Pertumbuhan ekonomi (PE) Sumbar boleh saja melambat. Ya, tahun lalu PE Sumbar hanya 3,37 persen, atau di bawah rata-rata PE nasional 5,11 persen. Data resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Indonesia 2025 tumbuh 5,11 persen (c-to-c), sementara BPS Sumbar mencatat ekonomi Sumbar 2025 hanya 3,37 persen.
Bahkan, pada Triwulan IV-2025 pertumbuhan Sumbar tercatat melambat di kisaran 1,69 persen (yoy), sehingga menahan capaian tahunan.
Namun, kondisinya seakan jauh berbeda di lapangan, masyarakat seakan “menikmati” saja kondisi tersebut. Nyaris tidak ada riak di lapangan. Mengeluh pastilah ada, namun tak sampai membunuh harga diri.
Kondisi ini sudah berlangsung berbilang tahun. Tahun lalu diakui memang berat, namun seperti tadi nyaris tak pernah didengar orang sampai mati kelaparan.
Secara struktur, ekonomi Sumbar masih ditopang sektor perdagangan besar dan eceran, pertanian, serta transportasi dan pergudangan. Ketiganya menjadi penyangga utama konsumsi rumah tangga—yang secara nasional berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pola ini juga tercermin di Sumbar, di mana konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Lebih mencolok terlihat selama bulan Ramadan 1447 H. Denyut perekonomian begitu terasa di tengah masyarakat. Denyutnya mulai terasa jauh menjelang masuknya Ramadan. Kita bisa melihat bagaimana antusias masyarakat menyambut bulan penuh berkah ini.
Bahkan, mereka yang terlihat tidak mampu sekali pun, tetap saja menyiapkan diri sepenuh kemampuannya. Kondisi ini semakin terasa seiring Ramadan semakin menjelang.
Momentum musiman ini memang bukan fenomena baru. Berdasarkan pola beberapa tahun terakhir, Triwulan I—yang biasanya beririsan dengan Ramadan dan persiapan Idul Fitri—cenderung mencatat pertumbuhan lebih baik dibanding triwulan berikutnya.
Tahun sebelumnya, Triwulan I Sumbar tumbuh lebih tinggi dibanding Triwulan II, III, dan IV. Artinya, faktor musiman keagamaan terbukti memberi dorongan signifikan terhadap konsumsi.
Memang bukan soal tradisi balimau, namun bagaimana masyarakat menyiapkan segala sesuatunya begitu serius. Lihatlah pasar-pasar tradisional dan modern ramai dikunjungi.
Khusus pasar tradisional, rata-rata masyarakat membeli kebutuhan sembako menjelang Ramadan. Kalaulah bukan ayam, ya daging sapi. Bila kebetulan kita lewat di depan rumah warga, siap-siaplah menghirup aroma begitu lezat, seperti rendang.
Secara nasional, Bank Indonesia dalam berbagai rilisnya kerap menyebut Ramadan dan Idul Fitri sebagai periode peningkatan uang beredar (currency in circulation). Peningkatan permintaan uang tunai menjadi indikator kuat naiknya aktivitas transaksi ritel dan konsumsi masyarakat.
Warga pun bersolek membersihkan sekaligus mempercantik tempat tinggalnya. Cat-cat rumah yang kusam, dicat ulang. Antusias juga terlihat, bagaimana masyarakat menggelar hajatan jelang Ramadan.
Paling banyak, tentu makan bersama diiringi doa jelang puasa. Bagi ibu-ibu yang merasa sajadah atau mukenanya sudah “tertinggal”, ya pilihannya beli yang baru. Termasuk, beli karpet, dan lainnya.
Nah, sewaktu Ramadan pun antusiasnya lebih kental lagi. Menu berbukanya beragam. Tak cukup mengandalkan masakan rumahan, namun “harus” ditambah dari luar. Ya, war takjil pun begitu terasa. Imbasnya, pelaku UMKM dadakan menjamur.
