Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mentawai Episentrum Wisata Indonesia Barat

Heri Sugiarto • Selasa, 7 April 2026 | 13:39 WIB
M. Zuhrizul, Praktisi Pariwisata Sumatera Barat. (Foto: Dok. Padek)
M. Zuhrizul, Praktisi Pariwisata Sumatera Barat. (Foto: Dok. Padek)

Oleh: M. Zuhrizul, Praktisi Pariwisata Sumatera Barat.

PADEK.JAWAPOS.COM-Perekonomian Sumatera Barat saat ini sedang berada dalam fase yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Sumbar pada tahun 2025 merosot ke angka 3,37 persen, turun signifikan dari 4,37 persen tahun sebelumnya. 

Angka ini menjadi alarm keras bahwa motor penggerak ekonomi tradisional tidak lagi mencukupi, dan sektor pariwisata harus segera diambil alih sebagai solusi fundamental.

Hal ini diperkuat pandangan Bank Indonesia yang sering menyebutkan bahwa Sumbar harus menjadikan sektor pariwisata sebagai mesin utama penggerak ekonomi daerah.

Salah satu kunci kebangkitan pariwisata Sumbar adalah dengan menjadikan Kepulauan Mentawai sebagai episentrum pariwisata Indonesia wilayah barat melalui kehadiran Bandara Internasional.

Kunjungan wisman yang baru mencapai 50.826 orang pada periode Januari-Juli 2025—masih sangat kecil jika dibandingkan dengan potensi riil Sumbar yang sudah mendunia.

Selama ini, aksesibilitas menjadi tembok utama. Wisatawan, terutama para peselancar yang membawa peralatan berat, harus menghadapi kerumitan transit di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) atau ke Kota Padang dulu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Mentawai dengan pesawat perintis atau kapal feri. 

Tanpa akses langsung, biaya perjalanan menjadi sangat mahal dan waktu wisatawan habis terbuang di perjalanan.

Kehadiran bandara internasional dengan kantor imigrasi mandiri akan mengubah Mentawai menjadi destinasi yang kompetitif bagi wisatawan dari berbagai belahan dunia, layaknya Pulau Dewata Bali.

Secara geografis, Mentawai sangat strategis untuk menangkap limpahan wisatawan mancanegara dari Singapura sebagai hub pariwisata Asia dan Eropa.

Dengan biaya yang lebih murah dan jarak tempuh yang lebih dekat dibandingkan ke Bali atau Raja Ampat, Mentawai adalah aset berharga yang belum tergarap maksimal.

Kita bisa berkaca pada Sumatera Utara yang memiliki dua pintu masuk internasional melalui Kualanamu dan Silangit untuk menggerakkan ekonomi regionalnya.

Sumatera Barat tidak boleh lagi terjebak dalam perdebatan normatif sementara pertumbuhan ekonomi terus melambat. Harus bergerak dengan eksekusi ide-ide secara progresif.

Pembangunan bandara internasional di Mentawai bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan investasi strategis nasional yang akan secara otomatis menarik investasi-investasi swasta di sektor perhotelan dan jasa. 

Musrenbang penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Sumbar 2027 bisa jadi momentum yang tepat untuk mewujudkan itu.

Sudah saatnya pemerintah pusat diyakinkan bahwa Mentawai adalah masa depan pariwisata Indonesia di gerbang barat.

Apalagi situasi geopolitik dunia yang sering memanas mendorong wisatawan dunia dan investor mencari destinasi tujuan berlibur dan investasi yang aman dan nyaman.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#Bandara Internasional Mentawai #Ekonomi Sumatera Barat 2026 #Pariwisata Indonesia Barat #M. Zuhrizul Praktisi Pariwisata #Wisata Mentawai