Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Timur Tengah: Api Tak Pernah Padam 

Novitri Selvia • Kamis, 23 April 2026 | 16:09 WIB
Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

Oleh: Shofwan Karim, Pengamat Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar.

PADEK.JAWAPOS.COM-Estimasi terbaru jumlah total penduduk Timur Tengah tahun 2026 sekitar 515,2 juta jiwa, atau sekitar 6,2% dari populasi dunia. Tiga besar populasi itu Mesir (118 juta jiwa), Iran (91,5 juta jiwa), dan Turki (86 juta jiwa).

Di belakangnya, Tunisia, Maroko, Libya, Aljazair, Sudan, Syprus, Irak, Arab Saudi, Yaman, Suriah, Yordania, Uni Emirat Arab, Israel, Lebanon, Palestina, Oman, Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Semuanya membentuk mozaik demografis yang kompleks. 

Khusus regional Negara Teluk, meski berpenduduk relatif kecil, menjadi magnet ekonomi karena tenaga kerja ekspatriat yang menopang pertumbuhan. Qatar dan UAE  misalnya, dengan jumlah penduduk yang kecil, justru menempati peringkat teratas dalam daftar negara terkaya di kawasan pada 2024.

Baca Juga: SKKK Padang Luncurkan Generasi Inspirasi “Aku Remaja Hebat”, 150 Siswa Dibekali Karakter Menuju Generasi Emas 2045

Arab Saudi dengan Mekah dan Madinah epicentrum ibadah kaum Muslimin hampir 2 milyar orang di dunia sangatlah setrategis. Namun Timur Tengah bukan hanya angka dan statistik. Ia adalah istilah yang lahir dari pandangan Barat modern, yang menempatkan Eropa sebagai pusat dunia.

Dari “Timur Dekat” hingga “Timur Tengah”, nomenklatur ini mencerminkan cara pandang geografis, geodemografis, dan  geopolitik yang menakar jarak, bukan hanya kedalaman sejarah.

Kini, kawasan ini mencakup poros Afrika Utara, Jazirah Arab, dan Teluk Persia. Khusus subregional Teluk, menjadi poros energi dunia yang menyumbang sekitar 20% kebutuhan global.

Baca Juga: Perumda AM Padang-RS Hermina jalin Kerja Sama

Tidak mengherankan bila kawasan ini menjadi rebutan multipolar power: Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, China, India, Jepang, Korea hingga Australia dan mungkin Indonesia.

Setidaknya dua puluh negara maju berlomba menancapkan pengaruh. Atau paling tidak menjadi proxy. Di balik perebutan itu semua, Timur Tengah adalah arena benturan peradaban dan ideologi.

Partai Baath dan Ideologi Timur Tengah

Gelombang ideologi modern muncul pasca kolonialisme. Partai Baath, lahir di Suriah dan Irak, mengusung nasionalisme Arab, sosialisme, dan sekularisme. Baath bermakna “kebangkitan”, dengan cita-cita menyatukan bangsa Arab dalam satu negara besar.

Baca Juga: Kasus Chromebook Lombok Timur di PN Mataram, Pembela Klaim Negara Justru Untung Rp1,8 Miliar

Namun dalam praktiknya, Baath sering berubah menjadi otoritarianisme, seperti di bawah Saddam Hussein di Irak dan Hafez al-Assad di Suriah. Selain Baath, ada Ikhwanul Muslimin yang lahir di Mesir pada 1928, membawa ideologi Islam politik dengan cita-cita menegakkan syariat dalam kehidupan bernegara.

Di sisi lain, monarki Sunni di Teluk mempertahankan legitimasi ulil amri, sementara Syiah Iran mengembangkan konsep wilayat al-faqih—kepemimpinan ulama dalam politik. Benturan ideologi ini menjadikan Timur Tengah bukan hanya arena perebutan minyak, tetapi juga perebutan jiwa bangsa.

