Alasan Kita Tetap Membeli Barang yang Sama Sekali Tidak Berfungsi

Ares Albirru Amsal • Dipublikasikan Senin, 27 April 2026 | 11:14 WIB
Keinginan memiliki gaya hidup tertentu dapat membuat seseorang membeli barang yang pada akhirnya jarang atau tidak pernah digunakan. (Fotoilustrasi: Alexa from Pixabay)
Keinginan memiliki gaya hidup tertentu dapat membuat seseorang membeli barang yang pada akhirnya jarang atau tidak pernah digunakan. (Fotoilustrasi: Alexa from Pixabay)

Penulis: Ares Albirru Amsal, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas.

PADEK.JAWAPOS.COM-Cobalah bongkar laci meja atau sudut lemari di rumah Anda saat ini. Kemungkinan besar, Anda akan menemukan setidaknya satu atau dua barang yang sejak pertama kali dibeli sama sekali belum pernah digunakan, atau bahkan tidak memiliki fungsi nyata untuk kehidupan sehari-hari Anda.

Mulai dari alat olahraga instan yang akhirnya hanya menjadi gantungan baju, hingga pernak-pernik dekorasi yang fungsinya hanya mengumpulkan debu. Secara logika, menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak memberikan nilai guna adalah tindakan yang keliru.

Namun, dalam realita perilaku konsumsi masyarakat modern, membeli barang yang tidak berfungsi seperti ini telah menjadi bagian dari kebiasaan yang terus berulang tanpa kita sadari.

Menjual Proyeksi Diri Masa Depan

Secara psikologis, alasan utama mengapa kita sering kali terjebak membeli barang yang tidak berfungsi berakar dari bagaimana cara otak kita memproses sebuah keinginan.

Ketika melihat suatu produk, konsumen sering kali tidak membeli objek fisiknya, melainkan membeli sebuah proyeksi atau imajinasi tentang menjadi siapa mereka di masa depan setelah memiliki barang tersebut. Proses ini melibatkan emosi yang sangat kuat, di mana barang berfungsi sebagai simbol dari gaya hidup ideal yang ingin dicapai.

Sebagai contoh, seseorang membeli sebuah blender canggih berukuran besar bukan karena mereka memiliki waktu untuk membuat jus setiap pagi, melainkan karena saat melihat alat tersebut, otak mereka membayangkan sosok diri mereka yang lebih sehat, teratur, dan modern di masa depan.

Barang tersebut dibeli sebagai jembatan emosional menuju identitas baru yang diinginkan. Ketika barang itu akhirnya tiba di rumah dan realita kesibukan harian tetap sama, fungsi dari alat tersebut mendadak hilang dan menyisakan tumpukan benda mati yang tidak pernah menyentuh kebutuhan riil pemiliknya.

Efek Diderot dan Ilusi Kelengkapan

Faktor lain yang membuat kita terus mengonsumsi barang tak berguna adalah fenomena psikologis yang dikenal dengan istilah efek diderot. Fenomena ini menjelaskan bahwa mendapatkan sebuah barang baru yang berbeda dari kepemilikan kita saat ini sering kali menciptakan pusaran konsumsi baru.

Otak manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk menyukai keselarasan dan kelengkapan visual. Ketika kita membeli satu barang yang estetik, muncul ketidaknyamanan emosional jika barang di sekitarnya tidak terlihat senada.

Akibatnya, kita mulai membeli barang-barang pelengkap lainnya yang sebenarnya sama sekali tidak kita butuhkan atau tidak memiliki fungsi praktis, hanya demi memuaskan rasa haus akan keserasian tersebut. Pola ini terus berputar dan membentuk sebuah siklus kebiasaan belanja yang didorong oleh estetika, bukan utilitas.

Kita mengumpulkan barang demi melengkapi sebuah konsep visual di dalam kepala, hingga akhirnya kita menyadari bahwa lingkungan kita dipenuhi oleh benda-benda pajangan yang kehilangan fungsi esensialnya.

Menyadari Batasan Antara Keinginan dan Fungsi

Memahami sisi psikologis ini memberikan kita pemahaman yang lebih jernih bahwa pasar modern saat ini memang sangat mahir dalam mengemas barang dengan menyasar sisi emosional dan identitas diri kita. Mereka tidak lagi menawarkan apa kegunaan dari produk tersebut, melainkan perasaan apa yang akan kita dapatkan setelah memilikinya.

Jika kita tidak melatih kesadaran kritis, kita akan terus-menerus menukar uang hasil kerja keras kita dengan barang-barang yang hanya memberikan kepuasan semu dalam hitungan jam.

Untuk mengerem kebiasaan impulsif ini, penting bagi kita untuk mulai memisahkan dengan tegas antara identitas yang ingin kita capai dengan fungsi nyata dari barang yang akan dibeli.

Sebelum membawa sebuah barang ke kasir atau menekan tombol konfirmasi pembayaran, biasakan untuk menanyakan secara spesifik kapan, di mana, dan bagaimana barang tersebut akan benar-benar membantu aktivitas harian Anda dalam satu pekan ke depan.

Menghadirkan pertanyaan logis yang kaku ini akan membantu otak kita turun dari awan imajinasi emosional, sehingga kita bisa menghemat isi dompet dari pengeluaran untuk barang-barang yang tidak memiliki fungsi nyata. (*)

Editor : Heri Sugiarto
Belanja Impulsif barang tidak terpakai barang tidak dibutuhkan perilaku konsumtif efek Diderot