Penulis: Ares Albirru Amsal, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas.
PADEK.JAWAPOS.COM-Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah istilah baru muncul ke permukaan untuk menggambarkan perilaku belanja yang tidak biasa di kalangan generasi muda, yaitu doom spending. Istilah ini merujuk pada fenomena di mana seseorang secara sadar melakukan belanja ugal-ugalan atau pengeluaran impulsif dalam jumlah besar, meskipun mereka tahu kondisi keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja atau situasi ekonomi global sedang tidak menentu.
Fenomena ini bukan lahir dari keserakahan atau ketidaktahuan akan literasi keuangan, melainkan sebuah respons emosional yang mendalam terhadap kecemasan masa depan yang dirasa tidak lagi berada di bawah kendali mereka.
Mekanisme Koping di Tengah Ketidakpastian Makro
Secara psikologis, doom spending bertindak sebagai mekanisme koping atau cara melarikan diri dari stres kronis. Generasi muda saat ini dihadapkan pada paparan berita buruk yang tiada henti di media sosial, mulai dari isu perubahan iklim, ketegangan geopolitik, inflasi yang melambung tinggi, hingga harga properti yang semakin tidak masuk akal dan mustahil untuk dijangkau.
Ketika persepsi terhadap masa depan bergeser dari penuh harapan menjadi penuh ancaman, motivasi untuk menabung jangka panjang perlahan-lahan runtuh.
Bagi banyak konsumen, pemikiran yang muncul kemudian adalah rasionalisasi yang fatalistik. Mereka merasa bahwa menghemat uang demi membeli rumah atau menyiapkan dana pensiun dalam tiga puluh tahun ke depan adalah hal yang sia-sia karena target tersebut terasa terlalu jauh dan mustahil dicapai.
Akibatnya, fokus mereka beralih sepenuhnya pada masa kini. Mengapa harus bersusah payah menahan diri demi masa depan yang buram, jika uang yang dimiliki saat ini bisa langsung ditukarkan dengan kebahagiaan instan berupa pakaian bermerek, tiket konser, liburan mewah, atau makanan estetik siang ini?
Suntikan Dopamin Instan Penghalau Kecemasan
Industri perdagangan digital menangkap celah psikologis ini dengan sangat cerdas. Aplikasi belanja online dan skema pembayaran tunda atau paylater menyediakan jalur tol bagi konsumen untuk mendapatkan suntikan dopamin tanpa hambatan.
Ketika seseorang merasa cemas dan tidak berdaya atas karier atau masa depannya, menekan tombol konfirmasi pembayaran memberikan rasa kendali semu yang menenangkan, walau hanya bertahan untuk beberapa jam saja. Belanja ugal-ugalan ini menjadi bentuk kompensasi atas hilangnya agensi diri dalam kehidupan nyata.
Sifat dari doom spending ini sangat berbeda dengan belanja mewah konvensional. Orang yang melakukan doom spending sering kali tidak berniat untuk pamer kekayaan, melainkan murni mencari kepuasan emosional yang cepat guna menutupi kekosongan dan keputusasaan batin.
Ironisnya, setelah euforia paket belanjaan tiba dan dopamin tersebut menurun, konsumen sering kali dihadapkan pada kenyataan baru berupa tagihan yang menumpuk, yang pada akhirnya justru memperparah tingkat stres dan kecemasan mereka.
Memutus Rantai Fatalisme Finansial
Menghadapi jebakan doom spending membutuhkan pendekatan yang melampaui sekadar saran matematis seperti membuat anggaran ketat. Langkah awal yang paling mendasar adalah memulihkan hubungan emosional kita dengan masa depan.
Sadarilah bahwa meskipun situasi makro di luar sana berada di luar kendali kita, kendali atas keputusan finansial harian sepenuhnya tetap berada di tangan kita sendiri.
Alih-alih menyerah pada keadaan dan menghabiskan seluruh pendapatan untuk pelarian sesaat, cobalah mengalihkan fokus pada pencapaian-pencapaian finansial skala kecil yang lebih realistis dan bisa dirasakan dampaknya dalam waktu dekat.
Membangun dana darurat kecil atau berinvestasi pada keterampilan baru yang bisa meningkatkan nilai diri adalah bentuk proteksi nyata yang jauh lebih efektif untuk meredakan kecemasan harian, ketimbang menimbun barang-barang konsumtif yang keesokan harinya akan kehilangan daya pikatnya.(*)
Editor : Heri Sugiarto