Revolusi Iran 1979

Salah satu titik balik terbesar adalah Revolusi Iran 1979. Shah Mohammad Reza Pahlevi, simbol modernisasi ala Barat, tumbang oleh gelombang rakyat yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini. Revolusi ini bukan sekadar pergantian rezim, melainkan transformasi ideologi: dari monarki sekuler menjadi republik Islam.

Baca Juga: Inter Miami Benamkan Real Salt Lake 2-0, Dua Gol dalam Satu Menit di MLS 2026

Iran pasca 1979 menjadi poros baru perlawanan terhadap Barat dan Israel, sekaligus inspirasi bagi gerakan Islam politik di seluruh dunia. Revolusi ini menyalakan bara baru, memperkuat polarisasi Sunni–Syiah, dan menjadikan Iran aktor utama dalam geopolitik Timur Tengah hingga kini.

Arab Spring

Tiga dekade setelah Revolusi Iran, dunia Arab diguncang oleh Arab Spring (2010–2012). Dari Tunisia, Mesir, Libya, hingga Suriah, rakyat turun ke jalan menuntut keadilan, demokrasi, dan mengakhiri rezim otoriter.

Di Mesir, Hosni Mubarak tumbang setelah 30 tahun berkuasa. Di Libya, Muammar Qaddafi berakhir tragis. Di Suriah, protes berubah menjadi perang saudara yang masih membara hingga kini.

Baca Juga: Kepala BGN: 402 Unit Dapur MBG Terbentuk, Ungkit Ekonomi Sumbar Pascabencana

Arab Spring menunjukkan bahwa bara Timur Tengah bukan hanya hasil intervensi asing, tetapi juga jeritan rakyat yang haus kebebasan. Namun, harapan itu banyak yang kandas, digantikan oleh kekacauan, perang, dan lahirnya kelompok ekstremis baru.

Israel dan Palestina: Bara Tak Pernah Padam

Api semakin berkobar sejak Deklarasi Balfour 1917 yang membuka jalan bagi berdirinya negara Yahudi. Dengan deklarasi ini Inggris mendukung pendirian “tanah air bagi bangsa Yahudi” di Palestina. Diaspora Yahudi berkonsolidasi selama 31 tahun. 

Pada Mei 1948, Israel diproklamasikan. Presiden ke-33 Amerika Serikat, Harry Truman, menjadi pemimpin dunia pertama yang mengakui Israel sebagai negara, setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaannya pada 14 Mei 1948. Konon, awalnya negara itu diseburt Yahudi, tetapi nota Truman mencoret dan mengganti menjadi Negara Israel. 

Baca Juga: Harga Emas Turun di Asia, Dolar AS Menguat dan Konflik AS-Iran Tekan Pasar

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa Amerika Serikat telah mendukung Israel dari 78 tahun lalu masa  Presiden Truman. Sejak itu, agresi demi agresi mencaplok tanah Palestina, diperkuat kemenangan Israel dalam Perang 1967 dengan sokongan Amerika dan Eropa.

Konflik Israel–Palestina menjadi luka abadi, simbol ketidakadilan global, dan alasan mengapa Timur Tengah terus menjadi ladang api. Ditambah lagi dengan serangan 28 Februari lalu oleh AS dan Israel terhadap Iran dan balasannya. Kepulan asap dan bara kawah api itu semakin menyala.

Kesimpulan

Warisan geopolitik, geoideologi, dan geoekonomi inilah yang menjadikan Timur Tengah sebagai bara abadi. Dari kejayaan Islam klasik, runtuhnya Turki Usmani, lahirnya Partai Baath, Revolusi Iran 1979,  Arab Spring, hingga kini serangan AS dan Israel ke Iran dan perlawanannya, kawasan ini terus menjadi laboratorium sejarah dunia.

Baca Juga: Kasus Chromebook Lombok Timur di PN Mataram, Pembela Klaim Negara Justru Untung Rp1,8 Miliar

Timur Tengah adalah elegi panjang tentang manusia, peradaban, dan perebutan kuasa. Bara yang tak pernah padam, menyala dari sejarah kuno hingga kontemporer. (***)

Editor : Novitri Selvia
#Shofwan Karim #timur tengah #perang iran