Penulis: Assoc. Prof. Dr. Amar Salahuddin, M.Pd
Wakil Rektor III Universitas Dharmas Indonesia
PADEK.JAWAPOS.COM--Setiap 2 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Spanduk terpasang, upacara digelar, dan berbagai seremonial menjadi penanda bahwa pendidikan masih mendapat tempat penting dalam kehidupan berbangsa. Namun, di balik itu semua, pertanyaan mendasar patut kita ajukan: apakah pendidikan benar-benar hidup dalam keseharian kita, atau hanya hadir sebagai rutinitas tahunan yang sarat simbolik?
Momentum ini seharusnya mengingatkan kita pada pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan adalah proses “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Pendidikan, dengan demikian, bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi proses memanusiakan manusia.
Bagi Dharmasraya, Hardiknas tahun ini layak dibaca dengan optimisme. Di bawah kepemimpinan Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani berbagai program unggulan di bidang pendidikan menunjukkan arah yang jelas dan komitmen yang kuat terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan-kebijakan tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi mulai menyentuh aspek kualitas, akses, dan daya saing.
Baca Juga: Dewa United vs Semen Padang FC: Angelo Meneses Tegaskan Misi Selamat dari Degradasi
Kehadiran program Dharmasraya Juara yang berkolaborasi dengan platform pembelajaran digital (Ruang Guru) menjadi langkah visioner dalam membuka akses pembelajaran berbasis STEM yang berkualitas dan gratis. Sains, Coding/ Robotik, English, dan Math, program ini memperluas kesempatan belajar sekaligus menjawab tantangan zaman yang menuntut penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Optimisme itu semakin terasa melalui pelaksanaan Kampung Inggris dalam bentuk pelatihan intensif English Bootcamp. Program ini memberi ruang bagi siswa untuk tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga membangun kepercayaan diri dalam menghadapi dunia global. Di sisi lain, Beasiswa Dharmasraya Prestasi menjadi bentuk penghargaan nyata bagi siswa-siswa yang berjuang dan berprestasi di berbagai level.
Lebih jauh, perhatian terhadap kualitas guru sebagai ujung tombak pendidikan juga patut diapresiasi. Berbagai program pengembangan karier guru terus digulirkan, mulai dari peningkatan kompetensi bahasa Inggris, pelatihan coding dan Artificial Intelligence (AI), hingga pelatihan guru PJOK. Yang tidak kalah inspiratif adalah apresiasi kepada guru dan kepala sekolah berprestasi, inovatif, dan inspiratif yang diberikan penghargaan berupa hadiah umroh. Ini bukan sekadar penghargaan material, tetapi simbol penghormatan terhadap dedikasi dan pengabdian dalam dunia pendidikan.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Payakumbuh Minggu 3 Mei 2026: Cerah Berawan hingga Hujan Ringan
Langkah ini sejalan dengan pemikiran Paulo Freire yang menekankan bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan sekadar mengisi. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi agen perubahan yang mampu membangun kesadaran kritis peserta didik. Bahkan, program bimbingan belajar intensif UTBK bagi siswa terpilih menunjukkan keseriusan dalam menyiapkan generasi yang mampu bersaing di jenjang pendidikan tinggi. Semua ini menunjukkan bahwa Dharmasraya sedang bergerak ke arah yang tepat.
Namun, di tengah berbagai capaian tersebut, Hardiknas seharusnya tidak hanya menjadi ruang apresiasi, melainkan juga ruang refleksi. Sebab pada akhirnya, pendidikan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program yang dijalankan, tetapi oleh sejauh mana ia mampu hidup dan berakar dalam kehidupan masyarakat. Di sinilah pemikiran John Dewey menjadi relevan: pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, melainkan kehidupan itu sendiri. Artinya, pendidikan harus hadir dalam praktik sehari-hari, bukan hanya dalam kebijakan formal.
Pertanyaan penting pun muncul: apakah pendidikan di Dharmasraya sudah menjadi gerakan bersama, atau masih sebatas program yang berjalan secara struktural? Tanpa disadari, pendidikan sering kali terjebak dalam pendekatan administratif, terukur, terlaporkan, tetapi belum tentu terasa. Padahal, esensi pendidikan justru terletak pada bagaimana ia membentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara manusia memaknai kehidupan.
Baca Juga: Balapan Liar Resahkan Warga Pulau Punjung Dharmasraya, Digelar Dekat Kantor Bupati
Dalam perspektif nilai keislaman, pendidikan memiliki posisi yang sangat luhur. Wahyu pertama dalam Al Quran dimulai dengan perintah “Iqra” (bacalah), sebagaimana termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1. Ini menunjukkan bahwa membaca, belajar, dan mencari ilmu adalah fondasi utama peradaban. Bahkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Nilai ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi juga panggilan spiritual.
Dalam konteks ini, peran masyarakat menjadi sangat penting. Pendidikan tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah dan pemerintah. Ia harus hidup di rumah, di lingkungan, dan di ruang-ruang komunitas. Salah satu contoh nyata dari gerakan tersebut dapat dilihat pada kehadiran Rumah Baca Marenda di Dharmasraya. Ruang ini tidak sekadar menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kesadaran, diskusi, dan interaksi literasi di tengah masyarakat. Rumah Baca Marenda menunjukkan bahwa pendidikan bisa hidup dari bawah, tumbuh dari kepedulian, dan bergerak dari kesadaran bersama.
Oleh karena itu, program unggulan yang telah ada perlu terus diperluas maknanya. Ia tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi juga harus mampu menginspirasi gerakan masyarakat. Program harus menjadi pemantik, bukan tujuan akhir. Ia harus melahirkan partisipasi, bukan sekadar penerimaan.
Baca Juga: 198 Calon Jamaah Haji Kabupaten Solok Resmi Dilepas ke Tanah Suci Tahun 2026
Hardiknas adalah momentum yang tepat untuk mempertemukan semua kekuatan itu: pemerintah, sekolah, guru, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat luas. Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan kolaborasi, sinergi, dan kesadaran bersama.
Lebih jauh lagi, pendidikan harus kembali pada tujuan utamanya: memanusiakan manusia. Di tengah arus digitalisasi dan kompetisi global, pendidikan tidak boleh kehilangan arah. Ia tidak hanya mencetak siswa yang cerdas, tetapi juga manusia yang berkarakter dan beradab. Di sinilah peran intelektual menjadi penting. Guru, dosen, dan kaum terdidik bukan hanya pengajar, tetapi penjaga nilai. Mereka memastikan bahwa pendidikan tetap berada pada jalurnya, membangun manusia, bukan sekadar menghasilkan lulusan.
Akhirnya, Hardiknas bukan sekadar peringatan, tetapi panggilan. Panggilan untuk merefleksikan arah pendidikan, memperkuat yang sudah baik, dan menghidupkan kesadaran bersama. Dharmasraya telah memiliki fondasi yang kuat melalui berbagai program unggulan.
Baca Juga: Mentan Amran Tegaskan Swasembada Berbasis Data Global di Mubes IKA UNHAS
Kini, tantangannya adalah bagaimana menjadikan semua itu sebagai gerakan kolektif yang hidup dan berkelanjutan. Sebab pendidikan yang sejati tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi dari kesadaran. Dan ketika kesadaran itu tumbuh, di sanalah masa depan benar-benar sedang dibangun. (*)
Editor : Adetio Purtama