PADEK.JAWAPOS.COM—Ekonomi syariah kerap disebut sebagai masa depan ekonomi Indonesia. Nilai ekonomi halal global yang telah menembus triliunan dolar menunjukkan betapa besar peluang sektor ini. Dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia punya modal kuat untuk menjadi pemain utama. Pemerintah pun telah membentuk berbagai kebijakan dan institusi untuk mempercepat pengembangannya.
Namun, di balik optimisme itu, ada pertanyaan mendasar: apakah sumber daya manusia (SDM) kita benar-benar siap—khususnya di Sumbar?
Secara potensi, Sumbar punya keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah menjadi fondasi nilai yang sangat dekat dengan prinsip ekonomi syariah. Ditambah lagi, dukungan pemerintah daerah dan berbagai inisiatif kolaboratif semakin memperkuat ekosistem yang sedang tumbuh.
Sayangnya, potensi ini belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan nyata. Salah satu tantangan terbesar justru terletak pada kualitas SDM.
Jurang Kompetensi yang Masih Terasa
Permasalahan utama bukan pada jumlah tenaga kerja, melainkan pada kualitas dan kesesuaian kompetensi. Ekonomi syariah membutuhkan dua hal sekaligus: pemahaman mendalam tentang prinsip syariah dan kemampuan profesional di dunia bisnis modern.
Di lapangan, keduanya sering berjalan terpisah. Ada yang kuat secara teori, tetapi belum siap menghadapi dinamika industri. Sebaliknya, ada pula pelaku usaha yang piawai secara bisnis, namun belum sepenuhnya memahami prinsip syariah.
Kesenjangan ini tidak lepas dari dunia pendidikan yang masih cenderung normatif. Banyak lulusan ekonomi syariah memiliki dasar konsep yang baik, tetapi kurang terpapar pada praktik nyata—seperti manajemen bisnis, inovasi, atau pemanfaatan teknologi digital. Akibatnya, terjadi jarak antara dunia kampus dan kebutuhan industri.
Selain kompetensi, tantangan lain terletak pada budaya organisasi. Nilai-nilai seperti amanah, keadilan, dan transparansi memang menjadi fondasi ekonomi syariah. Namun, mengimplementasikannya secara konsisten tidaklah mudah.
Masih ada lembaga yang mengusung label syariah, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan profesionalisme dan tata kelola yang baik. Di titik ini, ekonomi syariah sering terlihat ideal secara konsep, namun belum maksimal dalam praktik. Artinya, tantangannya bukan pada sistem, melainkan pada manusia yang menjalankannya.
Peran Strategis Generasi Muda
Di tengah tantangan tersebut, harapan muncul dari generasi muda—khususnya para pengusaha muda. Di Sumatera Barat, geliat wirausaha berbasis syariah mulai menunjukkan perkembangan positif.
Organisasi seperti HIPMI Syariah menjadi ruang lahirnya pelaku usaha yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga mengedepankan nilai etika dan keberlanjutan. Mereka berada di posisi strategis: memahami dunia modern, akrab dengan teknologi, sekaligus memiliki kesadaran terhadap prinsip syariah.
Kombinasi ini membuka peluang lahirnya model bisnis baru yang lebih relevan dan inovatif. Sektor kuliner halal, pariwisata berbasis budaya, industri kreatif, hingga pemberdayaan UMKM nagari menjadi lahan subur untuk pengembangan ekonomi syariah.
Agar potensi ini tidak berhenti sebagai wacana, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak. Perguruan tinggi harus mulai menjembatani teori dan praktik. Kurikulum perlu lebih adaptif terhadap kebutuhan industri, dilengkapi dengan program magang, riset kolaboratif, dan pembelajaran berbasis kasus nyata.
Di sisi lain, lembaga ekonomi syariah juga perlu serius berinvestasi pada SDM. Pelatihan profesional, penguatan budaya kerja, dan peningkatan kualitas tata kelola harus menjadi prioritas. Tanpa SDM yang kompeten dan berintegritas, sulit berharap ekonomi syariah berkembang optimal.
Akhirnya, masa depan ekonomi syariah tidak hanya ditentukan oleh regulasi atau besarnya pasar. Faktor kunci tetaplah manusia.
Sumatera Barat memiliki modal kuat: nilai budaya, dukungan kebijakan, dan generasi muda yang adaptif. Namun semua itu baru akan berarti jika diiringi dengan kesiapan SDM yang benar-benar mumpuni.
Jika pemerintah, kampus, dunia usaha, dan generasi muda mampu bersinergi, maka ekonomi syariah bukan sekadar konsep ideal, melainkan praktik nyata yang kompetitif dan membawa keberkahan.
Pertanyaannya kini sederhana, tapi krusial: dengan peluang sebesar ini, apakah kita sudah benar-benar siap menjadi pelaku utama—atau masih sekadar penonton? (*)
Editor : Eri Mardinal