Data Kementerian Koperasi dan UKM beberapa tahun terakhir menunjukkan setiap Ramadan terjadi lonjakan signifikan pelaku usaha mikro musiman di sektor makanan dan minuman. Pola ini juga terasa di berbagai kabupaten/kota di Sumbar.
Baru saja Ramadan berjalan hitungan hari, masyarakat pun sudah bersiap-siap pula menyiapkan Lebaran. Bukan hanya hasrat membeli paket set pakaian baru atau kue-kue Lebaran, fenomena belakangan terjadi soal penukaran uang baru.
Ya, tradisi penukaran uang baru ini sudah lumrah terjadi jelang Lebaran, dan jumlahnya pun tidak sedikit. Cuma saja, tahun ini cara penukaran uang sedikit berbeda. Di-handle satu pintu via Bank Indonesia.
Bank Indonesia menggulirkan layanan penukaran uang rupiah untuk Lebaran 2026 lewat program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2026. Sebelum menukar uang, masyarakat sudah melakukan pemesanan melalui aplikasi PINTAR.
Layanan ini sudah digulirkan sejak beberapa hari terakhir di hampir seluruh kabupaten/kota se-Sumbar. Masing-masing orang hanya dijatah Rp 5,3 juta.
Secara nasional, BI menyiapkan ratusan triliun rupiah uang layak edar selama periode Ramadan–Idul Fitri 2026, meningkat dibanding realisasi tahun sebelumnya. Ini menunjukkan ekspektasi tingginya transaksi masyarakat selama periode tersebut.
Lalu, gimana pelaksanaannya? Bisa jadi di luar ekspektasi banyak pihak. Antusias masyarakat terlihat begitu besar. Kendati pembukaan loket penukaran pukul 09.00, namun antrean sudah terlihat mulai pukul 07.00.
Saking panjangnya antrean, sempat membuat petugas kewalahan melakukan pengamanan. Kondisi ini terlihat sejumlah lokasi, seperti di Pasar Raya Padang, Bukittinggi dan lainnya. Lebih mengejutkan lagi, kuota sudah habis sebelum jadwalnya.
Fenomena ini menjadi indikator psikologis sekaligus ekonomi: daya beli mungkin tertekan secara makro, tetapi optimisme dan perputaran uang di level akar rumput tetap bergerak.
Lalu bagaimana jelang dan Lebaran Idul Fitri 1447 H nanti? Tak jauh berbeda pergerakan ekonomi masyarakat terus bergulir. Sebentar lagi, giliran perantau melakukan hajat tahunan “Pulang Basamo”.
Ritual ini lebih kentara lagi, bukan sekadar pulang kampung, namun biasanya perantau juga sudah menyiapkan sejumlah uang untuk dibelanjakan di kampung. Otomatis, pergerakan ekonomi di daerah terutama di nagari, bergeliat ke semua arah.
Tradisi merantau masyarakat Minangkabau menjadi faktor unik penggerak ekonomi daerah. Arus masuk dana dari perantau—baik melalui belanja langsung maupun transfer keluarga—secara musiman meningkatkan likuiditas di kampung halaman. Efek gandanya terasa pada sektor perdagangan, transportasi, kuliner, hingga jasa.
Ya, begitulah PE Sumbar melambat bukan hanya di bawah nasional, namun juga dibandingkan tahun lalu. Namun, selama Ramadan ini hampir dipastikan ekonomi Sumbar bergerak maju.
Hal ini bisa pula berpedoman dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu contohnya, triwulan pertama PE Sumbar tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan II, III maupun IV.
Tentu harapannya, geliat ekonomi selama Ramadan ini bisa menjadi pemicu pergerakan ekonomi Sumbar di triwulan berikutnya. Jika konsumsi rumah tangga tetap terjaga, UMKM terus tumbuh, dan momentum musiman mampu ditransformasikan menjadi aktivitas produktif jangka panjang, maka perlambatan 3,37 persen bukanlah akhir cerita—melainkan fase jeda sebelum akselerasi berikutnya. (*)
Editor : Adetio Purtama