Anak–Orang Tua dan Upaya Memutus Rantai Kemiskinan

Berbeda dengan media lokal lain di Sumatera Barat, Padang Ekspres justru menjadikan Payakumbuh dan Limapuluh Kota sebagai pasar awal. Dari wilayah inilah distribusi diperluas ke seluruh Sumatera Barat—alasan mengapa kawasan tersebut hingga kini tetap menjadi basis strategis Padang Ekspres.

Keterbatasan tidak menjadi penghalang. Kualitas konten, gaya penulisan, dan kejelian manajemen membaca pasar membuat Padang Ekspres diterima pembaca. Tiras perlahan meningkat, pelanggan terus bertambah.

Dahlan Iskan dan Rida K. Liamsi bahkan turun langsung ke Padang. Abah Dahlan menyetir sendiri mobil L-300, merasakan lelahnya distribusi, menyapa loper, dan menyuntikkan semangat kepada seluruh tim. Janjinya sederhana namun visioner: Padang Ekspres harus mencetak di Padang agar bisa berkembang.

Beberapa bulan kemudian, mesin cetak rekondisi pun tiba. Sejak saat itu, Padang Ekspres resmi mencetak dan mendistribusikan koran dari Kota Padang. Brand Padeks kian menguat. Tiras melonjak hingga sekitar 10.000 eksemplar per hari, dengan halaman bertambah dari 16 menjadi 24 halaman.

Dari Pendatang ke Market Leader

Sebagai pendatang baru, Padang Ekspres menghadapi dominasi kuat media lokal yang lebih dulu mapan. Format tujuh kolom yang diusung sempat menuai stigma. Namun, sinergi redaksi, pemasaran, dan iklan menjadi kunci.

Perlahan, pasar memahami. Pakem koran di Sumatera Barat bermigrasi. Padang Ekspres yang semula dianggap berbeda justru menjadi pelopor, hingga akhirnya menempatkan diri sebagai market leader.

Beda Zaman, Beda Tantangan

Perjalanan dari 25 Januari 1999 hingga 25 Januari 2026 adalah perjalanan lintas zaman. Media cetak yang dahulu menjadi raja informasi kini menghadapi turbulensi hebat akibat disrupsi digital.

Padang Ekspres memilih beradaptasi. Digital tidak diposisikan sebagai ancaman, melainkan pelengkap. Berbagai platform digital dikembangkan sebagai supporting system media cetak.

Namun, satu prinsip tetap dijaga: konten adalah jiwa. Jurnalisme yang kuat, terverifikasi, dan beretika menjadi fondasi. Koran tetap relevan karena tidak memproduksi hoaks dan tidak menyajikan sampah informasi.

Dua puluh tujuh tahun telah dilalui. Banyak pelajaran yang dipetik. Saatnya terus belajar, mengevaluasi, dan bangkit.

Padang Ekspres diharapkan tetap hadir sebagai pilar keempat bangsa dan penjaga kualitas informasi di Sumatera Barat. 

Selamat ulang tahun ke-27 Padang Ekspres. Teruslah menyala.(***)

Editor : Hendra Efison
#padang ekspres #Media cetak Sumatera Barat #Sejarah Padang Ekspres #HUT Padang Ekspres 27 tahun