PADEK.JAWAPOS.COM—Idul Fitri selalu jadi momen spesial: bukan hanya soal kemenangan spiritual setelah Ramadan, tapi juga soal solidaritas sosial yang terasa nyata. Namun tahun ini, Lebaran hadir di tengah situasi global yang lagi tidak baik-baik saja. Konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Iran, ikut mengguncang stabilitas dunia—mulai dari harga energi, inflasi global, hingga rantai pasok.
Di tengah tekanan itu, Idul Fitri jadi lebih dari sekadar hari raya. Ini momentum strategis untuk memperkuat ekonomi umat sekaligus menegaskan peran ekonomi syariah sebagai fondasi ketahanan ekonomi nasional.
Secara sederhana, Lebaran memang selalu identik dengan lonjakan aktivitas ekonomi. Konsumsi rumah tangga naik, tradisi mudik atau pulang kampung menggeliat, UMKM kebanjiran transaksi, dan sektor perdagangan hidup kembali. Ramadan hingga Idul Fitri bisa dibilang sebagai “mesin penggerak” ekonomi sektor riil.
Yang menarik, perputaran uang saat Lebaran tidak hanya berputar di kota besar. Lewat tradisi mudik, uang mengalir ke daerah, memperkuat ekonomi lokal dan meningkatkan daya beli masyarakat di tingkat bawah. Ini menciptakan efek distribusi ekonomi yang lebih merata—sesuatu yang jarang terjadi di luar momen ini.
Dalam perspektif ekonomi syariah, fenomena ini bukan sekadar konsumsi musiman. Ada mekanisme redistribusi yang bekerja. Zakat, infak, sedekah, hingga zakat fitrah menjadi instrumen nyata yang langsung menyentuh kelompok rentan. Di sinilah ekonomi tidak hanya tumbuh, tapi juga berbagi.
Singkatnya, ekonomi umat bergerak bukan hanya dengan angka, tapi juga dengan empati.
Di sisi lain, dunia sedang menghadapi tekanan serius. Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang strategis bagi energi global berpotensi memicu kenaikan harga minyak, inflasi, fluktuasi nilai tukar, hingga biaya logistik yang makin mahal.
Bagi Indonesia sebagai negara berkembang, dampaknya terasa nyata: harga energi dan pangan naik, biaya produksi meningkat, dan pasar keuangan jadi tidak stabil. Ini jadi pengingat bahwa ketahanan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan—tapi juga butuh sistem yang kuat dan berkelanjutan.
Di sinilah ekonomi syariah punya keunggulan. Ekonomi syariah berbasis sektor riil, artinya pembiayaan harus terhubung langsung dengan aktivitas produktif. Ini mengurangi risiko “gelembung” ekonomi yang sering terjadi di sistem berbasis spekulasi. Selain itu, prinsip bagi hasil (risk sharing) membuat risiko ditanggung bersama, menciptakan hubungan yang lebih sehat antara lembaga keuangan dan pelaku usaha.
Tidak kalah penting, ekonomi syariah menghindari spekulasi berlebihan. Ini membuatnya relatif lebih tahan terhadap gejolak pasar global. Ditambah lagi, instrumen sosial seperti zakat dan wakaf produktif berfungsi sebagai automatic stabilizer—menjaga konsumsi masyarakat bawah tetap berjalan saat ekonomi tertekan.
Artinya, ekonomi syariah bukan sekadar alternatif, tapi bisa jadi sistem penopang ketahanan ekonomi jangka panjang.
Nilai utama Idul Fitri sendiri adalah kembali ke fitrah—keseimbangan antara spiritualitas dan kehidupan sosial. Ini sejalan dengan filosofi ekonomi syariah yang menempatkan kesejahteraan manusia sebagai tujuan utama.
Zakat fitrah adalah contoh paling nyata. Di saat daya beli berpotensi melemah karena tekanan global, mekanisme berbagi justru menjaga konsumsi tetap bergerak. Nilai moderasi konsumsi, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif yang tumbuh selama Lebaran menjadi fondasi penting bagi ekonomi yang adil.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia punya peluang besar menjadikan ekonomi syariah sebagai strategi utama. Momentum Idul Fitri bisa dimanfaatkan untuk mendorong inklusi keuangan syariah, memperkuat pembiayaan UMKM, mengembangkan halal lifestyle, hingga mengoptimalkan wakaf produktif sebagai sumber pembiayaan berkelanjutan.
Langkah ini tidak hanya memperkuat ekonomi domestik, tapi juga meningkatkan kesiapan menghadapi tekanan global.
Akhirnya, Idul Fitri tahun ini mengajarkan satu hal penting: ketahanan ekonomi sejati lahir dari keseimbangan antara nilai moral dan aktivitas ekonomi. Di tengah ketidakpastian dunia, ekonomi syariah menawarkan arah yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Dengan menghidupkan semangat berbagi, keseimbangan, dan tanggung jawab sosial—yang menjadi ruh Idul Fitri—ekonomi syariah bisa menjadi kekuatan strategis untuk menjaga stabilitas sekaligus masa depan ekonomi Indonesia. (*)
Editor : Eri Mardinal